0
08 Nov


Pada awrad Abah Umar terdapat banyak tawasul, saya copas dari "akidah ahlus-sunah waljamaah (aswaja) "(kaskus) , pada link buya yahya juga ada, pada link ini juga, pada link sarkub juga, langsung copasan dari tread di kaskus :
Saudara saudaraku masih banyak yg memohon penjelasan mengenai tawassul, wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yg mendengar adzan lalu menjawab dg doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yg sempurna ini, dan shalat yg dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yg terpuji sebagaimana yg telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pd beliau saw, bahkan orang yg mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yg saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yg panjang menceritakan tiga orang yg terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
• Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
• Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yg melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yg melihatnya” (dengan paman nabi saw yg melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

Tentunya doa ini dibaca setelah wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.
Dalam buku karangan Muhammad bin Alwi Al maliki Al Hasani, disebutkan nama-nama yang populer yang mengatakan bolehnya tawasul atau mengutip dalil-dalilnya dari imam-imam besar dan para hafidz As sunnah, diantaranya :
Imam Al Hafidz Abu Abdullah Al hakim dalam kitabnya “Al Mustadrak ‘Ala As-Shahihain”, dia telah menyebutkan hadits yang menerangkan tawassulnya Adam AS dengan Nabi SAW dan menshohihkannya.
Imam Al Hafidz Abu Bakar Al Baihaqi dalam kitabnya Dalailu An-Nubuwwah, dia menyebutkan hadits tawassulnya Adam dan yang lain dan dia tidak mengeluarkan hadits-hadits maudhu (palsu).
Imam Al hafidz Jalaluddin As-Suythi dalam kitabnya Al Khashaaisu Al Kubraa, dia menyebut hadits tawassul Adam AS.
Imam Al hafidz Abu Faraj Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Al Wafa’ dia telah menyebutkan hadits tentang tawassul dan yang lain.
Imam Al Hafidz Al Qadhi ’iyadh dalam kitabnya As-Syifaa fi At-Ta’rif bi Huquqi Al Musthafa , dia telah menyebutkan dalam bab ziarah dan bab keutamaan Nabi SAW banyak dari tawassul.
Imam Syaikh Nuruddin Al Qawi yang terkenal dengan Mala Ali Qari dalam syarah kitab As-Syifaa fi At-Ta’rif bi Huquqi Al Musthafa.
Al ‘Allamah Ahmad Syihabuddin Al Khafaji dalam syarah As-Syifa yang berjudul Nasimu ar- Riyadh.
Imam Al Hafidz Al Qasthalani dalam kitabnya Al Mawahib Al Ladunniyah, pada bagian yang pertama dari kitab.
Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Abdul Baqi Az Zurqaani dalam syarah Al Mawahib Al Ladunniyah, juz 1 hal 44.
Imam Syaikhul Islam Abu Zakariyya Yahya An Nawawi dalam kitabnya Al Idhah pada bab ke 6 hal 498.
Al ‘Allamah Ibnu HAjar Al Haitami dalam Hasyiyah ‘ala Al Idhah hal 499, dan dia menulis risalah khusus pada bab ini yang di beri judul Al Jauhar Al Munadzdzam.
Al Hafidz Syihabuddin Muhammad bin Muhammad bin Al Jazri Ad- Dimasyqi dalam kitabnya Uddatu Al Hisn Al Hashin pada bagian keutamaan doa.
Al ‘Allamah Imam Muhammad bin Ali As- Syaukani dalam kitabnya Tuhfatu Ad-Dzakirin, hal161.
Al ‘Allamah Imam Al Muhaddits Ali bin Abdul Kafi As-Subuki dalam kitabnya Syifaa ‘u As-Saqaata fii Ziyaarati Khairi Al Anam.
Al Hafidz ‘Imaduddin Ibnu Katsir dalam menafsiri firman Allah, “Walau Annahum idz dzalamu” dia menyebukan kisah Al ‘atbi bersama seorang arab baduwi yang datang berziarah dan memohon syafaat dengan Nabi SAW dan dia tidak menentang kisah tersebut sedikitpun. Dia juga menyebutkan kisah tawassulnya Adam AS dengan Nabi SAW dalam Al Bidayah wa An-nihayah dan tidak menetapkan kepalsuan kisah tersebut(juz 1 hal 180) Dan menyebutkan kisah seseorang yang datang ke makam Nabi SAW dan bertawassul dengannya dan dia berkata , “sanad kisah tersebut shahih.”(juz 1 hal 91) dia menyebutkan pula semboyan orang-orang Islam “Ya Muhammadah”, (juz VI hal 324)
Imam Al Hafidz Ibnu Hajar yang menyebutkan kisah seseorang yang datang ke makam Nabi SAW dan bertawassul dengannya, dan menshahihkan sanadnya dalam kitab Fathul Baari (juz II hal 495)
Imam Al qurthubi dalam menafsiri firman Allah, “Walau Annahum idz dzalamu” (juz V hal 265).

