0


Syekhunal Mukarrom adalah sebutan bagi Al-Habib Abah Umar bin Isma’il bin Yahya, beliau lahir di Arjawinangun pada bulan Rabiul Awal 1298 H atau 22 Juni 1888 M.

Ayahnya adalah seorang da’i asal dari Hadromaut yang menyebarkan islam dinusantara yang bernama Al-Habib Syarif Isma’il bin Yahya, sedangkan ibunya adalah Siti Suniah binti H. Sidiq asli arjawinangun.

Diceritakan sewaktu beliau lahir sekujur tubuhnya penuh dengan tulisan arab (tulisan aurod dari syahadat sampai akhir), sehingga sang ayah Syarif Isma’il merasa hawatir akan menjadi fitnah. Maka beliaupun menciuminya terus setiap hari sambil membacakan sholawat hingga akhirnya tulisan-tulisan tersebutpun hilang.

Meninjak ke usia 7 tahun nan, Al-Habib Abah Umar nyantri ke pondok pesantren Ciwedus Kuningan. Sebelum Abah Umar berangkat mesantren ke ciwedus, KH. Ahmad Saubar sebagai pengasuh pesantren ciwedus mengumumkan kepada para santrinya bahwa pesantrennya akan kedatangan Habib agung, sehingga para santrinya diperintahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren sebagai penyambutan selamat datang bagi habib yang sebentar lagi tiba. Kiai juga berpesan agar Habib dihormati, dimuliakan, dan jangan dipersalahkan.

Hingga pada waktu yang ditunggu datanglah Al-Habib Abah Umar ke pesantren ciwedus dalam usianya yang ke 7 tahun, para santripun geger, bingung, dan keder karena ternyata yang datang hanyalah seorang anak kecil.

Diceritakan bahwa Abah Umar diciwedus selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh KH. Ahmad Saubar baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah, namun disana Abah Umar hanya tidur-tiduran bahkan pulas disamping kiai, sehingga para santri pun mencibir/mencemooh.

Abah Umar menunjukkan khowariknya dengan mengingatkan KH. Ahmad Saubar ketika dalam membaca kitabnya ada kesalahan, begitupun para santri yang deres di kamar pun selalu diluruskan oleh Abah Umar, dengan kejadian tersebut para santri hormat dan memuliakan.
Setelah beberapa waktu mesantren diciwedus KH. Ahmad Saubar memohon kepada Abah Umar untuk diajarkan Ilmu Syahadat sesuai dengan pesan dari gurunya Embah Kholil Madura. Akhirnya KH. Ahmad Saubar mengumpulkan para santrinya untuk di bai’at syahadat oleh Abah Umar, yang didalamnya hadir K. Soheh Bondan Indramayu sebagai santri dewasa yang ikut bai’at syahadat.
Selang beberapa waktu sekitar dua tahunan Abah Umar pindah ke pesantren Bobos dibawah asuhan KH. Syuja’i, dari pondok bobos selanjutnya pindah ke pondok Buntet dibawah asuhan KH. Abbas. Dibuntet Abah Umar bertingkahnya sama seperti waktu di ciwedus, tidak mengaji hanya bermain dibawah meja kiai yang sedang mengajar ngaji, sesekali apabila kiainya ada kesalahan maka dipukullah meja kiai tersebut dari bawah meja sehingga kiainya sadar bahwa yang diajarkannya ada yang salah, tidak berselang lama kiai pun meminta untuk diajarkan syahadat.
Setelah dari pondok buntet Abah Umar berpindah lagi ke pesantren Majalengka dibawah asuhan KH. Anwar dan KH. Abdul Halim, dipesantren inilah Abah Umar menghabiskan waktu selama 5 tahunan.
Sesampainya Abah Umar dirumah, beliau menghimpun sebuah pengajian di panguragan yang dikenal dengan sebutan “Pengajian Abah Umar” atau dalam wacana para santrinya lebih dikenal dengan sebutan “Buka Syahadat atau Ngaji Syahadat”, sebab beliau menyampaikan Hakekat Syahadat dari Syarif Hidayatullah.

