0
Dikirim pada 20 Agustus 2012 di asysyahadatain

Kemaksuman dan Wahyu bagi Guru Mursyid

Kemaksuman adalah kualitas bathin akibat pengendalian diri yang memancar dari sumber keyakinan, ketakwaan dan wawasan yang luas. Sifat bathin yang sangat kuat ini begitu efektif sehingga mampu menghalangi manusia untuk melakukan semua jenis dosa  atau pemberontakan, baik besar maupun kecil, baik tersembunyi maupun terbuka.

Maka dapat kita katakan bahwa faktor-faktor yang mengarahkan kepada pengingkaran dan dosa tidak memiliki efek pada orang seperti  itu, sehingga maksum disini lebih menekankan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih dan berbuat, tapi ia dicegah untuk mendekati wilayah dosa oleh kesadaran dari sifat agungnya dan hadirnya Allah secara terus-menerus.

Umumnya melakukan dosa adalah akibat dari tidak mengetahui buruknya perbuatan tersebut dan konsekuensinya atau orang sadar akan buruknya , dan keyakinannya memperingatkan dan menasehati akan bahayanya perbuatan itu, namun ia terus ditopang oleh keinginannya (nafsu/angan)sampai kehilangan semua diri, sehingga jatuh dalam perbuatan dosa. Sehingga diperlukannya perhatian terhadap konsekuensi dari perbuatan seseorang, meningkatkan ketakwaan, dan pemahaman secara sempurna tentang kepatuhan terhadap hukum Allah, maka akan menciptakan kemaksuman tertentu dalam diri manusia ,setelah itu tidak lagi dibutuhkan sarana pengendalian dan kontrol diri.

Orang-orang   akan tunduk secara total terhadap tuntunan-tuntunan guru mursyid mereka dan sepakat menerima perintahnya ketika mereka menganggap semua perintah itu sebagai perintah dari Allah, tanpa ada ragu sedikitpun dalam persoalan ini. Jika seseorang tidak benar-benar terjaga dari dosa, apakah kata-katanya dapat ditaati dengan penuh dedikasi ?

Dampak  kemaksuman adalah seperti itu, sehingga ia melindungi manusia dari tipuan dunia ini dan memungkinkan dia untuk tabah menghadapi semua bentuk gangguan.

Kemaksuman ini tidak bisa hanya dibatasi pada periode yang didalamnya sudah benar-benar jadi mursyid, namun dalam hidupnya , termasuk periode sebelum menjabat mursyid, hatinya harus bebas dari semua kegelapan dan kepribadiannya terbebas dari dosa. Disamping kenyataannya perbuatan dosa menyebabkan hilangnya martabat manusia , orang-orang selalu menganggap berlanjutnya dosa  dan penyelewengan yang telah mereka ketahui dia lakukan dimasa silam, sekalipun hanya yang kecil-kecil saja. Tuduhan ini pada gilirannya akan merampas kemursyidan seseorang , karena ia tak lagi dianggap tauladan ketakwaan dan kesucian. Karena kenangan pahit tentang kehidupan yang sebagiaanya dihabiskan dalam dosa tidak akan pernah bisa dihapus.

Sehingga syarat pertama pertama dan utama untuk jabatan mursyid adalah kesucian bathin, ketakwaan yang mendalam, dijaga oleh Allah dari melakukan dosa (maksum/mahfudz) dan memiliki hati yang sangat baik sebelum dan sesudah terpilih untuk menjabat sebagai mursyid, serta ia merupakan keturunan Nabi saw.

Karena sesungguhnya Allah telah menguraikan ayat kesucian dan karakter khas mereka sebagai berikut:

“Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu{1216} dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(al Ahzab;33)

Kebenaran dan kemaksuman mursyid termanifestasi dalam ucapan, perbuatan, dan pemikiran karena pengetahuan mereka sebagai akibat dari wahyu atau ilham.

Wahyu/ilham ini tidak akan berhenti hanya dalam fase kenabian saja, namun tetap berlanjut kedalam fase setelahnya (fase kemursyidan).