Walillahi taufiq

Dikirim pada 08 November 2013 di asysyahadatain


Syekhunal Mukarrom adalah sebutan bagi Al-Habib Abah Umar bin Isma’il bin Yahya, beliau lahir di Arjawinangun pada bulan Rabiul Awal 1298 H atau 22 Juni 1888 M.

Ayahnya adalah seorang da’i asal dari Hadromaut yang menyebarkan islam dinusantara yang bernama Al-Habib Syarif Isma’il bin Yahya, sedangkan ibunya adalah Siti Suniah binti H. Sidiq asli arjawinangun.

Diceritakan sewaktu beliau lahir sekujur tubuhnya penuh dengan tulisan arab (tulisan aurod dari syahadat sampai akhir), sehingga sang ayah Syarif Isma’il merasa hawatir akan menjadi fitnah. Maka beliaupun menciuminya terus setiap hari sambil membacakan sholawat hingga akhirnya tulisan-tulisan tersebutpun hilang.

Meninjak ke usia 7 tahun nan, Al-Habib Abah Umar nyantri ke pondok pesantren Ciwedus Kuningan. Sebelum Abah Umar berangkat mesantren ke ciwedus, KH. Ahmad Saubar sebagai pengasuh pesantren ciwedus mengumumkan kepada para santrinya bahwa pesantrennya akan kedatangan Habib agung, sehingga para santrinya diperintahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren sebagai penyambutan selamat datang bagi habib yang sebentar lagi tiba. Kiai juga berpesan agar Habib dihormati, dimuliakan, dan jangan dipersalahkan.

Hingga pada waktu yang ditunggu datanglah Al-Habib Abah Umar ke pesantren ciwedus dalam usianya yang ke 7 tahun, para santripun geger, bingung, dan keder karena ternyata yang datang hanyalah seorang anak kecil.

Diceritakan bahwa Abah Umar diciwedus selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh KH. Ahmad Saubar baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah, namun disana Abah Umar hanya tidur-tiduran bahkan pulas disamping kiai, sehingga para santri pun mencibir/mencemooh.

Abah Umar menunjukkan khowariknya dengan mengingatkan KH. Ahmad Saubar ketika dalam membaca kitabnya ada kesalahan, begitupun para santri yang deres di kamar pun selalu diluruskan oleh Abah Umar, dengan kejadian tersebut para santri hormat dan memuliakan.
Setelah beberapa waktu mesantren diciwedus KH. Ahmad Saubar memohon kepada Abah Umar untuk diajarkan Ilmu Syahadat sesuai dengan pesan dari gurunya Embah Kholil Madura. Akhirnya KH. Ahmad Saubar mengumpulkan para santrinya untuk di bai’at syahadat oleh Abah Umar, yang didalamnya hadir K. Soheh Bondan Indramayu sebagai santri dewasa yang ikut bai’at syahadat.
Selang beberapa waktu sekitar dua tahunan Abah Umar pindah ke pesantren Bobos dibawah asuhan KH. Syuja’i, dari pondok bobos selanjutnya pindah ke pondok Buntet dibawah asuhan KH. Abbas. Dibuntet Abah Umar bertingkahnya sama seperti waktu di ciwedus, tidak mengaji hanya bermain dibawah meja kiai yang sedang mengajar ngaji, sesekali apabila kiainya ada kesalahan maka dipukullah meja kiai tersebut dari bawah meja sehingga kiainya sadar bahwa yang diajarkannya ada yang salah, tidak berselang lama kiai pun meminta untuk diajarkan syahadat.
Setelah dari pondok buntet Abah Umar berpindah lagi ke pesantren Majalengka dibawah asuhan KH. Anwar dan KH. Abdul Halim, dipesantren inilah Abah Umar menghabiskan waktu selama 5 tahunan.
Sesampainya Abah Umar dirumah, beliau menghimpun sebuah pengajian di panguragan yang dikenal dengan sebutan “Pengajian Abah Umar” atau dalam wacana para santrinya lebih dikenal dengan sebutan “Buka Syahadat atau Ngaji Syahadat”, sebab beliau menyampaikan Hakekat Syahadat dari Syarif Hidayatullah.

