0


Sekilas tentang Syekh Ahmad al-Tijani
Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-Jazair.
Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw. Beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H., dan dimakamkan di kota Fez Maroko.
Biografi Syekh Ahmad al-Tijani
• Fase menuntut Ilmu
Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama.
• Fase Menuntut Ilmu Tasawuf
Pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : اَنَّكَ تُدْرِكَ مَقَامَ الشَّاذِلِى “Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili”” . Selanjutnya beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya dikatakan : “الله ُ يَأخُذُ بِـيَدِكَ. (Allah yang membimbingmu); “Kata-kata ini di ulang sampai tiga kali”. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr) sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan : “Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam ‘azim)”.
• Fase Pengidentifikasian Diri
Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh.
Pada tahun 1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd al-Rahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf. Diantara buku yang diajarkannya adalah kitab al-Hikam. Kemudian beliau pergi ke Mesir. Di negeri ini beliau menjumpai seorang sufi yang sangat terkenal pada waktu itu yakni Syekh Mahmud al-Kurdi, ia seorang tokoh thariqat khalwatiyah. Dari tokoh ini Syekh Ahmad al-Tijani menyempurnakan ajaran thariqat Kholwatiyahnya. Dalam perjumpaan pertama dengan Syekh Mahmud al-Kurdi, kepada Syekh ahmad al-Tijani dikatakan: (أنت محبوب عندالله في الدنيا والاخرة ) Engkau kekasih Allah di dunia dan di akherat” lalu ia Al-Tijani bertanya (من اين لك هدا ) “Dari mana pengetahuan ini ?” Jawab Al-Kurdi ( من الله ) “Dari Allah”.
Setelah beberapa hari Syekh Mahmud al-Kurdy bertanya kepada Syekh Ahmad : “(مامطلبك ؟) Apa cita-citamu ?” Jawab Syekh Ahmad Al-Tijani (مطلبي القطبانـية لعظمى) “Cita-cita saya menduduki maqam al-Qutbaniyah al-‘Udzma”. Jawab al-Kurdi (لك اكثرمنها ) “Bagimu lebih dari itu” Berkata Syekh Ahmad Al-Tijani (عليك) “Engkau yang menanggungnya ?” Jawab al-Kurdi (نعم) “Ya”. Pada bulan Syawwal tahun 1187 H. Sampailah beliau ke Makkah pada waktu itu di Makkah ada seorang wali bernama Syekh al-Imam Abi al-Abbas Sayyid Muhammad Ibn Abdillah al-Hindi. Sewaktu Syekh Ahmad al-Tijani berkunjung kepadanya, ia mengungkapkan kepada Syekh Ahmad al-Tijani melalui surat lewat khadamnya yang berbunyi :
أنت وارث علمي واسرارى وموا هبي وانوارى Artinya : “Engkau pewaris ilmuku, rahasia-rahasiaku, karunia-karuniaku dan cahaya-cahayaku”
Selesai melaksanakan ibadah haji, Syekh Ahmad al-Tijani terus berziarah ke makam Rasulullah saw., di Madinah. Di kota ini beliau menjumpai seorang wali Quthb Syekh Muhammad Ibn Abd al-Karim al-Saman. Dalam salah satu pertemuannya, dikatakan bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian al-Quthb’ al-Jami’. Pertemuan Syekh Ahmad al-Tijani dengan para wali sebagaimana disebutkan di atas, menunjukan hampir semua wali yang dikunjunginya melihat dan meyakini bahwa Syekh Ahmad al-Tijani akan mencapai maqam kewalian yang tinggi lebih dari apa yang dicita-citakannya.
Pada tahun 1196 H., tepatnya ketika Syekh Ahmad al-Tijani berusia 46 tahun, beliau pergi ke pedalaman Aljazair, yaitu Abu Samghun, yang terletak di padang Sahara. Disitu beliau melakukan khalwat (kehidupan menyendiri). Di tempat inilah beliau mengalami pembukaan besar (al-Fath al-Akbar), beliau bertemu dengan Rasulullah saw., dalam keadaan jaga (yaqzhah). Selanjutnya Syekh Ahmad al-Tijani ditalqin (dibimbing) istighfar 100 kali dan shalawat 100 kali, selanjutnya Rasulullah saw. bersabda kepada Syekh Ahmad Al-Tijani :
لامنة لمخلوق عليك من مشايخ الطريق فانا واسطتك وممدك على التخقيق. فاترك عنك جميع ما احذت من جميع الطريق. الزم هذه الطريقة من غير خلوة ولااعتزال عن الخلق حتى تصل مقامك الذى وعدت به وانت على حالك من غير ضيق ولاحرج ولاكثرة مجاهدة واترك عنك جميع الاولياء.
Artinya : “Tak ada karunia bagi seorang makhlukpun dari guru-guru thariqat atas kamu. Maka akulah wasithah (perantaramu) dan pemberi dan atau pembimbingmu dengan sebenar-benarnya (oleh karena itu), tinggalkanlah apa yang kamu telah ambil dari semua thariqat. Tekunilah thariqat ini tanpa khalwat dan tidak menjauh dari manusia sampai kamu mencapai kedudukan yang telah dijanjikannya padamu, dan kamu tetap di atas perihalmu ini tanpa kesempitan, tanpa susah-susah dan tidak banyak berpayah-payah, dan tinggalkanlah semua para Wali.”
Dua macam wirid sebagaiman telah disebutkan di atas, yaitu : Istighfar 100 kali dan Shalawat 100 kali berjalan selama 4 tahun dan pada tahun 1200 H., wirid itu disempurnakan Rasulullah saw., dengan ditambah Hailallah (la Ilaha Illa Allah) 100 kali. Pada bulan Muharram tahun 1214 H. Syekh Ahmad al-Tijani mencapai maqam kewalian yang pernah dicita-citakannya yakni maqam al-Quthbaniyyat al-‘Udhma. Dan pada tanggal 18 Safar pada tahun yang sama Syekh Ahmad al-Tijani mendapat karunia dari Allah swt., memperoleh maqam tertinggi kewalian ummat Nabi Muhammad yakni maqam al-Khatm wal-Katm atau al-Qutb al-Maktum dan Khatm al-Muhammadiyy al-Ma’lum.
Dan setiap tanggal dan bulan tersebut murid-murid Syekh Ahmad al-Tijani, di Indonesia misalnya mensyukuri melalui peringatan ‘Idul Khatmi Lil Qutbil Maktum Syekh Ahmad al-Tijani Ra. Seperti halnya kita berkumpul disini.
• Fase Pengembangan Dakwah
Di Maroko, Syekh Ahmad al-Tijani dan Maulay Sulaiman (penguasa Maroko) bekerjasama dalam memerangi khurafat yang menimbulkan kebodohan, kejumudan, dan kemalasan, sampai beliau dilantik sebagai anggota “Dewan Ulama”.
Dalam keadaan masyarakat yang demikian rusak baik secara moral maupun akidah Syekh Ahmad al-Tijani menyatakan bahwa : “Pada umumnya masyarakat pada waktu itu melakukan ziarah kepada wali-wali Allah hanyalah untuk tujuan yang rusak (agrad fasidat) yakni hanya untuk mengharapkan kesenangan dan syahwat duniawi.” Dalam posisi inilah Syekh Ahmad al-Tijani menetapkan batasan yang sangat ketat kepada murid-muridnya dalam melakukan ziarah kepada wali-wali Allah swt., hal ini dimaksudkan untuk memelihara kemurnian akidah dan kelurusan ibadah.
Upaya Syekh Ahmad al-Tijani dalam melakukan dakwah-dakwah Islam, selain melaksanakan kerjasama dengan Maulay Sulaiman, beliau juga aktif memimpin Zawiyah di kota Fez Maroko, sampai wafatnya pada Hari Kamis tanggal 17 bulan Syawwal tahun 1230 H. Di Kota ini beliau sering dikunjungi orang-orang dari seluruh Maroko ataupun negara-negara tetangganya, dan membina orang yang berminat mendalami ajarannya, sampai melantiknya sebagai pemuka Thariqat Tijaniyah (muqaddam) di daerah masing-masing. Sampai saat menjelang wafatnya Syekh Ahmad al-Tijani tidak pernah lalai dalam melaksanakan tugas dakwahnya, beliau selalu aktif memberi petunjuk dan bimbingan kepada ummat Islam, terutama dalam membina dan mengarahkan murid beliau melalui Zawiyah yang beliau dirikan maupun melalui surat-surat yang beliau kirim keberbagai lapisan masyarakat (fukoro, masakin, agniya, pedagang, fuqaha dan umaro).
Berikut sebagian kutipan surat dakwah syekh Ahmad al-Tijani:
“Saya berwasiat pada sendiri dan kalian semua dengan perkara yang telah diwasiatkan dan diperintahkan oleh Allah swt. Yaitu menjaga batas-batas agama, melaksanakan perintah ilahiyah dengan segenap kemampuan dan kekuatan.
Sesungguhnya pada jaman sekarang, sendi-sendi pokok agama ilahi telah rapuh dan ambruk. Baik secara langsung dan global ataupun secara perlahan-lahan dan rinci. Manusia lebih banyak tenggelam dalam urusan yang mengkhawatirkan, secara ukhrawi dan duniawinya. Mereka tersesat tidak kembali dan tertidur pulas tidak terjaga. Hal ini dikarenakan berbagai persoalan yang telah memalingkan hati dari Allah swt., dan aturan-aturan (perintah dan larangannya). Pada masa dan waktu kini sudah tidak ada seorangpun yang peduli untuk mejalankan dan memenuhi perintah-perintah Allah dan persoalan-persoalan agama yang lainnya. Kecuali orang yang benar-benar ma’rifat kepada-Nya paling tidak orang yang mendekati sifat tersebut.
Wasiat ini dilatarbelakangi atas keprihatinan terhadap kemunduran ummat Islam, baik secara akidah maupun ibadah. Sikap ini menunjukan kepedulian Syekh Ahmad al-Tijani sebagai shahibut thariqah terhadap problematika ummat Islam.
Pada bagian lain dikatakan : Hendaklah kamu sekalian berusaha membiasakan bersedekah setiap hari jika mampu. Meskipun sekedar uang recehan ataupun sesuap makanan, disamping tetap menjaga pelaksaan perkara-perkara fardu yang di wajibkan dalam harta benda, seperti zakat. Sesungguhnya pertolongan Allah swt., lebih dekat kepada mereka yang selalu mengerjakan dan menjaga kewajiban-kewajiban yang bersifat umum/kemasyarakatan.
Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :
“Hendaknya kamu sekalian selalu menjaga silaturahim/menyambung tali persaudaraan dengan norma-norma yang dapat membuat hati menjadi lapang dan menimbulkan rasa kasih sayang. Meskipun hanya menyediakan waktu luang dan memberikan salam. Jauhilah sebab-sebab yang menjadikan kebencian dan permusuhan di antara sanak saudara, atau perpecahan orang tua dan segala hal yang menyulut api dendam dalam relung hati sanak saudara”.
“Hendaklah menjauhi segala pembicaraan yang mengorek aib dan kekurangan sesama muslim. Mereka yang gemar melakukan itu, Allah swt., akan membuka aib/cacat kekurangannya dan mengoyak kekurangan-kekurangan generasi setelahnya”. Wasiat ini menegaskan pentingnya membangun kepedulian sosial dan membangun keutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Pada dasarnya, Syekh Ahmad al-Tijani tidak menginginkan seorang sufi yang hanya memusatkan perhatiannya pada kontemplasi dan zikir, dan mengabaikan masalah kemasyarakatan. Sufi, sebagaimana ditegaskan dalam pengamalan thariqat tijaniyah, harus senantiasa aktif berjuang bersama masyarakat.
Demikianlah sekilas peran dakwah Syekh Ahmad al-Tijani. Lewat ajarannya, dapat dilihat bagaimana beliau memandang penting arti tampilnya seorang sufi/wali di tengah masyarakat, hal ini merupakan bentuk lain dari ketaatannya pada Allah dan Rasul-Nya. Pada masa modern ini, murid tarikat tijaniyah terus aktif melakukan dakwah Islam, di berbagai kawasan Afrika dan mereka mendirikan Zawiyah (Pesantren Sufi). Sampai sekarang mereka aktif mengembangkan dakwah Islam di Amerika, Perancis, dan Cina.
Pada tahun 1987 , Syekh Idris al-‘Iraqi, (muqaddam zawiyah thariqat tijaniyah Fez, Maroko) berkunjung ke Indonesia, menurut pengakuannya sampai saat ini di Perancis, terdapat puluhan zawiyah (pesantren sufi) thariqat tijaniyah.
Pada tahun 1985/1406 H., di Kota Fez, Maroko diselenggarakan muktamar thariqat tijaniyah dan dihadiri utusan dari 18 negara, seperti : Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mali, Mesir, Mauritania, Nigeria, Gana, Gambia, Gina, Pantai Gading, Sudan Senegal, Cina, Amerika Serikat, Perancis dan Indonesia. Utusan dari Indonesia adalah KH. Umar Baidhowi dan KH. Badri Masduqi. Pada pembukaan muktamar tersebut, Raja Hasan II (Raja Maroko) berkenan memberikan sambutan.
Gambaran di atas menunjukan efektifitas metoda tarikat dalam pengembangan dakwah Islam.
Demikianlah sekilas riwayat hidup Syekh Ahmad al-Tijani, semoga bermanfaat