Ngaji Syahadat nya Abah Umar pun terdengar keseluruh peloksok negeri bahkan sampai ke Malaysia, sehingga banyak orang yang datang untuk mencari slamet dunya akherat dengan Itba’ dan bai’at kepada Abah Umar. Karena disaat itu sudah banyak yang menunggu pembukaan syahadat tersebut, mereka yang menunggu adalah orang-orang yang mendapat pesan dari para guru dan orang tua yang ma’rifat.
Dengan demikian, dalam waktu yang singkat semakin ramailah pengajian Abah Umar tersebut baik itu yang kalong maupun yang mukim. Setiap malam jum’at, panguragan dihadiri oleh para jamaah yang ingin ngaji syahadat.
Bahkan menurut berita dari orangtua dulu ketika belanda melewati panguragan mereka berkumandang “Mawlana ya Mawlana…..” dengan hidmatnya (terpengaruh oleh karomatnya Abah Umar).
Pada Tahun 1947 Abah Umar membentuk pengajiannya menjadi sebuah nama organisasi Asy-Syahadatain dengan mendapatkan izin dari presiden Soekarno, karena disaat itu setiap perkumpulan dengan banyak orang tanpa adanya organisasi yang jelas maka dapat dikategorikan sebagai usaha pemberontakan dan dapat mengganggu ketahanan nasional. Setelah itu, Asy-Syahadatain semakin besar dan ramai yang para jamaahnya menyebar sampai manca Negara.
Karena semakin ramai, maka para kiai jawa (yang tidak senang) mendengar kepesatan Asy-syahadatain, sehingga mereka hawatir para santrinya akan terbawa oleh Abah Umar, sehingga para kiai tersebut berkumpul untuk menyatakan bahwa ajaran Abah Umar adalah sesat. Akhirnya Abah Umar disidang dipengadilan Agama yang dikuasai para kiai tersebut pada saat itu, dalam pengadilanpun Abah Umar ditetapkan bersalah dengan tidak ada pembelaan dan penjelasan apapun. Akhirnya Abah Umarpun dipenjara bersama beberapa murid-muridnya termasuk KH. Idris Anwar selama 3 bulan, namun belum genap tiga bulan Abah Umar sudah dibebaskan karena sipirnya banyak yang bai’at syahadat kepada Abah Umar.
Pada tahun 1950 pertama kalinya Abah Umar menyelenggarakan tawassulan, dan pada malam itu pula Abah Umar kedatangan beberapa tamu agung, hal inipun dengan izin Allah dapat disaksikan secara batin oleh beberapa santri sahabat yang diantaranya adalah KH. Soleh bin KH. Zaenal Asyiqin.
Para tamu tersebut adalah Kanjeng Nabi Muhammad saw. beliau hadir dalam acara tawassul tersebut secara Bathiniyah dan memberikan title/gelar/derajat kepada Abah Umar yaitu Syekh Hadi, diiringi pula oleh malaikat jibril dan memberinya gelar Syekh Alim. Kemudian disusul Siti Khodijah memberi gelar Syekh Khobir, Siti Fatimah Azzahra memberi gelar Syekh Mubin, Sayyidina Ali memberi gelar Syekh Wali, Syekh Abdul Qodir memberi gelar Syekh Hamid, Syarif Hidayatullah Gunung Jati memberi gelar Syekh Qowim, dan yang terakhir Nyi Mas Ayu Gandasari datang dengan memberi gelar Abah Umar sebagai Syekh Hafidz.
Dengan kejadian tersebut, menurut KH. Soleh sebagai malam pelantikan dinobatkannya Al-Habib Abah Umar sebagai Wali Kholifaturrosul Shohibuzzaman. Sehingga perkembangan wiridnya pun semakin hari semakin bertambah sesuai dengan yang diwahyukan oleh Allah.