Ngaji Syahadat nya Abah Umar pun terdengar keseluruh peloksok negeri bahkan sampai ke Malaysia, sehingga banyak orang yang datang untuk mencari slamet dunya akherat dengan Itba’ dan bai’at kepada Abah Umar. Karena disaat itu sudah banyak yang menunggu pembukaan syahadat tersebut, mereka yang menunggu adalah orang-orang yang mendapat pesan dari para guru dan orang tua yang ma’rifat.
Dengan demikian, dalam waktu yang singkat semakin ramailah pengajian Abah Umar tersebut baik itu yang kalong maupun yang mukim. Setiap malam jum’at, panguragan dihadiri oleh para jamaah yang ingin ngaji syahadat.
Bahkan menurut berita dari orangtua dulu ketika belanda melewati panguragan mereka berkumandang “Mawlana ya Mawlana…..” dengan hidmatnya (terpengaruh oleh karomatnya Abah Umar).
Pada Tahun 1947 Abah Umar membentuk pengajiannya menjadi sebuah nama organisasi Asy-Syahadatain dengan mendapatkan izin dari presiden Soekarno, karena disaat itu setiap perkumpulan dengan banyak orang tanpa adanya organisasi yang jelas maka dapat dikategorikan sebagai usaha pemberontakan dan dapat mengganggu ketahanan nasional. Setelah itu, Asy-Syahadatain semakin besar dan ramai yang para jamaahnya menyebar sampai manca Negara.
Karena semakin ramai, maka para kiai jawa (yang tidak senang) mendengar kepesatan Asy-syahadatain, sehingga mereka hawatir para santrinya akan terbawa oleh Abah Umar, sehingga para kiai tersebut berkumpul untuk menyatakan bahwa ajaran Abah Umar adalah sesat. Akhirnya Abah Umar disidang dipengadilan Agama yang dikuasai para kiai tersebut pada saat itu, dalam pengadilanpun Abah Umar ditetapkan bersalah dengan tidak ada pembelaan dan penjelasan apapun. Akhirnya Abah Umarpun dipenjara bersama beberapa murid-muridnya termasuk KH. Idris Anwar selama 3 bulan, namun belum genap tiga bulan Abah Umar sudah dibebaskan karena sipirnya banyak yang bai’at syahadat kepada Abah Umar.
Pada tahun 1950 pertama kalinya Abah Umar menyelenggarakan tawassulan, dan pada malam itu pula Abah Umar kedatangan beberapa tamu agung, hal inipun dengan izin Allah dapat disaksikan secara batin oleh beberapa santri sahabat yang diantaranya adalah KH. Soleh bin KH. Zaenal Asyiqin.
Para tamu tersebut adalah Kanjeng Nabi Muhammad saw. beliau hadir dalam acara tawassul tersebut secara Bathiniyah dan memberikan title/gelar/derajat kepada Abah Umar yaitu Syekh Hadi, diiringi pula oleh malaikat jibril dan memberinya gelar Syekh Alim. Kemudian disusul Siti Khodijah memberi gelar Syekh Khobir, Siti Fatimah Azzahra memberi gelar Syekh Mubin, Sayyidina Ali memberi gelar Syekh Wali, Syekh Abdul Qodir memberi gelar Syekh Hamid, Syarif Hidayatullah Gunung Jati memberi gelar Syekh Qowim, dan yang terakhir Nyi Mas Ayu Gandasari datang dengan memberi gelar Abah Umar sebagai Syekh Hafidz.
Dengan kejadian tersebut, menurut KH. Soleh sebagai malam pelantikan dinobatkannya Al-Habib Abah Umar sebagai Wali Kholifaturrosul Shohibuzzaman. Sehingga perkembangan wiridnya pun semakin hari semakin bertambah sesuai dengan yang diwahyukan oleh Allah.


Pada tahun 1953 pertama kalinya Abah Umar mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di panguragan (Muludan), dengan dihadiri oleh Jamaah Asy-syahadatain sampai mancanegara.
Sebagai seorang guru syahadat Abah Umar banyak menuntun para murid/santrinya untuk beribadah dan berdzikir (wirid) dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Disamping beribadah, wirid, dan tafakkur (ngaji rasa), Abah Umarpun tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmaniyah. Beliau bertani, berkebun, dan beternak kambing.