kisah ini bersumber dari kisah sahabat nabi dan awliya temukan banyak kisah yg lain nya dilink tersebut.

Dikirim pada 04 Desember 2014 di Resensi Buku dan Artikel


Banyak orang berdo’a namun tidak kunjung mendapatkan jawaban.Mengapa bisa demikian?

1.Do’a yang minta disegerakan

2.Do’a yang ditunda

3.Do’a yang tidak meminta apa-apa kecuali ridho-Nya

Untuk menjawab pertanyaan anda harus pahami dulu kaidah do’a yang anda lafalkan, yang anda baca setiap hari termasuk kategori yang mana ? Anda harus paham arti dari kalimat do’a anda tersebut kemudian masuknya dalam kategori yang mana dari ketiga kriteria diatas.Kebanyakan dari kita salah beranggapan bahwa dengan membaca do’a ini atau itu akan langsung dikabulkan paling tidak ya beberapa hari atau minggu bisa terjawab do’anya. Saya kasih cara berdo’a yang baik. Berdo’a itu memang afdholnya pakai bahasa arab atau kalimat yang diambil dari Al-Qur’an dan hadist dengan catatan anda paham makna (arti) do’a tersebut. Jika tidak paham maka berdo’alah dengan bahasa yang paling gampang yang biasa anda gunakan sehari-hari. Ingat Allah SWT Maha tahu, Maha Mendengar,Maha melihat dan kuasanya dalam mengabulkan permintaan tidak ada batasan. Setelah anda menyampaikan permintaan tersebut, anda pun harus menjelaskan dengan rinci (detail)dari permintaan anda tersebut meskipun Allah Maha tahu. Mengapa ? Ibarat mengajukan sebuah proposal, dalam proposal tersebut harus berisi kapan, dimana, struktur kepanitiaannya seperti apa, butuh dana berapa dst. Kalau sudah komplit akan disensor penting atau tidaknya, atau harus didahulukan apa ditunda. Kalau sekiranya hal tersebut teramat penting dan sangat dibutuhkan oleh yang mengajukan, maka dengan segera akan disetujui tanpa ditunda-tunda.

Misalnya saat ini yang paling anda butuhkan adalah kerejekian karena terpepet hutang dan harus dilunasi segera, maka sampaikan permintaan anda itu dengan bahasa yang santun dan merendah serta meratap mengiba dan betul-betul memohon belas kasihan-Nya. Setelah menyampaikan anda harus mengheningkan cipta sungguh-sungguh (visualisasi) dengan segenap indera dan hati anda. Ingatlah Allah itu Maha gaib. Pikiran dan hati anda adalah gaib. Untuk menyampaikan permintaan kepada Allah yang Maha gaib, juga harus menggunakan sarana gaib yaitu pikiran dan hati anda karena dimensinya berlainan. Dalam cipta itu bayangkan atau visualisasikan permintaan anda sejelas-jelasnya dari awal hingga akhir, sampai seolah-olah sudah diterima oleh Allah SWT(ikhsan).

Setelah sampai kemudian visualisasikan anda menerima jawabannya, seperti seolah-olah rejeki yang jauh didekatkan kepada anda, yang didalam bumi dimunculkan kedekat anda, sampai benar-benar dekat dan berada dikedua belah telapak tangan anda. Setelah itu kantongi atau ikat dengan lam jalalah yang berarti tidak ada daya dan upaya saya berdo’a dengan permintaan tersebut kecuali dengan ijin-Nya kerejekian tersebut sampai ketangan saya. Dengan demikian pikiran dan hati anda akan tentram tidak lagi menggerutu dan bimbang kapan dikabulkan. Dalam berusaha lahiriah mengerjakan suatu pekerjaan pun akan enak. Dan hasilnya silakan buktikan sendiri, bagaimana nikmatnya berdo’a dan meminta kepada Allah SWT dengan cara tersebut.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.(QS.Al-Mukmin:60)

Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui".(QS.Yunus:89)

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut"(QS.Al-Anfaal:9)

sumber : Ilmu peluruh karang, bagi yg berminat bisa hubungi saya gratis ditread peluruh karang, postingan terkait "Memasuki kesadaran diri", Iblis terpaksa bertamu kepada Rosulullah

Dikirim pada 19 Desember 2013 di Resensi Buku dan Artikel


Hanya dengan google, anda dengan mudahnya mendapat link direct download game dan software terbaru, tanpa perlu pergi ke file-sharing pada umumnya. Keutamaannya adalah anda bisa me-resume download anda, download berbarengan, speed unlimited.
Siapkan IDM dan browser kesayangan, quota internet.
masuk ke google lalu ketikan
?intitle:index.of? rar......
.... diisi dg software yg di cari, contoh gambar diatas.
sumber´
http://www.kaskus.co.id/post/52b1a97cfeca174a178b45d0#post52b1a97cfeca174a178b45d0

Dikirim pada 18 Desember 2013 di software


Seorang pemuda mengadukan permasalahan yang menyesakan dadanya, memusingkan fikirannya, membuat badan terasa sakit dan malas kepada pak tua bijak.

Pak Tua berkata, “ Ambilah segenggam garam masukan kedalam segelas air putih itu, lalu rasakanlah!”

Pemuda menjawab, “asin, pahit, sambil membuang sisa air asin di mulutnya.”

Pak tua lalu membawa segenggam garam dan mengajak pemuda itu ke sebuah telaga luas yang tenang dan jernih airnya, kemudian pak tua menaburkan garam ditangannya ke telaga itu dan mengaduknya dengan ranting, selang berapa lama Pak Tua berkata, “Cobalah rasakan air telaga ini!”

Pemuda menjawab , “segar Kek, enak sekali!” sambil mengulangi meminum air telaga jernih itu.

Sambil menepuk pundak pemuda itu, Pak Tua berkata ,”Itulah ibarat permasalahanmu, segenggam garam itulah permasalahan. Air dalam gelas dan telaga ini ibarat kalbu/ hati dan fikiran kita. JIka kalbu kita hanya berupa air dalam gelas, jelas akan berubah rasanya jika di masukan segenggam garam. Tapi jika kalbu kita berupa air dalam telaga yang luas ini maka tak akan berubah hanya dengan segenggam garam, maka luaskanlah kalbu kita seluas telaga ini, agar sebanyak apapun garam (ibarat dari masalah) tak akan merobah rasa dari air telaga ini!”