Pada tahun 1953 pertama kalinya Abah Umar mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di panguragan (Muludan), dengan dihadiri oleh Jamaah Asy-syahadatain sampai mancanegara.
Sebagai seorang guru syahadat Abah Umar banyak menuntun para murid/santrinya untuk beribadah dan berdzikir (wirid) dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Disamping beribadah, wirid, dan tafakkur (ngaji rasa), Abah Umarpun tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmaniyah. Beliau bertani, berkebun, dan beternak kambing.


Pada tahun 1960 an Jamaah Asy-Syahadatain dibekukan pemerintah karena dianggap meresahkan masyarakat, alasan pembekuan tersebut hanya didasarkan pada dugaan dan laporan seseorang yang menjabat bahwa tuntunan tawassul Abah Umar dianggap menyesatkan.
Dan setelah adanya perundingan antara para ulama se-nusantara dengan para ulama Jamaah Asy-Syahadatain, akhirnya disepakati untuk membuka kembali Jamaah Asy-Syahadatain karena menurut kesepakatan para ulama disaat itu tidak ada satu tuntunanpun yang dianggap sesat dari semua tuntunan Abah Umar tesebut. Dan pada tahun 1971 Jamaah Asy-Syahadatain bergabung dengan Golkar melalui GUPPI dalam rangka ikut membangun kesejahteraan Negara.
Pada tahun 1973 an Masjid Abah Umar kedatangan khodim baru yang bernama Mar’i, ia yang menjadi pelayan didalam lotengnya Abah. Pada suatu hari ia mengambil pentungan kentong masjid dan memukulkannya kepada Sirah Abah Umar sehingga Abah Umarpun pingsan dan dibawa kerumah sakit dibandung untuk dirawat.
Dirumah sakit abah sempat dawuh/membaca ayat Al-quran

Dengan dawuhnya Abah Umar tersebut, para kiai yang menyaksikannya pada bersedih, karena itu merupakan pertanda Abah Umar akan Kesah (pergi). Akhirnya tidak berselang lama Abah Umar wafat pada tanggal 13 Rajab 1393 H atau 20 Agustus 1973 M.sumber :mencari ridho Allah

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Setelah satu tahun lamanya Cakrabuana pulang ke Cirebon dengan diberi nama oleh Syekh Bayan adalah Bayanullah, Syekh Abdullah pun memberi nama Abdullah Iman. Dalam perjalanannya menuju Cirebon, Cakrabuana mampir di Aceh sebulan lamanya, kemudian mampir di Palembang selama tiga bulan.

Tidak berapa lama kemudian Cakrabuana mempunyai bayi perempuan di beri nama Ratu Mas Pakungwati, kemudian Ki Kuwu Cakrabuana membangun Kraton Pakungwati, tak lama berselang KI Kuwu mempunyai bayi laki-laki bernama Pangeran Cerbon.

Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan dan Syarifah Mudaim/ Nyi Rarasantang berziarah ke Mekah dan ke makam Nabi Muhammad SAW dalam usia kandungannya yang ke tujuh bulan. Tidak berapa lama kemudian Syarifah Mudaim melahirkan bayi laki-laki yang elok sekali , cahayanya meredupkan cahaya matahari pada tanggal 12 mulud ba’da shubuh, bayi tersebut langsung dibawa thawaf oleh Kanjeng Sultan dan diberi nama Syarif Hidayatullah denga disaksikan oleh para ulama dan para mukmin.

Syarifah Mudaim mengandung lagi berapa tahun kemudian dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Syarif Nurullah. Tak lama berselang Kanjeng Sultan wafat dan kerajaan Mesir dipimpin oleh Patih Jamaludin sebagai wakil karena Syarif Hidayatullah masih kecil.