Pada tahun 1960 an Jamaah Asy-Syahadatain dibekukan pemerintah karena dianggap meresahkan masyarakat, alasan pembekuan tersebut hanya didasarkan pada dugaan dan laporan seseorang yang menjabat bahwa tuntunan tawassul Abah Umar dianggap menyesatkan.
Dan setelah adanya perundingan antara para ulama se-nusantara dengan para ulama Jamaah Asy-Syahadatain, akhirnya disepakati untuk membuka kembali Jamaah Asy-Syahadatain karena menurut kesepakatan para ulama disaat itu tidak ada satu tuntunanpun yang dianggap sesat dari semua tuntunan Abah Umar tesebut. Dan pada tahun 1971 Jamaah Asy-Syahadatain bergabung dengan Golkar melalui GUPPI dalam rangka ikut membangun kesejahteraan Negara.
Pada tahun 1973 an Masjid Abah Umar kedatangan khodim baru yang bernama Mar’i, ia yang menjadi pelayan didalam lotengnya Abah. Pada suatu hari ia mengambil pentungan kentong masjid dan memukulkannya kepada Sirah Abah Umar sehingga Abah Umarpun pingsan dan dibawa kerumah sakit dibandung untuk dirawat.
Dirumah sakit abah sempat dawuh/membaca ayat Al-quran

Dengan dawuhnya Abah Umar tersebut, para kiai yang menyaksikannya pada bersedih, karena itu merupakan pertanda Abah Umar akan Kesah (pergi). Akhirnya tidak berselang lama Abah Umar wafat pada tanggal 13 Rajab 1393 H atau 20 Agustus 1973 M.sumber :mencari ridho Allah