Pemuda itu mengangguk mungkin terfikirkan yang menjadi masalah ternyata kalbu dan fikirannya yang tidak luas.

Secara teori mungkin mudah dengan ibarat tersebut, tapi bagaimana agar kalbu ini menjadi lapang? Siapa yang membuat hati jadi lapang?

Apakah kalau masalah saya misalkan lapar, tak punya uang dan pekerjaan akan terselesaikan dengan hanya nasehat ?

Apakah ada hubungan dengan ayat ini : “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu, dan kami tinggikan bagimu sebutan namamu, karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan ” (QS. Alam Nasyrah : 1-6)

Pembaca mungkin bisa memberikan jawabannya.

Dikirim pada 14 November 2013 di Resensi Buku dan Artikel
08 Nov


Pada awrad Abah Umar terdapat banyak tawasul, saya copas dari "akidah ahlus-sunah waljamaah (aswaja) "(kaskus) , pada link buya yahya juga ada, pada link ini juga, pada link sarkub juga, langsung copasan dari tread di kaskus :

Saudara saudaraku masih banyak yg memohon penjelasan mengenai tawassul, wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yg mendengar adzan lalu menjawab dg doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yg sempurna ini, dan shalat yg dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yg terpuji sebagaimana yg telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pd beliau saw, bahkan orang yg mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yg saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yg panjang menceritakan tiga orang yg terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
• Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
• Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yg melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yg melihatnya” (dengan paman nabi saw yg melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

Tentunya doa ini dibaca setelah wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

Dalam buku karangan Muhammad bin Alwi Al maliki Al Hasani, disebutkan nama-nama yang populer yang mengatakan bolehnya tawasul atau mengutip dalil-dalilnya dari imam-imam besar dan para hafidz As sunnah, diantaranya :

Imam Al Hafidz Abu Abdullah Al hakim dalam kitabnya “Al Mustadrak ‘Ala As-Shahihain”, dia telah menyebutkan hadits yang menerangkan tawassulnya Adam AS dengan Nabi SAW dan menshohihkannya.
Imam Al Hafidz Abu Bakar Al Baihaqi dalam kitabnya Dalailu An-Nubuwwah, dia menyebutkan hadits tawassulnya Adam dan yang lain dan dia tidak mengeluarkan hadits-hadits maudhu (palsu).
Imam Al hafidz Jalaluddin As-Suythi dalam kitabnya Al Khashaaisu Al Kubraa, dia menyebut hadits tawassul Adam AS.
Imam Al hafidz Abu Faraj Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Al Wafa’ dia telah menyebutkan hadits tentang tawassul dan yang lain.
Imam Al Hafidz Al Qadhi ’iyadh dalam kitabnya As-Syifaa fi At-Ta’rif bi Huquqi Al Musthafa , dia telah menyebutkan dalam bab ziarah dan bab keutamaan Nabi SAW banyak dari tawassul.
Imam Syaikh Nuruddin Al Qawi yang terkenal dengan Mala Ali Qari dalam syarah kitab As-Syifaa fi At-Ta’rif bi Huquqi Al Musthafa.
Al ‘Allamah Ahmad Syihabuddin Al Khafaji dalam syarah As-Syifa yang berjudul Nasimu ar- Riyadh.
Imam Al Hafidz Al Qasthalani dalam kitabnya Al Mawahib Al Ladunniyah, pada bagian yang pertama dari kitab.
Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Abdul Baqi Az Zurqaani dalam syarah Al Mawahib Al Ladunniyah, juz 1 hal 44.
Imam Syaikhul Islam Abu Zakariyya Yahya An Nawawi dalam kitabnya Al Idhah pada bab ke 6 hal 498.
Al ‘Allamah Ibnu HAjar Al Haitami dalam Hasyiyah ‘ala Al Idhah hal 499, dan dia menulis risalah khusus pada bab ini yang di beri judul Al Jauhar Al Munadzdzam.
Al Hafidz Syihabuddin Muhammad bin Muhammad bin Al Jazri Ad- Dimasyqi dalam kitabnya Uddatu Al Hisn Al Hashin pada bagian keutamaan doa.
Al ‘Allamah Imam Muhammad bin Ali As- Syaukani dalam kitabnya Tuhfatu Ad-Dzakirin, hal161.
Al ‘Allamah Imam Al Muhaddits Ali bin Abdul Kafi As-Subuki dalam kitabnya Syifaa ‘u As-Saqaata fii Ziyaarati Khairi Al Anam.
Al Hafidz ‘Imaduddin Ibnu Katsir dalam menafsiri firman Allah, “Walau Annahum idz dzalamu” dia menyebukan kisah Al ‘atbi bersama seorang arab baduwi yang datang berziarah dan memohon syafaat dengan Nabi SAW dan dia tidak menentang kisah tersebut sedikitpun. Dia juga menyebutkan kisah tawassulnya Adam AS dengan Nabi SAW dalam Al Bidayah wa An-nihayah dan tidak menetapkan kepalsuan kisah tersebut(juz 1 hal 180) Dan menyebutkan kisah seseorang yang datang ke makam Nabi SAW dan bertawassul dengannya dan dia berkata , “sanad kisah tersebut shahih.”(juz 1 hal 91) dia menyebutkan pula semboyan orang-orang Islam “Ya Muhammadah”, (juz VI hal 324)
Imam Al Hafidz Ibnu Hajar yang menyebutkan kisah seseorang yang datang ke makam Nabi SAW dan bertawassul dengannya, dan menshahihkan sanadnya dalam kitab Fathul Baari (juz II hal 495)
Imam Al qurthubi dalam menafsiri firman Allah, “Walau Annahum idz dzalamu” (juz V hal 265).

Walillahi taufiq

Dikirim pada 08 November 2013 di asysyahadatain


Syekhunal Mukarrom adalah sebutan bagi Al-Habib Abah Umar bin Isma’il bin Yahya, beliau lahir di Arjawinangun pada bulan Rabiul Awal 1298 H atau 22 Juni 1888 M.

Ayahnya adalah seorang da’i asal dari Hadromaut yang menyebarkan islam dinusantara yang bernama Al-Habib Syarif Isma’il bin Yahya, sedangkan ibunya adalah Siti Suniah binti H. Sidiq asli arjawinangun.

Diceritakan sewaktu beliau lahir sekujur tubuhnya penuh dengan tulisan arab (tulisan aurod dari syahadat sampai akhir), sehingga sang ayah Syarif Isma’il merasa hawatir akan menjadi fitnah. Maka beliaupun menciuminya terus setiap hari sambil membacakan sholawat hingga akhirnya tulisan-tulisan tersebutpun hilang.

Meninjak ke usia 7 tahun nan, Al-Habib Abah Umar nyantri ke pondok pesantren Ciwedus Kuningan. Sebelum Abah Umar berangkat mesantren ke ciwedus, KH. Ahmad Saubar sebagai pengasuh pesantren ciwedus mengumumkan kepada para santrinya bahwa pesantrennya akan kedatangan Habib agung, sehingga para santrinya diperintahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren sebagai penyambutan selamat datang bagi habib yang sebentar lagi tiba. Kiai juga berpesan agar Habib dihormati, dimuliakan, dan jangan dipersalahkan.

Hingga pada waktu yang ditunggu datanglah Al-Habib Abah Umar ke pesantren ciwedus dalam usianya yang ke 7 tahun, para santripun geger, bingung, dan keder karena ternyata yang datang hanyalah seorang anak kecil.

Diceritakan bahwa Abah Umar diciwedus selalu hadir dalam pengajian yang disampaikan oleh KH. Ahmad Saubar baik dalam pengajian kitab kuning maupun tausiyah, namun disana Abah Umar hanya tidur-tiduran bahkan pulas disamping kiai, sehingga para santri pun mencibir/mencemooh.

Abah Umar menunjukkan khowariknya dengan mengingatkan KH. Ahmad Saubar ketika dalam membaca kitabnya ada kesalahan, begitupun para santri yang deres di kamar pun selalu diluruskan oleh Abah Umar, dengan kejadian tersebut para santri hormat dan memuliakan.
Setelah beberapa waktu mesantren diciwedus KH. Ahmad Saubar memohon kepada Abah Umar untuk diajarkan Ilmu Syahadat sesuai dengan pesan dari gurunya Embah Kholil Madura. Akhirnya KH. Ahmad Saubar mengumpulkan para santrinya untuk di bai’at syahadat oleh Abah Umar, yang didalamnya hadir K. Soheh Bondan Indramayu sebagai santri dewasa yang ikut bai’at syahadat.
Selang beberapa waktu sekitar dua tahunan Abah Umar pindah ke pesantren Bobos dibawah asuhan KH. Syuja’i, dari pondok bobos selanjutnya pindah ke pondok Buntet dibawah asuhan KH. Abbas. Dibuntet Abah Umar bertingkahnya sama seperti waktu di ciwedus, tidak mengaji hanya bermain dibawah meja kiai yang sedang mengajar ngaji, sesekali apabila kiainya ada kesalahan maka dipukullah meja kiai tersebut dari bawah meja sehingga kiainya sadar bahwa yang diajarkannya ada yang salah, tidak berselang lama kiai pun meminta untuk diajarkan syahadat.
Setelah dari pondok buntet Abah Umar berpindah lagi ke pesantren Majalengka dibawah asuhan KH. Anwar dan KH. Abdul Halim, dipesantren inilah Abah Umar menghabiskan waktu selama 5 tahunan.
Sesampainya Abah Umar dirumah, beliau menghimpun sebuah pengajian di panguragan yang dikenal dengan sebutan “Pengajian Abah Umar” atau dalam wacana para santrinya lebih dikenal dengan sebutan “Buka Syahadat atau Ngaji Syahadat”, sebab beliau menyampaikan Hakekat Syahadat dari Syarif Hidayatullah.