Diceritakan setelah Syarif Hidayatullah beranjak dewasa, beliau sangat ingin berguru kepada Kanjeng Nabi Muhammad walaupun pada saat itu pada dzohirnya Kanjeng Nabi telah wafat. Karena tidak tahan dengan rasa rindunya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, Syarif Hidayatullah meminta izin kepada ibunya untuk mencari Kanjeng Nabi dan diizinkan oleh ibunya.

Dalam perjalanannya Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nagasaka yang memberi petunjuk untuk pergi ke makam Nabi Sulaiman di pulau Majeti. Sebelum sampai beliau bertemu dengan Pendeta Ampini, yang mengajak bersama-sama menuju Majeti. Sesampainya disana Syarif Hidayatullah hatur hormat, namun Pendeta Ampini malah mencari cincin Nabi Sulaiman, sehingga datanglah petir menyambar Pendeta karena memikirkan keduniaan. Dan Syekh Syarif terlempar ke puncak Gunung, segera Syekh Syarif bertobat karena telah menemani orang yang berlaku durjana.

Setelah bertobat Syekh Syarif bertemu dengan Pertapa yang disampingnya terdapat kendi pertula. Syekh Syarif berkata, “Hai Pertapa kendi itu milik siapa? Saya ingin minum.” Pertapa menjawab, “Wallahu a’lam tatkala saya mulai bertapa kendi itu sudah ada.” Syekh Syarif berkata , “Hai Kendi pertula milik siapa engkau? Saya ingin minum. ” Kendi itu menjawab, “saya berasal dari surga, turun pada masa Nabi Nuh, saya adalah milik tuan. ” Kendi diminum airnya tidak sampai habis lalu di letakan. Kendi segera berucap, “Tuan akan menjadi raja seketurunan akan tetapi tidak selamanya akan direbut hingga terjajah.” Kendi lalu diminum lagi hingga habis . Kendi berkata,”Selanjutnya negeri tuan abadi tidak terjajah, saya kelak akn mengabdi kala tuan menjadi raja.”Lalu kendi segera terbang ke angkasa.

Kemudian Syekh Syarif melanjutkan perjalanannya dengan di hadang berbagai godaan dunia.Tak lama kemudian Syekh Syarif dilanda gelap gulita hingga sengsara. Kemudian datanglah Nabi Ilyas memberi petunjuk untuk naik ke bukit menemui penunggang kuda, sesampainya disana bertemu dengan penunggang kuda yaitu Nabi Chidir dan Syeh Syarif pun diajak untuk naik kuda dan diantarkan naik keatas sampai di negeri ajrak. Di Negri Ajrak Syeh Syarif masuk kedalam masjid Mirawulung dan bertemu arwah para Syuhada dan para mukmin.Syekh Syarif bertafakur hingga diridhoi Allah untuk naik ke langit tujuh dan bertemu dengan Rosulullah.

Setelah sowan ke Kanjeng Nabi Muhammad , Syekh Syarif pulang ke negri Mesir menemui Ibunda Rarasantang . Beberapa lama di Mesir kemudian Syekh Syarif menunaikan ibadah haji, sepulang berhaji beliau diangkat menjadi Sultan Mesir Maulana Mahmud.

Setelah beberapa waktu Ibunda Rarasantang memerintahkan kepada Syekh Syarif untuk pergi ke tanah Jawa menemui Ki KUwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif mematuhinya dan kesultanan diserahkan kepada Syarif Nurullah.

Sesampainya di Cirebon , Syekh Syarif sowan ke Syekh Nurjati kemudian ke Sunan Ampel untuk mendapat wejangan-wejangan dengan diantar oleh Ki Kuwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif kemudian dinikahkan dengan Putri Ki Kuwu CAkrabuana, Nyi mas Pakungwati.

Setelah itu barulah Syeh Syarif menyebarkan Agama Islam ditatar pasundan, Cirebon dan sekitarnya sampai ke tanah China, India dll.

Suatu hari KIKuwu cakrabuana dan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati bermufakat untuk menghadap Prabu Siliwangi untuk mengajaknya masuk Islam.