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Setelah satu tahun lamanya Cakrabuana pulang ke Cirebon dengan diberi nama oleh Syekh Bayan adalah Bayanullah, Syekh Abdullah pun memberi nama Abdullah Iman. Dalam perjalanannya menuju Cirebon, Cakrabuana mampir di Aceh sebulan lamanya, kemudian mampir di Palembang selama tiga bulan.
Tidak berapa lama kemudian Cakrabuana mempunyai bayi perempuan di beri nama Ratu Mas Pakungwati, kemudian Ki Kuwu Cakrabuana membangun Kraton Pakungwati, tak lama berselang KI Kuwu mempunyai bayi laki-laki bernama Pangeran Cerbon.
Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan dan Syarifah Mudaim/ Nyi Rarasantang berziarah ke Mekah dan ke makam Nabi Muhammad SAW dalam usia kandungannya yang ke tujuh bulan. Tidak berapa lama kemudian Syarifah Mudaim melahirkan bayi laki-laki yang elok sekali , cahayanya meredupkan cahaya matahari pada tanggal 12 mulud ba’da shubuh, bayi tersebut langsung dibawa thawaf oleh Kanjeng Sultan dan diberi nama Syarif Hidayatullah denga disaksikan oleh para ulama dan para mukmin.
Syarifah Mudaim mengandung lagi berapa tahun kemudian dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Syarif Nurullah. Tak lama berselang Kanjeng Sultan wafat dan kerajaan Mesir dipimpin oleh Patih Jamaludin sebagai wakil karena Syarif Hidayatullah masih kecil.
Diceritakan setelah Syarif Hidayatullah beranjak dewasa, beliau sangat ingin berguru kepada Kanjeng Nabi Muhammad walaupun pada saat itu pada dzohirnya Kanjeng Nabi telah wafat. Karena tidak tahan dengan rasa rindunya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, Syarif Hidayatullah meminta izin kepada ibunya untuk mencari Kanjeng Nabi dan diizinkan oleh ibunya.
Dalam perjalanannya Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nagasaka yang memberi petunjuk untuk pergi ke makam Nabi Sulaiman di pulau Majeti. Sebelum sampai beliau bertemu dengan Pendeta Ampini, yang mengajak bersama-sama menuju Majeti. Sesampainya disana Syarif Hidayatullah hatur hormat, namun Pendeta Ampini malah mencari cincin Nabi Sulaiman, sehingga datanglah petir menyambar Pendeta karena memikirkan keduniaan. Dan Syekh Syarif terlempar ke puncak Gunung, segera Syekh Syarif bertobat karena telah menemani orang yang berlaku durjana.
Setelah bertobat Syekh Syarif bertemu dengan Pertapa yang disampingnya terdapat kendi pertula. Syekh Syarif berkata, “Hai Pertapa kendi itu milik siapa? Saya ingin minum.” Pertapa menjawab, “Wallahu a’lam tatkala saya mulai bertapa kendi itu sudah ada.” Syekh Syarif berkata , “Hai Kendi pertula milik siapa engkau? Saya ingin minum. ” Kendi itu menjawab, “saya berasal dari surga, turun pada masa Nabi Nuh, saya adalah milik tuan. ” Kendi diminum airnya tidak sampai habis lalu di letakan. Kendi segera berucap, “Tuan akan menjadi raja seketurunan akan tetapi tidak selamanya akan direbut hingga terjajah.” Kendi lalu diminum lagi hingga habis . Kendi berkata,”Selanjutnya negeri tuan abadi tidak terjajah, saya kelak akn mengabdi kala tuan menjadi raja.”Lalu kendi segera terbang ke angkasa.
Kemudian Syekh Syarif melanjutkan perjalanannya dengan di hadang berbagai godaan dunia.Tak lama kemudian Syekh Syarif dilanda gelap gulita hingga sengsara. Kemudian datanglah Nabi Ilyas memberi petunjuk untuk naik ke bukit menemui penunggang kuda, sesampainya disana bertemu dengan penunggang kuda yaitu Nabi Chidir dan Syeh Syarif pun diajak untuk naik kuda dan diantarkan naik keatas sampai di negeri ajrak. Di Negri Ajrak Syeh Syarif masuk kedalam masjid Mirawulung dan bertemu arwah para Syuhada dan para mukmin.Syekh Syarif bertafakur hingga diridhoi Allah untuk naik ke langit tujuh dan bertemu dengan Rosulullah.
Setelah sowan ke Kanjeng Nabi Muhammad , Syekh Syarif pulang ke negri Mesir menemui Ibunda Rarasantang . Beberapa lama di Mesir kemudian Syekh Syarif menunaikan ibadah haji, sepulang berhaji beliau diangkat menjadi Sultan Mesir Maulana Mahmud.
Setelah beberapa waktu Ibunda Rarasantang memerintahkan kepada Syekh Syarif untuk pergi ke tanah Jawa menemui Ki KUwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif mematuhinya dan kesultanan diserahkan kepada Syarif Nurullah.
Sesampainya di Cirebon , Syekh Syarif sowan ke Syekh Nurjati kemudian ke Sunan Ampel untuk mendapat wejangan-wejangan dengan diantar oleh Ki Kuwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif kemudian dinikahkan dengan Putri Ki Kuwu CAkrabuana, Nyi mas Pakungwati.
Setelah itu barulah Syeh Syarif menyebarkan Agama Islam ditatar pasundan, Cirebon dan sekitarnya sampai ke tanah China, India dll.
Suatu hari KIKuwu cakrabuana dan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati bermufakat untuk menghadap Prabu Siliwangi untuk mengajaknya masuk Islam.
Di ceritakan di kraton Pajajaran Prabu Siliwangi dan pengiringnya hendak bertolak ke Cirebon meninjau cucunya Kanjeng Sinuhun, tidak lama kemudian Ki Buyut Talibarat menjumpai Sang Prabu dan mempengaruhinya untuk tidak masuk Islam , sehingga Sang Prabu pun merobah Kratonnya menjadi hutan dan seluruh pengiringnya menghilang dikarenakan tidak mau masuk Islam dan sudah mengetahui Kanjeng Sinuhun akan datang .
Tidak berapa lama kemudian datanglah Kanjeng Sinuhun dengan Ki Kuwu Cakrabuana, mendapati kraton telah berubah menjadi hutan, namun beliau masih dapat melihat kraton Pajajaran seperti semula, lalu masuk dan mengislamkan sebagian penghuninya yang masih ada, namun tidak didapatinya Sang Prabu.
Setelah beberapa waktu kemudian Kanjeng Sinuhun memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan Prabu Siliwangi, namun didapatinya telah menjadi macan/harimau. Kanjeng Sinuhun tetap mengajak Sang Prabu masuk Islam, dan akhirnya dengan berbagai macam usaha Sang Prabu pun mengikuti agama Islam dan tetap menjadi macan yang akan melindungi keturunan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati.
(sumber : Mencari Ridho Allah, Abdul Hakim M)