Ngaji Syahadat nya Abah Umar pun terdengar keseluruh peloksok negeri bahkan sampai ke Malaysia, sehingga banyak orang yang datang untuk mencari slamet dunya akherat dengan Itba’ dan bai’at kepada Abah Umar. Karena disaat itu sudah banyak yang menunggu pembukaan syahadat tersebut, mereka yang menunggu adalah orang-orang yang mendapat pesan dari para guru dan orang tua yang ma’rifat.
Dengan demikian, dalam waktu yang singkat semakin ramailah pengajian Abah Umar tersebut baik itu yang kalong maupun yang mukim. Setiap malam jum’at, panguragan dihadiri oleh para jamaah yang ingin ngaji syahadat.
Bahkan menurut berita dari orangtua dulu ketika belanda melewati panguragan mereka berkumandang “Mawlana ya Mawlana…..” dengan hidmatnya (terpengaruh oleh karomatnya Abah Umar).
Pada Tahun 1947 Abah Umar membentuk pengajiannya menjadi sebuah nama organisasi Asy-Syahadatain dengan mendapatkan izin dari presiden Soekarno, karena disaat itu setiap perkumpulan dengan banyak orang tanpa adanya organisasi yang jelas maka dapat dikategorikan sebagai usaha pemberontakan dan dapat mengganggu ketahanan nasional. Setelah itu, Asy-Syahadatain semakin besar dan ramai yang para jamaahnya menyebar sampai manca Negara.
Karena semakin ramai, maka para kiai jawa (yang tidak senang) mendengar kepesatan Asy-syahadatain, sehingga mereka hawatir para santrinya akan terbawa oleh Abah Umar, sehingga para kiai tersebut berkumpul untuk menyatakan bahwa ajaran Abah Umar adalah sesat. Akhirnya Abah Umar disidang dipengadilan Agama yang dikuasai para kiai tersebut pada saat itu, dalam pengadilanpun Abah Umar ditetapkan bersalah dengan tidak ada pembelaan dan penjelasan apapun. Akhirnya Abah Umarpun dipenjara bersama beberapa murid-muridnya termasuk KH. Idris Anwar selama 3 bulan, namun belum genap tiga bulan Abah Umar sudah dibebaskan karena sipirnya banyak yang bai’at syahadat kepada Abah Umar.
Pada tahun 1950 pertama kalinya Abah Umar menyelenggarakan tawassulan, dan pada malam itu pula Abah Umar kedatangan beberapa tamu agung, hal inipun dengan izin Allah dapat disaksikan secara batin oleh beberapa santri sahabat yang diantaranya adalah KH. Soleh bin KH. Zaenal Asyiqin.
Para tamu tersebut adalah Kanjeng Nabi Muhammad saw. beliau hadir dalam acara tawassul tersebut secara Bathiniyah dan memberikan title/gelar/derajat kepada Abah Umar yaitu Syekh Hadi, diiringi pula oleh malaikat jibril dan memberinya gelar Syekh Alim. Kemudian disusul Siti Khodijah memberi gelar Syekh Khobir, Siti Fatimah Azzahra memberi gelar Syekh Mubin, Sayyidina Ali memberi gelar Syekh Wali, Syekh Abdul Qodir memberi gelar Syekh Hamid, Syarif Hidayatullah Gunung Jati memberi gelar Syekh Qowim, dan yang terakhir Nyi Mas Ayu Gandasari datang dengan memberi gelar Abah Umar sebagai Syekh Hafidz.
Dengan kejadian tersebut, menurut KH. Soleh sebagai malam pelantikan dinobatkannya Al-Habib Abah Umar sebagai Wali Kholifaturrosul Shohibuzzaman. Sehingga perkembangan wiridnya pun semakin hari semakin bertambah sesuai dengan yang diwahyukan oleh Allah.


Pada tahun 1953 pertama kalinya Abah Umar mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di panguragan (Muludan), dengan dihadiri oleh Jamaah Asy-syahadatain sampai mancanegara.
Sebagai seorang guru syahadat Abah Umar banyak menuntun para murid/santrinya untuk beribadah dan berdzikir (wirid) dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Disamping beribadah, wirid, dan tafakkur (ngaji rasa), Abah Umarpun tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmaniyah. Beliau bertani, berkebun, dan beternak kambing.


Pada tahun 1960 an Jamaah Asy-Syahadatain dibekukan pemerintah karena dianggap meresahkan masyarakat, alasan pembekuan tersebut hanya didasarkan pada dugaan dan laporan seseorang yang menjabat bahwa tuntunan tawassul Abah Umar dianggap menyesatkan.
Dan setelah adanya perundingan antara para ulama se-nusantara dengan para ulama Jamaah Asy-Syahadatain, akhirnya disepakati untuk membuka kembali Jamaah Asy-Syahadatain karena menurut kesepakatan para ulama disaat itu tidak ada satu tuntunanpun yang dianggap sesat dari semua tuntunan Abah Umar tesebut. Dan pada tahun 1971 Jamaah Asy-Syahadatain bergabung dengan Golkar melalui GUPPI dalam rangka ikut membangun kesejahteraan Negara.
Pada tahun 1973 an Masjid Abah Umar kedatangan khodim baru yang bernama Mar’i, ia yang menjadi pelayan didalam lotengnya Abah. Pada suatu hari ia mengambil pentungan kentong masjid dan memukulkannya kepada Sirah Abah Umar sehingga Abah Umarpun pingsan dan dibawa kerumah sakit dibandung untuk dirawat.
Dirumah sakit abah sempat dawuh/membaca ayat Al-quran

Dengan dawuhnya Abah Umar tersebut, para kiai yang menyaksikannya pada bersedih, karena itu merupakan pertanda Abah Umar akan Kesah (pergi). Akhirnya tidak berselang lama Abah Umar wafat pada tanggal 13 Rajab 1393 H atau 20 Agustus 1973 M.sumber :mencari ridho Allah

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Setelah satu tahun lamanya Cakrabuana pulang ke Cirebon dengan diberi nama oleh Syekh Bayan adalah Bayanullah, Syekh Abdullah pun memberi nama Abdullah Iman. Dalam perjalanannya menuju Cirebon, Cakrabuana mampir di Aceh sebulan lamanya, kemudian mampir di Palembang selama tiga bulan.

Tidak berapa lama kemudian Cakrabuana mempunyai bayi perempuan di beri nama Ratu Mas Pakungwati, kemudian Ki Kuwu Cakrabuana membangun Kraton Pakungwati, tak lama berselang KI Kuwu mempunyai bayi laki-laki bernama Pangeran Cerbon.

Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan dan Syarifah Mudaim/ Nyi Rarasantang berziarah ke Mekah dan ke makam Nabi Muhammad SAW dalam usia kandungannya yang ke tujuh bulan. Tidak berapa lama kemudian Syarifah Mudaim melahirkan bayi laki-laki yang elok sekali , cahayanya meredupkan cahaya matahari pada tanggal 12 mulud ba’da shubuh, bayi tersebut langsung dibawa thawaf oleh Kanjeng Sultan dan diberi nama Syarif Hidayatullah denga disaksikan oleh para ulama dan para mukmin.

Syarifah Mudaim mengandung lagi berapa tahun kemudian dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Syarif Nurullah. Tak lama berselang Kanjeng Sultan wafat dan kerajaan Mesir dipimpin oleh Patih Jamaludin sebagai wakil karena Syarif Hidayatullah masih kecil.

Diceritakan setelah Syarif Hidayatullah beranjak dewasa, beliau sangat ingin berguru kepada Kanjeng Nabi Muhammad walaupun pada saat itu pada dzohirnya Kanjeng Nabi telah wafat. Karena tidak tahan dengan rasa rindunya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, Syarif Hidayatullah meminta izin kepada ibunya untuk mencari Kanjeng Nabi dan diizinkan oleh ibunya.

Dalam perjalanannya Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nagasaka yang memberi petunjuk untuk pergi ke makam Nabi Sulaiman di pulau Majeti. Sebelum sampai beliau bertemu dengan Pendeta Ampini, yang mengajak bersama-sama menuju Majeti. Sesampainya disana Syarif Hidayatullah hatur hormat, namun Pendeta Ampini malah mencari cincin Nabi Sulaiman, sehingga datanglah petir menyambar Pendeta karena memikirkan keduniaan. Dan Syekh Syarif terlempar ke puncak Gunung, segera Syekh Syarif bertobat karena telah menemani orang yang berlaku durjana.

Setelah bertobat Syekh Syarif bertemu dengan Pertapa yang disampingnya terdapat kendi pertula. Syekh Syarif berkata, “Hai Pertapa kendi itu milik siapa? Saya ingin minum.” Pertapa menjawab, “Wallahu a’lam tatkala saya mulai bertapa kendi itu sudah ada.” Syekh Syarif berkata , “Hai Kendi pertula milik siapa engkau? Saya ingin minum. ” Kendi itu menjawab, “saya berasal dari surga, turun pada masa Nabi Nuh, saya adalah milik tuan. ” Kendi diminum airnya tidak sampai habis lalu di letakan. Kendi segera berucap, “Tuan akan menjadi raja seketurunan akan tetapi tidak selamanya akan direbut hingga terjajah.” Kendi lalu diminum lagi hingga habis . Kendi berkata,”Selanjutnya negeri tuan abadi tidak terjajah, saya kelak akn mengabdi kala tuan menjadi raja.”Lalu kendi segera terbang ke angkasa.