“dan berita tentang tidak ada wahyu setelahku(setelah nabi Muhammad) adalah salah, dan berita yang masyhur bahwa sesungguhnya  Jibril tidak turun ke bumi setelah wafatnya Nabi saw, adalah tidak ada dasar hukumnya”(Fatawil hadisiyah;129)

Dari kutipan kitab tersebut menjelaskan akan adanya wahyu setelah kenabian Muhammad saw. Karena pada dasarnya wahyu adalah ilham atau petunjuk Allah kepada hambaNya yang istimewa. Seperti halnya wahyu atau ilham yang disampaikan Allah sebagai berikut:

“dan wahyu menurut arti bahasa adalah mendapatkan ilham yang lembut bagi manusia seperti halnya wahyu kepada ibunya Nabi Musa( dan aku wahyukan kepada ummi Musa; susuilah dia/musa-alQosos;7)”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa wahyu/ilham bukan hanya terbatas pada para nabi saja melainkan kepada orang-orang yang diistimewakan oleh Allah bisa terjadi khususnya kepada Guru Mursyid, karena ia ditugaskan oleh Allah untuk membimbing ummat dengan berdasarkan petunjuk al-quran. Dari keterangan tersebut kita juga dapat memetakan bahwa term wahyu dikhususkan untuk para Nabi, sedangkan term ilham dikonotasikan untuk para wali Allah.

Penafsiran makna batin dari al-Quran adalah pengetahuan yang berasal dari dunia tak nampak; dengan kata lain ia bukan pengetahuan yang bisa diperoleh melalui cara-cara konvensional. Penasiran sesungguhnyahanya bisa diperoleh dari karunia Allah swt, Al Quran menyatakan:

Dialah yang menurunkan Al-kitab(Al Quran) kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat –ayat mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari  ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui  ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal .

Penutup

Allah sajalah yang berhak memilih seseorang sebagai guru umat manusia dan pembimbing ummat., untuk menjelaskan hukum-hukum-Nya, untuk menginterpretasikan masalah-masalah kompleks dalam AlQuran, dan untuk mempertahankan kebenaran dan mengembangkan kepribadian ummat. Allah mempercayakan jabatan ini kepada orang istimewa dan memiliki sifat maksum/mahfudz yang benar-benar unik dalam kualitas spiritualnya, atribut lahir batinnya serta komunikasi dengan dunia yang tersembunyi. Orang seperti ini  memahami kebenaran batin dari sesuatu dengan mata batinnya, ia selalu menghadap pada kebenaran dengan cara yang sedemikian rupa, keyakinannya tidak pernah menyeleweng dan perbuatannya tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran, karena segala sesuatunya atas kehendak Allah swt. Sehingga guru Mursyid adalah orang yang termulya dimasanya , yang paling unggul dari sahabat seangkatannya.

LAMPIRAN

“Semoga rahmat Allah ditetapkan bagi para khalifahku. Beliau ditanya : siapakah para khalifahmu tuan? Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada  hamba-hamba Allah” (Raudhatul Muhadditsin , hadits ke 4928)

“Nur Rosulullah yang terpilih pimpinan  manusia, berpindah ke punggung nabi Adam. Nur itu lebih terang dari pada rembulan. ”(madarijus su’ud hal 4)

“Dan ketahuilah bahwa Muhammad saw, memberikan kepada semua nabi dan rosul kedudukan-kedudukan atau derajat-derajat mereka dialam arwah sampai ia diutus dengan rupa jasadnya(dialam dunia ) dan kita mengikutinya. Dan secara hukum dapat dipertemukan dengan beliau diantara para nabi,orang-orang yang menyaksikan Beliau, atau turun sesudah beliau. ”(Khazinatul Asror 194)

Mudrik menadzomkan sebagai berikut:

Sapa wonge nemu guru sifat papat – Gandulana poma-poma ingkang kuat

Ingkang dingin sifat ipun mu’ayyidin—Nguwataken ing agama kalawan yakin

Ingkang kapindo sifat ipun zahidin – Ora jejaluk ing manusa sarta jin

Ingkang kaping telu sifat ipun musyfikin—Kang makani ewon-ewon akir miskin

Kang kaping pat ru’afa lil mu’minin – Kang muruki wong bodo sahingga yakin

Mungguh kula iku abah umar—Ingkang muruki sahadat ora samar



Dikirim pada 20 Agustus 2012 di asysyahadatain
comments powered by Disqus
Profile

berusaha memperbaiki diri dan berharap syafaat para pemberi syafaat More About me

Page
Tag
berjalan

    Sedia DVD ROSETTA STONE/SOFTWARE BELAJAR MULTI BAHASA cuma Rp15.000/DVD hubungi 081324405889! maaf sedang di Brunei

quote

    Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

    Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

    Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan."(QS. Thoha:124-126)

    “Ya Allah , sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan dari azab neraka ,dari fitnah kehidupan dan setelah kematian dan dari buruknya fitnah Dajjal.(HR. Bukhori -Muslim)”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan hutang dan orang yang menindas(ku)(HR. Bukhori). ”

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 648.780 kali


connect with ABATASA