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Diceritakan datanglah seorang mubaligh dari Baghdad ke Nusantara yang bernama Syekh Idhofi/Syekh Datul Kahfi / Syekh Nurjati bersama adik perempuannya yang bernama Nyai Mas Ratu Subanglarang, mereka berdua singgah di Gunung Jati. Nyi Mas Ratu Subanglarang pun diperistri oleh Raja Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata wisesa Sri Maha Prabu Siliwangi atas dasar istikhoroh dan petunjuk dari Allah. Sri Maha Prabu Siliwangi memiliki tiga orang istri dan empat puluh anak.
Pada suatu hari Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif (petunjuk dari Allah) untuk mengikuti Sang Prabu berburu ke hutan. Walaupun Sang Prabu menolak akhirnya Nyi Mas Ratu Subanglarang pun tetap ikut dalam rombongan Sang Prabu berburu ke hutan.
Sesampainya di hutan mereka menemukan seorang bayi laki-laki dengan posisi nyungsang diatas rerumputan, maka bayi laki-laki tersebut diangkat menjadi anak Prabu Siliwangi atas keinginan Nyi Mas Ratu Subanglarang dengan diberi nama Walangsungsang (Embah Kuwu Sangkan Pangeran Cakrabuana).
Dan beberapa selang waktu kemudian , Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif yang sama . Sesampainya dihutan bersama rombongan Prabu Siliwangi, beliau menjumpai petani yang sedang menanam terong dan saat rombongan kembali dari berburu dengan idjin Allah terong-terong tersebut telah waktunya panen, sehingga Nyi Mas Ratu Subanglarang pun memetik satu buah lalu dimakannya terong tersebut. Sesampainya di kraton Nyi Mas Ratu Subanglarang pun akhirnya hamil, sang Prabu Siliwangi sangat bahagia , dan dari kehamilan tersebut lahirlah seorang bayi perempuan yang bernama Nyi mas Dewi Rarasantang.
Pada usianya yang telah menginjak dewasa Walangsungsang bermimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sehingga Walangsungsang memohon restu dari sang Prabu Siliwangi untuk mempelajari agama Islam. Sang Prabu pun marah besar dan Walangsungsang pun akhirnya di usir dari Kraton Pajajaran.
Mengetahui kakaknya diusir, Nyi Rarasantang pun menyusul kakaknya keluar dari Kraton Pajajaran. Sri Maha Prabu Siliwangi kebingungan karena putrinya hilang, sehingga mengerahkan semua pasukannya untuk mencari sang putri Nyi Rarasantang, namun tak di temukan.
Diceritakan Walangsungsang tiba di Gunung Maraapi (Rajadesa Ciamis Timur) bertemu dengan Sanghyang Danuwarsih (Ki kuwu Cirebon Girang) dengan mengutarakan maksud kedatangannya mencari Guru Syahadat, namun tidak disanggupinya malah menikahkan dengan putrinya yang bernama Nyi mas Endang Geulis.
Sedangkan Nyi Rarasantang berada di Gunung Tangkuban Parahu, ia bertemu dengan Nyi Endang Sukati serta memohon bantuan untuk dipertemukan dengan kakaknya, namun Nyi Endang Sukati hanya dapat memberikan kesaktian dan petunjuk untuk menemui Ki Ajar Sakti di Gunung Liwung.
Nyi Rarasantang pun bertemu dengan Ki Ajar Sakti, beliau memberitahukan bahwa kakaknya Walangsungsang telah beristri di Gunung Maraapi dan Nyi Rarasantang pun diberi nama Ratna Eling yang kelak akan mempunyai putra yang punjul sebuana. Tidak berapa lama akhirnya kakak adik tersebut bertemu di Gunung Maraapi.
Setelah sebulan lamanya di Gunung Maraapi , Walangsungsang Nyi Rarasantang, Nyi mas Endang Geulis melanjutkan perjalanannya mencari Guru Syahadat. Nyi mas Endang Geulis dan Nyi Rarasantang pun di masukan kedalam cincin ampal yang dipakai Walansungsang agar perjalanannya lebih mudah.
Di gunung Ciangkup mereka bertemu dengan Sanghyang Nango, namun ia tidak bisa mengajarkan Ilmu Syahadat dan mereka hanya diajarkan ilmu kanuragan. Selanjutnya di Gunung Kumbang mereka bertemu Sanghyang Naga, di Gunung Cangak mereka bertemu Sang Pendeta Luhung. Namun mereka belum juga menemukan guru yang mereka cari.