Kemudian Syekh Syarif melanjutkan perjalanannya dengan di hadang berbagai godaan dunia.Tak lama kemudian Syekh Syarif dilanda gelap gulita hingga sengsara. Kemudian datanglah Nabi Ilyas memberi petunjuk untuk naik ke bukit menemui penunggang kuda, sesampainya disana bertemu dengan penunggang kuda yaitu Nabi Chidir dan Syeh Syarif pun diajak untuk naik kuda dan diantarkan naik keatas sampai di negeri ajrak. Di Negri Ajrak Syeh Syarif masuk kedalam masjid Mirawulung dan bertemu arwah para Syuhada dan para mukmin.Syekh Syarif bertafakur hingga diridhoi Allah untuk naik ke langit tujuh dan bertemu dengan Rosulullah.

Setelah sowan ke Kanjeng Nabi Muhammad , Syekh Syarif pulang ke negri Mesir menemui Ibunda Rarasantang . Beberapa lama di Mesir kemudian Syekh Syarif menunaikan ibadah haji, sepulang berhaji beliau diangkat menjadi Sultan Mesir Maulana Mahmud.

Setelah beberapa waktu Ibunda Rarasantang memerintahkan kepada Syekh Syarif untuk pergi ke tanah Jawa menemui Ki KUwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif mematuhinya dan kesultanan diserahkan kepada Syarif Nurullah.

Sesampainya di Cirebon , Syekh Syarif sowan ke Syekh Nurjati kemudian ke Sunan Ampel untuk mendapat wejangan-wejangan dengan diantar oleh Ki Kuwu Cakrabuana, dan Syekh Syarif kemudian dinikahkan dengan Putri Ki Kuwu CAkrabuana, Nyi mas Pakungwati.

Setelah itu barulah Syeh Syarif menyebarkan Agama Islam ditatar pasundan, Cirebon dan sekitarnya sampai ke tanah China, India dll.

Suatu hari KIKuwu cakrabuana dan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati bermufakat untuk menghadap Prabu Siliwangi untuk mengajaknya masuk Islam.

Di ceritakan di kraton Pajajaran Prabu Siliwangi dan pengiringnya hendak bertolak ke Cirebon meninjau cucunya Kanjeng Sinuhun, tidak lama kemudian Ki Buyut Talibarat menjumpai Sang Prabu dan mempengaruhinya untuk tidak masuk Islam , sehingga Sang Prabu pun merobah Kratonnya menjadi hutan dan seluruh pengiringnya menghilang dikarenakan tidak mau masuk Islam dan sudah mengetahui Kanjeng Sinuhun akan datang .

Tidak berapa lama kemudian datanglah Kanjeng Sinuhun dengan Ki Kuwu Cakrabuana, mendapati kraton telah berubah menjadi hutan, namun beliau masih dapat melihat kraton Pajajaran seperti semula, lalu masuk dan mengislamkan sebagian penghuninya yang masih ada, namun tidak didapatinya Sang Prabu.

Setelah beberapa waktu kemudian Kanjeng Sinuhun memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan Prabu Siliwangi, namun didapatinya telah menjadi macan/harimau. Kanjeng Sinuhun tetap mengajak Sang Prabu masuk Islam, dan akhirnya dengan berbagai macam usaha Sang Prabu pun mengikuti agama Islam dan tetap menjadi macan yang akan melindungi keturunan Kanjeng Sinuhun Gunung Jati.

(sumber : Mencari Ridho Allah, Abdul Hakim M)

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Diceritakan datanglah seorang mubaligh dari Baghdad ke Nusantara yang bernama Syekh Idhofi/Syekh Datul Kahfi / Syekh Nurjati bersama adik perempuannya yang bernama Nyai Mas Ratu Subanglarang, mereka berdua singgah di Gunung Jati. Nyi Mas Ratu Subanglarang pun diperistri oleh Raja Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata wisesa Sri Maha Prabu Siliwangi atas dasar istikhoroh dan petunjuk dari Allah. Sri Maha Prabu Siliwangi memiliki tiga orang istri dan empat puluh anak.

Pada suatu hari Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif (petunjuk dari Allah) untuk mengikuti Sang Prabu berburu ke hutan. Walaupun Sang Prabu menolak akhirnya Nyi Mas Ratu Subanglarang pun tetap ikut dalam rombongan Sang Prabu berburu ke hutan.

Sesampainya di hutan mereka menemukan seorang bayi laki-laki dengan posisi nyungsang diatas rerumputan, maka bayi laki-laki tersebut diangkat menjadi anak Prabu Siliwangi atas keinginan Nyi Mas Ratu Subanglarang dengan diberi nama Walangsungsang (Embah Kuwu Sangkan Pangeran Cakrabuana).

Dan beberapa selang waktu kemudian , Nyi Mas Ratu Subanglarang mendapat hawatif yang sama . Sesampainya dihutan bersama rombongan Prabu Siliwangi, beliau menjumpai petani yang sedang menanam terong dan saat rombongan kembali dari berburu dengan idjin Allah terong-terong tersebut telah waktunya panen, sehingga Nyi Mas Ratu Subanglarang pun memetik satu buah lalu dimakannya terong tersebut. Sesampainya di kraton Nyi Mas Ratu Subanglarang pun akhirnya hamil, sang Prabu Siliwangi sangat bahagia , dan dari kehamilan tersebut lahirlah seorang bayi perempuan yang bernama Nyi mas Dewi Rarasantang.

Pada usianya yang telah menginjak dewasa Walangsungsang bermimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sehingga Walangsungsang memohon restu dari sang Prabu Siliwangi untuk mempelajari agama Islam. Sang Prabu pun marah besar dan Walangsungsang pun akhirnya di usir dari Kraton Pajajaran.

Mengetahui kakaknya diusir, Nyi Rarasantang pun menyusul kakaknya keluar dari Kraton Pajajaran. Sri Maha Prabu Siliwangi kebingungan karena putrinya hilang, sehingga mengerahkan semua pasukannya untuk mencari sang putri Nyi Rarasantang, namun tak di temukan.

Diceritakan Walangsungsang tiba di Gunung Maraapi (Rajadesa Ciamis Timur) bertemu dengan Sanghyang Danuwarsih (Ki kuwu Cirebon Girang) dengan mengutarakan maksud kedatangannya mencari Guru Syahadat, namun tidak disanggupinya malah menikahkan dengan putrinya yang bernama Nyi mas Endang Geulis.

Sedangkan Nyi Rarasantang berada di Gunung Tangkuban Parahu, ia bertemu dengan Nyi Endang Sukati serta memohon bantuan untuk dipertemukan dengan kakaknya, namun Nyi Endang Sukati hanya dapat memberikan kesaktian dan petunjuk untuk menemui Ki Ajar Sakti di Gunung Liwung.

Nyi Rarasantang pun bertemu dengan Ki Ajar Sakti, beliau memberitahukan bahwa kakaknya Walangsungsang telah beristri di Gunung Maraapi dan Nyi Rarasantang pun diberi nama Ratna Eling yang kelak akan mempunyai putra yang punjul sebuana. Tidak berapa lama akhirnya kakak adik tersebut bertemu di Gunung Maraapi.

Setelah sebulan lamanya di Gunung Maraapi , Walangsungsang Nyi Rarasantang, Nyi mas Endang Geulis melanjutkan perjalanannya mencari Guru Syahadat. Nyi mas Endang Geulis dan Nyi Rarasantang pun di masukan kedalam cincin ampal yang dipakai Walansungsang agar perjalanannya lebih mudah.

Di gunung Ciangkup mereka bertemu dengan Sanghyang Nango, namun ia tidak bisa mengajarkan Ilmu Syahadat dan mereka hanya diajarkan ilmu kanuragan. Selanjutnya di Gunung Kumbang mereka bertemu Sanghyang Naga, di Gunung Cangak mereka bertemu Sang Pendeta Luhung. Namun mereka belum juga menemukan guru yang mereka cari.

Akhirnya mereka bertiga menuju Gunung Jati dihadapan Syekh Nurjati mereka mengemukakan tujuannya. Syekh Nurjati segera memberikan wejangan Ilmu Syahadat Syariat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Walangsungsang diberi nama Shomadullah dan di ijinkan membangun sebuah dukuh, dan bertemulah dengan Ki Gedeng Alang Alang di Lemah Wungkup, Ki Gedeng Alang Alang memberinya nama Cakrabumi di situlah Walangsungsang membangun sebuah dukuh yaitu dukuh Cirebon. Dinamakan Cirebon karena dukuh yang dibangun oleh Cakrabumi menjadi terkenal karena terasi (Grage) nya yang dibuat oleh Cakrabumi, yang pembuatannya dari Rebon (Udang kecil) dan air perasannya dibuat petis (cai rebon/ air udang).

Ketenaran terasi tersebut sampai ke kraton Rajagaluh, sehingga dukuh Cirebon harus membayar upeti berupa terasi gelondongan ke kerajaan Rajagaluh, dan diangkatlah Ki Gedeng Alang Alang sebagai Kuwu dan setelah meninggalnya jabatan kuwu diserahkan kepada Cakrabumi dengan gelar Kuwu Cerbon Cakrabuana.

Setelah sekian waktu Cakrabuana diperintahkan oleh Syekh Nurjati untuk bai’at tabaruk kepada Syekh Maulana Ibrahim di Negara Campa. Cakrabuana mendapatkan perintah dari Syekh Maulana Ibrahim untuk menunaikan ibadah haji dengan membawa surat untuk Syekh Bayan dan Syekh Abdullah di Mekah.

Cakrabuana mematuhi perintah sang guru, mohon pamit meneruskan perjalanan menuju Mekkah dengan menaiki Mancung bersama adiknya Nyi Rarasantang. Sesampainya di Mekah menghadap Syekh Bayan dan Syekh Abdullah menyampaikan surat dari Syekh Maulana Ibrahim.