Di ceritakan di kraton Pajajaran Prabu Siliwangi dan pengiringnya hendak bertolak ke Cirebon meninjau cucunya Kanjeng Sinuhun, tidak lama kemudian Ki Buyut Talibarat menjumpai Sang Prabu dan mempengaruhinya untuk tidak masuk Islam , sehingga Sang Prabu pun merobah Kratonnya menjadi hutan dan seluruh pengiringnya menghilang dikarenakan tidak mau masuk Islam dan sudah mengetahui Kanjeng Sinuhun akan datang .

Tidak berapa lama kemudian datanglah Kanjeng Sinuhun dengan Ki Kuwu Cakrabuana, mendapati kraton telah berubah menjadi hutan, namun beliau masih dapat melihat kraton Pajajaran seperti semula, lalu masuk dan mengislamkan sebagian penghuninya yang masih ada, namun tidak didapatinya Sang Prabu.

Setelah beberapa waktu kemudian Kanjeng Sinuhun memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan Prabu Siliwangi, namun didapatinya telah menjadi macan/harimau. Kanjeng Sinuhun tetap mengajak Sang Prabu masuk Islam, dan akhirnya dengan berbagai macam usaha Sang Prabu pun mengikuti agama Islam dan tetap menjadi macan yang akan melindungi keturunan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati.

(sumber : Mencari Ridho Allah, Abdul Hakim M)

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Diceritakan datanglah seorang mubaligh dari Baghdad ke Nusantara yang bernama Syekh Idhofi/Syekh Datul Kahfi / Syekh Nurjati bersama adik perempuannya yang bernama Nyai Mas Ratu Subanglarang, mereka berdua singgah di Gunung Jati. Nyi Mas Ratu Subanglarang pun diperistri oleh Raja Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata wisesa Sri Maha Prabu Siliwangi atas dasar istikhoroh dan petunjuk dari Allah. Sri Maha Prabu Siliwangi memiliki tiga orang istri dan empat puluh anak.

Pada suatu hari Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif (petunjuk dari Allah) untuk mengikuti Sang Prabu berburu ke hutan. Walaupun Sang Prabu menolak akhirnya Nyi Mas Ratu Subanglarang pun tetap ikut dalam rombongan Sang Prabu berburu ke hutan.

Sesampainya di hutan mereka menemukan seorang bayi laki-laki dengan posisi nyungsang diatas rerumputan, maka bayi laki-laki tersebut diangkat menjadi anak Prabu Siliwangi atas keinginan Nyi Mas Ratu Subanglarang dengan diberi nama Walangsungsang (Embah Kuwu Sangkan Pangeran Cakrabuana).

Dan beberapa selang waktu kemudian , Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif yang sama . Sesampainya dihutan bersama rombongan Prabu Siliwangi, beliau menjumpai petani yang sedang menanam terong dan saat rombongan kembali dari berburu dengan idjin Allah terong-terong tersebut telah waktunya panen, sehingga Nyi Mas Ratu Subanglarang pun memetik satu buah lalu dimakannya terong tersebut. Sesampainya di kraton Nyi Mas Ratu Subanglarang pun akhirnya hamil, sang Prabu Siliwangi sangat bahagia , dan dari kehamilan tersebut lahirlah seorang bayi perempuan yang bernama Nyi mas Dewi Rarasantang.

Pada usianya yang telah menginjak dewasa Walangsungsang bermimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sehingga Walangsungsang memohon restu dari sang Prabu Siliwangi untuk mempelajari agama Islam. Sang Prabu pun marah besar dan Walangsungsang pun akhirnya di usir dari Kraton Pajajaran.

Mengetahui kakaknya diusir, Nyi Rarasantang pun menyusul kakaknya keluar dari Kraton Pajajaran. Sri Maha Prabu Siliwangi kebingungan karena putrinya hilang, sehingga mengerahkan semua pasukannya untuk mencari sang putri Nyi Rarasantang, namun tak di temukan.