Akhirnya mereka bertiga menuju Gunung Jati dihadapan Syekh Nurjati mereka mengemukakan tujuannya. Syekh Nurjati segera memberikan wejangan Ilmu Syahadat Syariat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Walangsungsang diberi nama Shomadullah dan di ijinkan membangun sebuah dukuh, dan bertemulah dengan Ki Gedeng Alang Alang di Lemah Wungkup, Ki Gedeng Alang Alang memberinya nama Cakrabumi di situlah Walangsungsang membangun sebuah dukuh yaitu dukuh Cirebon. Dinamakan Cirebon karena dukuh yang dibangun oleh Cakrabumi menjadi terkenal karena terasi (Grage) nya yang dibuat oleh Cakrabumi, yang pembuatannya dari Rebon (Udang kecil) dan air perasannya dibuat petis (cai rebon/ air udang).
Ketenaran terasi tersebut sampai ke kraton Rajagaluh, sehingga dukuh Cirebon harus membayar upeti berupa terasi gelondongan ke kerajaan Rajagaluh, dan diangkatlah Ki Gedeng Alang Alang sebagai Kuwu dan setelah meninggalnya jabatan kuwu diserahkan kepada Cakrabumi dengan gelar Kuwu Cerbon Cakrabuana.
Setelah sekian waktu Cakrabuana diperintahkan oleh Syekh Nurjati untuk bai’at tabaruk kepada Syekh Maulana Ibrahim di Negara Campa. Cakrabuana mendapatkan perintah dari Syekh Maulana Ibrahim untuk menunaikan ibadah haji dengan membawa surat untuk Syekh Bayan dan Syekh Abdullah di Mekah.
Cakrabuana mematuhi perintah sang guru, mohon pamit meneruskan perjalanan menuju Mekkah dengan menaiki Mancung bersama adiknya Nyi Rarasantang. Sesampainya di Mekah menghadap Syekh Bayan dan Syekh Abdullah menyampaikan surat dari Syekh Maulana Ibrahim.
Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan Maulana Mahmud Syarif Abdullah sedang bermuram durja karena ditinggal sang permaisuri, siang dan malam berdzikir kepada Allah untuk mendapat kasih sayang-Nya . Pada saat tafakurnya Kanjeng Sultan mendapat petunjuk dari Allah bahwa jodohnya ada di Mekah. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus patihnya untuk mencari seorang perempuan yang pantas untuk jadi permaisuri.
Tidak berapa lama mereka melihat seorang perempuan yang cantik sekali melebihi lainnya yaitu Nyi Rarasantang, lalu dikuntitnya sampai bertemu di rumah Syeh Bayan. Perihal Kanjeng Sultan disampaikannya kepada Nyi Rarasantang. Nyi Rarasantang dan Cakrabuana ikut ki Patih ke Mesir menghadap Kanjeng Sultan Mesir dan mereka pun ditempatkan di rumah Ki Penghulu Jamaludin.
Kanjeng Sultan bertemu dengan Nyi Rarasantang di masjid Tursina, beliau sangat setuju sekali mirip dengan permaisurinya yang telah meninggal. Segera Nyi Rarasantang dilamarnya, namun Nyi Rarasantang meminta maskawin putra laki-laki Waliyullah yang punjul sebuana, permintaan tersebut disanggupi oleh Kanjeng Sultan atas kehendak dan petunjuk dari Allah. Akhirnya Nyi Rarasantang menikah dengan Kanjeng Sultan Syarif Abdullah dan diberi nama Hj. Syarifah muda-im.

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

berusaha memperbaiki diri dan berharap syafaat para pemberi syafaat More About me

Page
Tag

    Sedia DVD ROSETTA STONE/SOFTWARE BELAJAR MULTI BAHASA cuma Rp15.000/DVD hubungi 081324405889! maaf sedang di Brunei

    Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

    Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

    Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan."(QS. Thoha:124-126)

    “Ya Allah , sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan dari azab neraka ,dari fitnah kehidupan dan setelah kematian dan dari buruknya fitnah Dajjal.(HR. Bukhori -Muslim)”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan hutang dan orang yang menindas(ku)(HR. Bukhori). ”

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 648.783 kali


connect with ABATASA