Diceritakan di Negara Mesir Kanjeng Sultan Maulana Mahmud Syarif Abdullah sedang bermuram durja karena ditinggal sang permaisuri, siang dan malam berdzikir kepada Allah untuk mendapat kasih sayang-Nya . Pada saat tafakurnya Kanjeng Sultan mendapat petunjuk dari Allah bahwa jodohnya ada di Mekah. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus patihnya untuk mencari seorang perempuan yang pantas untuk jadi permaisuri.

Tidak berapa lama mereka melihat seorang perempuan yang cantik sekali melebihi lainnya yaitu Nyi Rarasantang, lalu dikuntitnya sampai bertemu di rumah Syeh Bayan. Perihal Kanjeng Sultan disampaikannya kepada Nyi Rarasantang. Nyi Rarasantang dan Cakrabuana ikut ki Patih ke Mesir menghadap Kanjeng Sultan Mesir dan mereka pun ditempatkan di rumah Ki Penghulu Jamaludin.

Kanjeng Sultan bertemu dengan Nyi Rarasantang di masjid Tursina, beliau sangat setuju sekali mirip dengan permaisurinya yang telah meninggal. Segera Nyi Rarasantang dilamarnya, namun Nyi Rarasantang meminta maskawin putra laki-laki Waliyullah yang punjul sebuana, permintaan tersebut disanggupi oleh Kanjeng Sultan atas kehendak dan petunjuk dari Allah. Akhirnya Nyi Rarasantang menikah dengan Kanjeng Sultan Syarif Abdullah dan diberi nama Hj. Syarifah muda-im.

Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain


Disebutkan bahwa zaman akhir dibagi kedalam 7 zaman, dan pada setiap zamannya terdapat shohibuzzaman , yaitu :

Zaman Nur,adalah zaman cahaya/penerang dari zaman kegelapan/jahiliyah. Shohibuzzamannya adalah Kanjeng Rosulullah Nabi Muhammad SAW, sebagai pemimpin para nabi, rosul, dan para wali yang tidak ada Nabi sesudahnya melainkan para wali . Pendampingnya adalah Syekh Ahmad ar-rifai, dan ada yg berpendapat pendampingnya adalah Sayyidina Ali KW.

Zaman Mubin, adalah zaman penjelas dimana para habib dibunuh mati , artinya sudah jelas dapat dibedakan antara golongan ahli surga yang cinta kepada keluarga Nabi dan ahli neraka yang tidak mencintai keluarga Nabi.
Shohibuzzamannya adalah Syekh Al-Imam Ali Zaenal Abidin bin Sayyid Husen bin Fatimah Az-zahro, Beliau sebagai Sulthonul Awliya Qutburrobbani Kholifaturrosul pertama , pendampingnya adalah Syekh Ahmad Baidlawi.

Zaman Musthofa, adalah zaman pilihan , Shohibuzzamannya adalah Syekh Al-Iman Ja’far Shodiq bin Muhamad al Baqir bin Syeh Ali Zaenal Abidin, pendampingnya adalah Syekh Ahmad Ash-Shodiq.
Zaman ‘Alim , adalah zamannya ilmu pengetahuan, disaat itu ilmu pengetahuan sedang dalam puncak keemasannya, baik dari golongan ummat Islam maupun dari golongan kaum barat. Shohibuzzamannya adalah Syekh Sayyid Hasan Asy-Syazali. Pendampingnya adalah Syekh Ma’abulma’al dan menurut qoul lain pendampingnya Syekh Abu Yazid Busthomi.

Zaman Bathin adalah zamannya ilmu bathin/eling Allah, syetan Iblis pada hancur kalah dalam peperangan melawan hatinya orang mukmin. Shohibuzzamannya adalah Sulthanul Awliya Qutburrobbani Syekh Abdul Qadir Jaelani dan menurut qoul lain Shohibuzzamannya adalah Sayyid Yahya, pendampingnya Syekh Ahmad Mafakhir.
Zaman Dzohir adalah zamannya ilmu dzohir/ kedigjayaan banyak orang sakti dan digjaya. Shohibuzzamannya adalah Kanjeng Gusti sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah Gunung Jati, pendampingnya adalah Syekh Muhyi Pamijahan.

Zaman Muhsin, adalah zaman pemberesan / pembersihan hati dan pelurusan amal dan akhlak, karena pada zaman ini banyaknya kemunafikan kemusyrikan kemurtadan takabur dan semacamnya. Shohibuzzamannya adalah Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah Kebon Melati Sayyidi syekhunal Mukarom Abah Umar bin Ismail bin Yahya, pendampingnya adalah Al=Habib Ahmad Nuril Mubin Jenun.
Abu Hasan Asy-syadzali memberikan lima patokan sebagai syarat menjadi murid sang kholifah rosul yaitu :

Bertaqwa kepada Allah SWT baik dalam keadaan sunyi maupun dalam keadaan ramai.
Mengikuti sunnah Rosulullah SAW baik yang berkaitan dengan ucapan maupun perbuatan.
Menjauhkan diri dari Orang (Khalwat) maksudnya tidak cinta pada keduniaan.
Ridha kepada Allah SWT baik dalam keadaan memiliki sedikit harta maupun banyak.
Senantiasa kembali kepada Allah SWT (mengingat-Nya) baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sulit.
(sumber: Mencari Ridho Allah, Abdul Hakim M)

SABILUL KHOYROT

Syahadat menjadi tempate badan rohani

Sholawat Tunjina menjadi pakaian badan rohani

Ya Kafi Ya Mubin Ya Kafi Ya Mughni menjadi panganane/makanan badan rohani

Ya Fattah Ya Rozzak Ya Rohman Ya Rohim menjadi panganane badan jasmani

Inna Fatahna, menjadi tunggangane/kendaraan badan rohani

Sholat Dhuha menjadi gudang makanan badan jasmani

Sholat Tahajjud menjadi gudang makanan badan rohani

Ya Hayyu ya qoyyum ya hannan ya hannan ya mannan ya mannan ya dayyan ya burhan ya sulthon la ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin, menjadi jalan badan rohani

La ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin, menjadi Hudan Kenikmatan jasmani rohani

Ya Rosulullah hi jiina, menjadi penjaga jalan lalu lintas badan rohani

Allah memberikan asma kepada makhluknya yang berakal 4000 asma

2000 asma untuk kanjeng Nabi Muhammad, pengamalannya cukup dengan membaca 8 Asma saja yaitu Ya Hadi Ya Alim Ya Khobir Ya Mubin Ya Wali Ya Hamid Ya Qowim Ya Hafidz

1000 asma untuk kanjeng Syekh Abdul Qodir Jaelani, pengamalannya cukup dengan membaca 4 asma yaitu Ya Hadi Ya Alim Ya Khobir Ya Mubin

900 asma untuk para nabi, pengamalannya cukup dengan bertawassul kepada 25 nabi

90 asma untuk para malaikat, pengamalannya cukup dengan bertawassul kepada 10 malaikat

9 asma untuk para wali, pengamalannya dengan cara bertawassul kepada para wali

1 asma untuk para mukmin sejagat, pengamalannya dengan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dengan mudzakaroh (eling Allah).