Diceritakan Walangsungsang tiba di Gunung Maraapi (Rajadesa Ciamis Timur) bertemu dengan Sanghyang Danuwarsih (Ki kuwu Cirebon Girang) dengan mengutarakan maksud kedatangannya mencari Guru Syahadat, namun tidak disanggupinya malah menikahkan dengan putrinya yang bernama Nyi mas Endang Geulis.

Sedangkan Nyi Rarasantang berada di Gunung Tangkuban Parahu, ia bertemu dengan Nyi Endang Sukati serta memohon bantuan untuk dipertemukan dengan kakaknya, namun Nyi Endang Sukati hanya dapat memberikan kesaktian dan petunjuk untuk menemui Ki Ajar Sakti di Gunung Liwung.

Nyi Rarasantang pun bertemu dengan Ki Ajar Sakti, beliau memberitahukan bahwa kakaknya Walangsungsang telah beristri di Gunung Maraapi dan Nyi Rarasantang pun diberi nama Ratna Eling yang kelak akan mempunyai putra yang punjul sebuana. Tidak berapa lama akhirnya kakak adik tersebut bertemu di Gunung Maraapi.

Setelah sebulan lamanya di Gunung Maraapi , Walangsungsang Nyi Rarasantang, Nyi mas Endang Geulis melanjutkan perjalanannya mencari Guru Syahadat. Nyi mas Endang Geulis dan Nyi Rarasantang pun di masukan kedalam cincin ampal yang dipakai Walansungsang agar perjalanannya lebih mudah.

Di gunung Ciangkup mereka bertemu dengan Sanghyang Nango, namun ia tidak bisa mengajarkan Ilmu Syahadat dan mereka hanya diajarkan ilmu kanuragan. Selanjutnya di Gunung Kumbang mereka bertemu Sanghyang Naga, di Gunung Cangak mereka bertemu Sang Pendeta Luhung. Namun mereka belum juga menemukan guru yang mereka cari.

Akhirnya mereka bertiga menuju Gunung Jati dihadapan Syekh Nurjati mereka mengemukakan tujuannya. Syekh Nurjati segera memberikan wejangan Ilmu Syahadat Syariat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Walangsungsang diberi nama Shomadullah dan di ijinkan membangun sebuah dukuh, dan bertemulah dengan Ki Gedeng Alang Alang di Lemah Wungkup, Ki Gedeng Alang Alang memberinya nama Cakrabumi di situlah Walangsungsang membangun sebuah dukuh yaitu dukuh Cirebon. Dinamakan Cirebon karena dukuh yang dibangun oleh Cakrabumi menjadi terkenal karena terasi (Grage) nya yang dibuat oleh Cakrabumi, yang pembuatannya dari Rebon (Udang kecil) dan air perasannya dibuat petis (cai rebon/ air udang).

Ketenaran terasi tersebut sampai ke kraton Rajagaluh, sehingga dukuh Cirebon harus membayar upeti berupa terasi gelondongan ke kerajaan Rajagaluh, dan diangkatlah Ki Gedeng Alang Alang sebagai Kuwu dan setelah meninggalnya jabatan kuwu diserahkan kepada Cakrabumi dengan gelar Kuwu Cerbon Cakrabuana.

Setelah sekian waktu Cakrabuana diperintahkan oleh Syekh Nurjati untuk bai’at tabaruk kepada Syekh Maulana Ibrahim di Negara Campa. Cakrabuana mendapatkan perintah dari Syekh Maulana Ibrahim untuk menunaikan ibadah haji dengan membawa surat untuk Syekh Bayan dan Syekh Abdullah di Mekah.

Cakrabuana mematuhi perintah sang guru, mohon pamit meneruskan perjalanan menuju Mekkah dengan menaiki Mancung bersama adiknya Nyi Rarasantang. Sesampainya di Mekah menghadap Syekh Bayan dan Syekh Abdullah menyampaikan surat dari Syekh Maulana Ibrahim.

Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan Maulana Mahmud Syarif Abdullah sedang bermuram durja karena ditinggal sang permaisuri, siang dan malam berdzikir kepada Allah untuk mendapat kasih sayang-Nya . Pada saat tafakurnya Kanjeng Sultan mendapat petunjuk dari Allah bahwa jodohnya ada di Mekah. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus patihnya untuk mencari seorang perempuan yang pantas untuk jadi permaisuri.

Tidak berapa lama mereka melihat seorang perempuan yang cantik sekali melebihi lainnya yaitu Nyi Rarasantang, lalu dikuntitnya sampai bertemu di rumah Syeh Bayan. Perihal Kanjeng Sultan disampaikannya kepada Nyi Rarasantang. Nyi Rarasantang dan Cakrabuana ikut ki Patih ke Mesir menghadap Kanjeng Sultan Mesir dan mereka pun ditempatkan di rumah Ki Penghulu Jamaludin.

Kanjeng Sultan bertemu dengan Nyi Rarasantang di masjid Tursina, beliau sangat setuju sekali mirip dengan permaisurinya yang telah meninggal. Segera Nyi Rarasantang dilamarnya, namun Nyi Rarasantang meminta maskawin putra laki-laki Waliyullah yang punjul sebuana, permintaan tersebut disanggupi oleh Kanjeng Sultan atas kehendak dan petunjuk dari Allah. Akhirnya Nyi Rarasantang menikah dengan Kanjeng Sultan Syarif Abdullah dan diberi nama Hj. Syarifah muda-im.

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Disebutkan bahwa zaman akhir dibagi kedalam 7 zaman, dan pada setiap zamannya terdapat shohibuzzaman , yaitu :

Zaman Nur,adalah zaman cahaya/penerang dari zaman kegelapan/jahiliyah. Shohibuzzamannya adalah Kanjeng Rosulullah Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin para nabi, rosul, dan para wali yang tidak ada Nabi sesudahnya melainkan para wali . Pendampingnya adalah Syekh Ahmad ar-rifai, dan ada yg berpendapat pendampingnya adalah Sayyidina Ali KW.

Zaman Mubin, adalah zaman penjelas dimana para habib dibunuh mati , artinya sudah jelas dapat dibedakan antara golongan ahli surga yang cinta kepada keluarga Nabi dan ahli neraka yang tidak mencintai keluarga Nabi.
Shohibuzzamannya adalah Syekh Al-Imam Ali Zaenal Abidin bin Sayyid Husen bin Fatimah Az-zahro, Beliau sebagai Sulthonul Awliya Qutburrobbani Kholifaturrosul pertama , pendampingnya adalah Syekh Ahmad Baidlawi.

Zaman Musthofa, adalah zaman pilihan , Shohibuzzamannya adalah Syekh Al-Iman Ja’far Shodiq bin Muhamad al Baqir bin Syeh Ali Zaenal Abidin, pendampingnya adalah Syekh Ahmad Ash-Shodiq.
Zaman ‘Alim , adalah zamannya ilmu pengetahuan, disaat itu ilmu pengetahuan sedang dalam puncak keemasannya, baik dari golongan ummat Islam maupun dari golongan kaum barat. Shohibuzzamannya adalah Syekh Sayyid Hasan Asy-Syazali. Pendampingnya adalah Syekh Ma’abulma’al dan menurut qoul lain pendampingnya Syekh Abu Yazid Busthomi.

Zaman Bathin adalah zamannya ilmu bathin/eling Allah, syetan Iblis pada hancur kalah dalam peperangan melawan hatinya orang mukmin. Shohibuzzamannya adalah Sulthanul Awliya Qutburrobbani Syekh Abdul Qadir Jaelani dan menurut qoul lain Shohibuzzamannya adalah Sayyid Yahya, pendampingnya Syekh Ahmad Mafakhir.
Zaman Dzohir adalah zamannya ilmu dzohir/ kedigjayaan banyak orang sakti dan digjaya. Shohibuzzamannya adalah Kanjeng Gusti sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah Gunung Jati, pendampingnya adalah Syekh Muhyi Pamijahan.