Dikirim pada 27 Oktober 2013 di asysyahadatain



6) Menyebutkan kalimat Ali Jibril (keluarga Jibril)
Dalam tuntunan syekhuna terdapat doa yang bertawassul kepada para nabi, wali, dan para malaikat seperti berikut;
اللهم بجاه آدم العالى الهادى و آل آدم العالى الهادى .....
"ya Allah dengan derajat keagungannya Nabi Adam dan Keluarga Nabi Adam ………"
Dari kutipan doa tersebut tidaklah tampak suatu masalah, karena pada hakekatnya Nabi Adam memiliki keluarga. Akan tetapi pada lanjutan dari doa tersebut disebutkan nama para malaikat dan keluarganya dengan kutipan sebagai berikut;
اللهم بجاه جبريل العالى الهادى و آل جبريل العالى .....
"ya Allah dengan derajat keagungannya Malaikat Jibril dan Keluarga Malaikat Jibril ………"
Sehingga banyak kalangan yang menyalahkan doa tersebut, dengan alasan bahwa malaikat tidaklah memiliki keluarga seperti manusia/nabi.
Pandangan mengenai doa tersebut merupakan pandangan yang dangkal terhadap penafsiran suatu doa atau kalimat. Dalam doa tersebut disebutkan "Ali Adam, Ali Jibril, dst".
Kata/kalimat "Ali" dalam kalimat arab memiliki 12 makna, sehingga tidaklah hanya diartikan sebagai keluarga nasab saja. Seumpama dengan istilah keluarga Nabi Nuh, beliau memiliki seorang anak yang membangkang. Maka anak tersebut bukanlah sebagai keluarga Nuh, sehingga keluarga nasab tidaklah termasuk dalam istilah "Ali" / keluarga disini.
Begitupun dengan keluarga Fir`aun, dalam Al-quran surat Al-Baqarah ayat 48 disebutkan tentang keluarga fir`aun, dan didalamnya tidak termasuk istri firaun yaitu siti Asiyah, sehingga arti atau makna dari kata "Ali" disini adalah teman-teman seakidahnya.
قوله (مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ) لاَيُرَدُّ أَنَّ الآل لاَيُضَافُ إِلاَّ لِذِى شَرَفٍ ِلأَنَّ فِرْعَوْنَ ذُو شَرَفٍ دُنْيَوِيٍّ, وَالْمُرَادُ أَعْوَانُهُ (تفسير الصاوى فى الجزء الأول ص 50)
"(dari keluarga/golongan fir`aun) tidak ditolak [fir`au menggunakan kalimat `Ali fir`aun`] sesungguhnya lafadz `Ali` tidak disandarkan kecuali kepada yang memiliki kemuliaan, dan karena sesungguhnya fir`aun memiliki kemuliaan dunia [seorang raja mesir], dan yang dimaksud [Ali Fir`aun] adalah teman/ bala tentaranya".
Dengan demikian, kalimat keluarga malaikat Jibril adalah bala tentaranya, karena Allah menciptakan Jibril dengan rupa yang sama bukan satu wujud saja, sehingga dikatakan sebagai "Jabro`il".
Keterangan mengenai bala tentara jibril tersebut sebagai berikut:
وَأَمَّا جِبْرِيْل .... وَيُرْوَى أَنَّهُ يَنْغَمِسُ فِى بَحْرِ النُّوْرِ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَمِائَةٍ وَسِتِّيْنَ مَرَّةً فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْهُ قَطْرَاتٌ مِنَ النُّوْرِ فَيَخْلُقُ اللهُ مِنْ تِلْكَ اْلقَطَرَاتِ مَلاَئِكَةً عَلَى صُوْرَتِهِ يُسَبِّحُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ..... (بدائع الزهور ص35)
"Dan diriwayatkan sesungguhnya (Jibril) menyelam didalam lautan cahaya (nur) setiap hari 360 kali, maka ketika (jibril) keluar dari lautan tersebut, menetes darinya tetesan-tetesan cahaya. maka Allah menciptakan dari tetesan-tetesan tersebut malaikat yang serupa ujudnya (dengan malaikat jibril), maka mereka mensucikan Allah sampai hari kiamat".
Dalam kitab yang samapun dijelaskan pula bahwa selain malaikat jibrilpun memiliki bala tentara seperti halnya malaikat jibril.
Bahkan terdapat keterangan sebagai berikut;
فَجَأَةِ الْمَلَكُ الْمَوْتُ أَوْ بَعْضُ أَعْوَانِهِ (الفتاوى الحديثية ص 20)
"maka malaikat maut atau sebagian bala tentaranya telah datang".
7) Qunut Nazilah
Qunut Nazilah adalah qunut yang dibaca pada I`tidal rokaat akhir sholat fardhu yang lima waktu. Qunut nazilah ini banyak dilakukan oleh para ulama salaf karena berkenaan dengan sebab-sebab tertentu, seperti karena adanya wabah penyakit, dsb. Keterangan mengenai qunut nazilah ini banyak terdapat dalam kitab-kitab salaf, diantaranya adalah;
(ثُمَّ) بَعْدَ ذَلِكَ سُنَّ (قُنُوْتٌ فِى اعْتِدَالِ آخِرَةِ صُبْحٍ مُطْلَقًا وَ) آخِرَةِ (سَائِرِ الْمَكْتُوْبَاتِ لِنَازِلَةٍ) كَوَبَاءٍ وَقَحْطٍ وَعَدُوٍّ (فتح الوهاب فى الجزء الأول ص 43)
"Kemudian setelah itu (setelah I’tidal) disunnahkan qunut disaat I’tidal pada akhir sholat subuh, dan akhir seluruh sholat fardu dikarenakan ada cobaan yang turun (menimpa/Nazilah), seperti penyakit wabah, kemarau, dan musuh."
8) Imam menghadap makmum
Ketika berdzikir selesai salam dari shalat, maka dianjurkan bagi imam untuk memutar tubuhnya sehingga menghadap makmum. Hal ini dimaksudkan mendidik makmum untuk berdzikir dengan melakukan pengawasan yang penuh. Mengenai posisi imam setelah salam dari sholat yaitu menghadap makmum, tersebut dalam beberapa kitab salaf diantaranya adalah;
بَابُ يَسْتَقْبِلُ اْلإِمَامُ النَّاسَ إِذَا سَلَّمَ حَدَّثَنَا عَنْ سَمُرَةَ بْن جُنْدَبٍ قَالَ كَانَ النَّبِي ص م. إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ (صحيح البخارى فى الجزء الأول ص 205)
"(Bab tentang menghadapnya imam kepada makmum setelah salam) diceritakan kepadaku dari samuroh bin Jundab ia berkata: Rasulullah saw. apabila selesai sholat, maka beliau menghadap kami dengan wajahnya"
أَمَّا اْلإِمَامُ فَيُسْتَقْبَلُ الْمَأْمُوْمِيْنَ بِوَجْهِهِ فِى الدُّعَاءِ وَلِكُلِّ جُلُوْسٍ ذَاكِرًا اللهَ تَعَالَى بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ (إرشاد العباد ص 20)
"adapun bagi imam, maka hendaknya menghadap makmum dengan wajahnya didalam berdoa, dan bagi setiap duduk berdzikir kepada Allahsetelah sholat subuh sampai matahari terbit."
9) Wanita sholat jama`ah dan jum`at dimasjid
Mengenai hukum atau kedudukan tentang sholat jamaahnya kaum wanita dimasjid bukan merupakan hal yang aneh, karena hal ini telah dicontohkan oleh kaum muslimin dari sejak lama, hal inipun tertulis dasar hukumnya dalam kitab-kitab salaf, diantaranya;
بَابُ اسْتِئْذَانِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا بِالْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسْجِدِ حَدَّثَنَا عَنِ النَّبِيِّ ص م. قَالَ إِذَا اسْتَأْذَنَتْ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَمْنَعْهَا (صحيح البخارى فى الجزء الأول ص 211)
"Bab tentang meminta izinnya wanita kepada suaminya untuk pergi kemasjid. telah diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda; Apabila istrimu meminta izin (untuk pergi kemasjid), maka janganlah dilarang."
قَالَ ابْنُ عُمَرَ قَالَ رَسُوْلُ الله ص م. لاَتَمْنَعُوْا النِّسَاءَ مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِاللَّيْلِ (صحيح مسلم فى الجزء الأول ص 187)
"Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu melarang perempuan keluar untuk pergi kemasjid pada waktu malam hari."
Adapun kebiasaan wanita sholat jum`at dimasjid merupakan hal yang aneh dinusantara ini, padahal belum diketemukan dalil tentang haramnya wanita sholat jum`at.
Dalam beberapa kitab salaf terdapat dalil tentang sahnya kaum wanita sholat jum`at dan tidak mengulang sholat dhuhurnya karena dhuhur itu sah dan sebagai pengganti dhuhur.
(وَمَنْ صَحَّتْ ظُهْرُهُ) مِمَّنْ لاَتَلْزَمُهُ اْلجُمْعَةُ كَالصَّبِيِّ وَاْلعَبْدِ وَالْمَرْأَةِ وَالْمُسَافِرِ بِخِلاَفِ الْمَجْنُوْنِ (صَحَّتْ جُمْعَتُهُ) ِلأَنَّهَا تَصِحُّ لِمَنْ تَلْزَمَهُ فَلِمَنْ لاَتَلْزَمَهُ أَوْلَى وَتُجْزِئُهُ عَنِ الظُّهْرِ (المحلى فى الجزء الأول ص 269)
"(Dan orang yang sah shalat dzuhurnya) diantara orang-orang yang tidak diwajibkan shalat jumat seperti anak kecil, hamba sahaya, perempuan, dan musafir dengan -dalam keadaan- tidak gila. (Maka sah shalat jumatnya) karena shalat jumat itu sah bagi orang yang tidak diwajibkan, dan shalat jumat itu cukup baginya sebagai pengganti shalat dzuhur."
وَمَنْ لاَجُمْعَةَ عَلَيْهِ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْجُمْعَةِ فَإِنْ صَلَّى الْجُمْعَةَ أَجْزَأَهُ عَنِ الظُّهْرِ (المهذب فى الجزء الأول ص 109)
"Dan barang siapa yang tidak kewajiban jumat diperintahkan untuk memilih diantara dzuhur dan jumat, maka jika ia telah bersembahyang jumat memadailah apa yang dilakukannya itu daripada dzuhur."
10) Sholat jum`at kurang dari 40 orang
Dasar hukum dari sholat jum`at adalah ayat Al-qur`an surat Al-Jumu`ah ayat 9 yang berisi tentang perintah melaksanakan sholat jum`at, bahkan ditekankan untuk meninggalkan jual beli. Hal ini mengisyaratkan sangat wajibnya sholat jumat dalam keadaan sesibuk apapun.
Dengan demikian, bahwa sholat jum`at sangatlah penting. Dan apabila disyaratkan dalam melaksanakan sholat jum`at itu dengan tidak boleh kurang dari 40 orang, maka apabila ada suatu desa yang masanya kurang dari 40 orang dia tidak akan pernah melakukan perintah Allah yang satu ini, dan ini berarti bahwa Aturan Allah tidaklah fleksibel dan universal.
Dalam beberapa kitab fiqh terdapat kutipan pandangan para ulama mengenai jumlah jamaah shalat jum`at, yang didalamnya terdapat banyak pendapat. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak adanya aturan baku dari Rasul mengenai jumlah shalat jumat ini, karena apabila Rasul mensabdakan wajibnya jumat dengan 40 orang maka seluruh ulama pun pasti akan sependapat mengenai jumlah tersebut.