Zaman Muhsin, adalah zaman pemberesan / pembersihan hati dan pelurusan amal dan akhlak, karena pada zaman ini banyaknya kemunafikan kemusyrikan kemurtadan takabur dan semacamnya. Shohibuzzamannya adalah Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah Kebon Melati Sayyidi syekhunal Mukarom Abah Umar bin Ismail bin Yahya, pendampingnya adalah Al=Habib Ahmad Nuril Mubin Jenun.
Abu Hasan Asy-syadzali memberikan lima patokan sebagai syarat menjadi murid sang kholifah rosul yaitu :

Bertaqwa kepada Allah SWT baik dalam keadaan sunyi maupun dalam keadaan ramai.
Mengikuti sunnah Rosulullah SAW baik yang berkaitan dengan ucapan maupun perbuatan.
Menjauhkan diri dari Orang (Khalwat) maksudnya tidak cinta pada keduniaan.
Ridha kepada Allah SWT baik dalam keadaan memiliki sedikit harta maupun banyak.
Senantiasa kembali kepada Allah SWT (mengingat-Nya) baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sulit.
(sumber: Mencari Ridho Allah, Abdul Hakim M)

SABILUL KHOYROT

Syahadat menjadi tempate badan rohani

Sholawat Tunjina menjadi pakaian badan rohani

Ya Kafi Ya Mubin Ya Kafi Ya Mughni menjadi panganane/makanan badan rohani

Ya Fattah Ya Rozzak Ya Rohman Ya Rohim menjadi panganane badan jasmani

Inna Fatahna, menjadi tunggangane/kendaraan badan rohani

Sholat Dhuha menjadi gudang makanan badan jasmani

Sholat Tahajjud menjadi gudang makanan badan rohani

Ya Hayyu ya qoyyum ya hannan ya hannan ya mannan ya mannan ya dayyan ya burhan ya sulthon la ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin, menjadi jalan badan rohani

La ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin, menjadi Hudan Kenikmatan jasmani rohani

Ya Rosulullah hi jiina, menjadi penjaga jalan lalu lintas badan rohani

Allah memberikan asma kepada makhluknya yang berakal 4000 asma

2000 asma untuk kanjeng Nabi Muhammad, pengamalannya cukup dengan membaca 8 Asma saja yaitu Ya Hadi Ya Alim Ya Khobir Ya Mubin Ya Wali Ya Hamid Ya Qowim Ya Hafidz

1000 asma untuk kanjeng Syekh Abdul Qodir Jaelani, pengamalannya cukup dengan membaca 4 asma yaitu Ya Hadi Ya Alim Ya Khobir Ya Mubin

900 asma untuk para nabi, pengamalannya cukup dengan bertawassul kepada 25 nabi

90 asma untuk para malaikat, pengamalannya cukup dengan bertawassul kepada 10 malaikat

9 asma untuk para wali, pengamalannya dengan cara bertawassul kepada para wali

1 asma untuk para mukmin sejagat, pengamalannya dengan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dengan mudzakaroh (eling Allah).


Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain
Awal « 1 » Akhir
Profile

berusaha memperbaiki diri dan berharap syafaat para pemberi syafaat More About me

Page
Tag

    Sedia DVD ROSETTA STONE/SOFTWARE BELAJAR MULTI BAHASA cuma Rp15.000/DVD hubungi 081324405889! maaf sedang di Brunei

    Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

    Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

    Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan."(QS. Thoha:124-126)

    “Ya Allah , sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan dari azab neraka ,dari fitnah kehidupan dan setelah kematian dan dari buruknya fitnah Dajjal.(HR. Bukhori -Muslim)”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan hutang dan orang yang menindas(ku)(HR. Bukhori). ”

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 637.927 kali


connect with ABATASA