وَاشْتِرَاطُ وُقُوْعِهَا ِبهَذَا اْلعَدَدِ قَوْلٌ مِنْ أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَوْلاً فِى الْعَدَدِ الَّذِى تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمْعَةُ ثَانِيْهَا أَنَّهَا تَصِحُّ مِنَ الْوَاحِدِ رَوَاهُ ابْنُ حَزْمٍ ثَالِثُهَا إِثْنَانِ كَالْجَمَاعَةِ وَهُوَ قَوْلُ النَّخَعِىِّ وَأَهْلِ الظَّاهِرِ رَابِعُهَا ثَلاَثَةٌ مَعَ اْلإِمَامِ عِنْدَ أَبِى حَنِيْفَةَ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِىُّ رَضِيَ الله عَنْهُمَا...الخ (إعانة الطالبين فى الجزء الثانى ص 57)
"Dan syarat didirikannya shalat jumat dengan bilangan ini (dengan 40 orang) merupakan satu qaul dari 14 qaul tentang bilangan jamaah yang menjadi sahnya jumat. Qaul yang kedua bahwa jumat sah didirikan oleh satu orang, qaul ini diriwayatkan oleh Ibn Hazm. Qaul yang ketiga (sah jumat) yang didirikan oleh dua orang seperti shalat berjamaah (selain hari jumat), dan itu merupakan qaul An-Nakhawi dan Ulama Ahli Dzahir. Qaul yang keempat bahwa sah (jumat) yang didirikan oleh tiga orang berikut imam, hal ini menurut Abu Hanifah dan Sufyan Saury."
11) Sholat sunnah berjamaah
Kebolehan melaksanakan shalat sunnah secara berjamaah merupakan suatu hal yang sudah tidak aneh lagi, hal semacam ini sudah maklum dinegara kita ini seperti pelaksanaan shalat witir, taraweh, dll.
(مَسْئَلَةُ ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِى نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِى ذَلِكَ (بغية المسترشدين ص 67)
"Diperbolehkan berjamaah dalam shalat witir dan shalat tasbih, demikian itu tidak dihukumi makruh."
Begitupun diterangkan pula tentang kebolehan melaksanakan sholat sunnah empat rokaat dalam satu salam.
وَقَالَ فِى صَلاَةِ اللَّيْلِ إِنْ شَاءَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا أَوْ سِتًّا اَوْ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَبِالنَّهَارِ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ أَرْبَعٍ (رحمة الأمة فى الجزء الأول ص 55)
"Dan ia berkata mengenai shalat malam, jika ia mau maka ia shalat dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, atau delapan rakaat dengan satu kali salam. Sedangkan diwaktu siang, ia salam dari setiap empat rakaat."
12) Jumlah dalam berdzikir
Mengenai jumlah dalam beberapa bacaan yang dibaca Syekhuna, jelas memiliki sir (rahasia). Semisal dengan bacaan tasbih, hamdalah, dan takbir yang dibaca ba`da maghrib dan shubuh hanya dibaca tiga kali sedangkan pada umumnya dibaca 33 kali. hal ini hanya syekhuna yang mengetahui maksud dan tujuannya. Mengenai pengurangan jumlah bacaan dzikir tersebut, terdapat kutipan kalimat dari sebuah kitab salaf sebagai berikut;
(تَنْبِيْه) اَنَّهُ وَرَدَ فِى رِوَايَاتٍ النَّقْصُ عَنْ ذَلِكَ اْلعَدَدِ وَالزِّيَادَةِ عَلَيْهِ كَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ وَاِحْدَى عَشَرَةَ وَثَلاَثٍ وَمَرَّةٍ وَسَبْعِيْنَ وَمِائَةٍ فِى التَّسْبِيْحِ (التحفة فى الجزء الأول ص 277)
"(peringatan) Sesungguhnya ada riwayat tentang pengurangan dan penambahan jumlah tersebut, seperti 5, 20, 11, 3, 1, 70, dan 100 kali dalam membaca tasbih."

Sumber http://daleev.blogspot.com/2010/05/buku-aswaja-bab-3.html

· download juga di http://www.bamah.net/wp-content/files/jamaah_asysyahadatain.pdf

Dikirim pada 24 September 2013 di asysyahadatain


I. KUASAI 7-F:

......1).FINANCE.......Keuangan di Bumi.

......2).FOODS.........Stock Makanan di Bumi.

......3).FILMS...........di Bumi.

......4).FASHION.......di Bumi.

......5).FANTASY.......termasuk MUSIC di Bumi.

......6).FAITH...........Ciptakan Aliran2 Kepercayaan BARU.

......7).FRICTION......Ciptakan dan Kembangkan PERPECAHAN

..............................Antar Golongan2/Kelompok2 di Bumi.

......KUASAI & ADU-DOMBA IDEOLOGI2 (Complicting Ideologis).

......KUASAI Industri Senjata & ATUR Jadwal Perang.

......KUASAI Lembaga Keuangan Internasional.

......KUASAI Industri Logistik/Rekonstruksi Pasca Perang.

......KUASAI Industri&Penyebaran Candu/Narkoba/Miras/Rokok.

II. CIPTAKAN dan KENDALIKAN:

......CIPTAKAN "New World Order" (SATU KEKUATAN di Bumi).

......CIPTAKAN PERANG2 DUNIA dan CIPTAKAN REVOLUSI2.

......CIPTAKAN Separatisme (SEMPALAN2) dan desintegrasi.

......CIPTAKAN Freesex, Homosex, Lesbian.

......CIPTAKAN KERUSAKAN Keluarga2 (Partner2 & Aborsi2).

......CIPTAKAN ALIRAN2 segala bidang yg Bisa MENYESATKAN.

......CITAKAN Senjata2 Biologis/Virus2/Pengatur2 Cuaca.

......CIPTAKAN pikiran: Sekularisme adalh andalan masa depan.

......CIPTAKAN pikiran: Perlunya BANYAK Partai.

III. KUASAI:

......KUASAI Program2 (mengatasi) KEMISKINAN.

......KUASAI ASSET-EKONOMI Indonesia dan Negara2 di Bumi.

......KUASAI KEKAYAAN ALAM Indonesia dan Negara2 di Bumi.

......KUASAI ASSET-INFORMASI Indonesia & Negara2 di Bumi.

......KUASAI S. POLITIK&HUKUM Indonesia & Negara2 di Bumi.

......KUASAI (Hancurkan) Moral Indonesia & Negara2 di Bumi.

......KUASAI (Hancurkan) Militansi Indonesia&Negara2 di Bumi.

......KUASAI (Suburkan) Sekularisme, Liberalisme&Pluralisme.

......KUASAI (Gencarkan) Pemurtadan thd Agama2 Samawi.

IV. HANCURKAN:

......HANCURKAN EKONOMI Indonesia dan Negara2 lain di Bumi.

......HANCURKAN (Pertentangkan) Elit2 Politik Indonesia dll-nya.

......HANCURKAN (Pertajamkan) Konflik Horizontal di Indonesia.

......HANCURKAN (Pecah-belah) Militer Indonesia&Negara2 lain.

......HANCURKAN dg cara mendatangkan "Pasukan Perdamaian".

......HANCURKAN secara menghadirkan "Serbuan Paradigmatis".

......HANCURKAN dg cara membuat jaringan "Sel2 Perlawanan".

......HANCURKAN dg cara membuat "Invasi Militer". Sebelum itu

.........................ciptakan ALASAN: "Status Legal Intervention".

V. SEBARKAN:

......SEBARKAN Ajaran2 Karl Marx (Materialisme dan Atheisme).

......SEBARKAN Ajaran Sigmund Freud (Instinc Sexual & Libido).

......SEBARKAN Ajaran Nietze (Mencari Kepuasan dg Kekejian).

......SEBARKAN Ajaran Charles Darwin (Manusia dari Monyet,

......................bhw yg Kuat, berhak menghancurkan yg lemah).

VI. HAPUSKAN:

......HAPUSKAN Kota Mekkah (Usul Senator Tancredo).

......HAPUSKAN Indonesia 2025 (Usul William Cohen).

......HAPUSKAN Pakistan 2025 (Usul W.Cohen).

......HAPUSKAN Negara2 Afrika 2025 (Usul W.Cohen).

VII. CIPTAKAN:

......CIPTAKAN Perang Dunia ke III.

......CIPTAKAN Perang Salib BARU (The New Crusade).

......CIPTAKAN Keadaan Musnahnya 3 Miliyar penduduk Bumi dg

......................CARA adakan kelaparan & penyakit s/d th 2050.

......CIPTAKAN (Tanamkan) DEMOKRATISASI-SEKULAR, HAM,

......................PRIVATIZATION, FREE-TRADE, GLOBALIZATION.

Beberapa ayat Talmud (BUKAN Taurat), antara lain :

"Seorang rabbi telah mendebat Tuhan & me-NGALAH-kan Tuhan. Tuhanpun telah mengakui bhw rabbi itu memenangkan debat itu". (Baba Mezian 59b).

Seorang rabbi, Simeon Ben Yohai telah berkata:

"Bahkan orang kafir (Gentiles) yg paling baik pun, SELURUH-nya HARUS DIBUNUH”.(Perjanjian Kecil, Soferin 15).

Lalu, katanya lagi:

"Hanya orang2 Yahudi yg manusia, sedangkan orang2 NON-Yahudi (Gentiles/GHOYIM) BUKAN-lah manusia, melainkan BINATANG, (Kerithuth 6b).

Kemudian, katanya lagi:

"Orang2 NON-Yahudi itu, di-ada-kan adalah sbg BUDAK u/ melayani orang2 Yahudi.

(Midraseh Talpioth 225).

Berikutnya, katanya lagi:

"Angka KELAHIRAN orang2 NON-Yahudi harus ditekan se-kecil2nya. (Zohar II, 4b).

Lalu, katanya lagi:

"Tuhan TIDAK pernah marah kpd orang2 Yahudi, melainkan marah HANYA kpd orang2 NON-Yahudi.

(Talmud IV-8-4a).

Kemudian, katanya lagi:

"Orang2 Yahudi, wajib SELALU BERUSAHA u/ MEMPERDAYAI orang2 NON-Yahudi. (Zohar,168a).

Berikutnya, katanya lagi:

"Wahai anak2-ku, hendaklah engkau semua LEBIH MENGUTAMAKAN kitab TALMUD kita, daripada ayat2 Taurat". (Talmud Erubin 2a).

TEMPAT-kan ANGGOTA2 dari SATU Keluarga tertentu, untuk menduduki POSISI2 STRATEGIS, secara TURUN-TEMURUN.

[url]http://www.texemarrs.com/022006/george_w_bush_zionist_double_agent.htm2[/url]

Dokumen "Jewish Welfare Board".

Perwira2 tentara Am