0



6) Menyebutkan kalimat Ali Jibril (keluarga Jibril)
Dalam tuntunan syekhuna terdapat doa yang bertawassul kepada para nabi, wali, dan para malaikat seperti berikut;
اللهم بجاه آدم العالى الهادى و آل آدم العالى الهادى .....
"ya Allah dengan derajat keagungannya Nabi Adam dan Keluarga Nabi Adam ………"
Dari kutipan doa tersebut tidaklah tampak suatu masalah, karena pada hakekatnya Nabi Adam memiliki keluarga. Akan tetapi pada lanjutan dari doa tersebut disebutkan nama para malaikat dan keluarganya dengan kutipan sebagai berikut;
اللهم بجاه جبريل العالى الهادى و آل جبريل العالى .....
"ya Allah dengan derajat keagungannya Malaikat Jibril dan Keluarga Malaikat Jibril ………"
Sehingga banyak kalangan yang menyalahkan doa tersebut, dengan alasan bahwa malaikat tidaklah memiliki keluarga seperti manusia/nabi.
Pandangan mengenai doa tersebut merupakan pandangan yang dangkal terhadap penafsiran suatu doa atau kalimat. Dalam doa tersebut disebutkan "Ali Adam, Ali Jibril, dst".
Kata/kalimat "Ali" dalam kalimat arab memiliki 12 makna, sehingga tidaklah hanya diartikan sebagai keluarga nasab saja. Seumpama dengan istilah keluarga Nabi Nuh, beliau memiliki seorang anak yang membangkang. Maka anak tersebut bukanlah sebagai keluarga Nuh, sehingga keluarga nasab tidaklah termasuk dalam istilah "Ali" / keluarga disini.
Begitupun dengan keluarga Fir`aun, dalam Al-quran surat Al-Baqarah ayat 48 disebutkan tentang keluarga fir`aun, dan didalamnya tidak termasuk istri firaun yaitu siti Asiyah, sehingga arti atau makna dari kata "Ali" disini adalah teman-teman seakidahnya.
قوله (مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ) لاَيُرَدُّ أَنَّ الآل لاَيُضَافُ إِلاَّ لِذِى شَرَفٍ ِلأَنَّ فِرْعَوْنَ ذُو شَرَفٍ دُنْيَوِيٍّ, وَالْمُرَادُ أَعْوَانُهُ (تفسير الصاوى فى الجزء الأول ص 50)
"(dari keluarga/golongan fir`aun) tidak ditolak [fir`au menggunakan kalimat `Ali fir`aun`] sesungguhnya lafadz `Ali` tidak disandarkan kecuali kepada yang memiliki kemuliaan, dan karena sesungguhnya fir`aun memiliki kemuliaan dunia [seorang raja mesir], dan yang dimaksud [Ali Fir`aun] adalah teman/ bala tentaranya".
Dengan demikian, kalimat keluarga malaikat Jibril adalah bala tentaranya, karena Allah menciptakan Jibril dengan rupa yang sama bukan satu wujud saja, sehingga dikatakan sebagai "Jabro`il".
Keterangan mengenai bala tentara jibril tersebut sebagai berikut:
وَأَمَّا جِبْرِيْل .... وَيُرْوَى أَنَّهُ يَنْغَمِسُ فِى بَحْرِ النُّوْرِ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَمِائَةٍ وَسِتِّيْنَ مَرَّةً فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْهُ قَطْرَاتٌ مِنَ النُّوْرِ فَيَخْلُقُ اللهُ مِنْ تِلْكَ اْلقَطَرَاتِ مَلاَئِكَةً عَلَى صُوْرَتِهِ يُسَبِّحُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ..... (بدائع الزهور ص35)
"Dan diriwayatkan sesungguhnya (Jibril) menyelam didalam lautan cahaya (nur) setiap hari 360 kali, maka ketika (jibril) keluar dari lautan tersebut, menetes darinya tetesan-tetesan cahaya. maka Allah menciptakan dari tetesan-tetesan tersebut malaikat yang serupa ujudnya (dengan malaikat jibril), maka mereka mensucikan Allah sampai hari kiamat".
Dalam kitab yang samapun dijelaskan pula bahwa selain malaikat jibrilpun memiliki bala tentara seperti halnya malaikat jibril.
Bahkan terdapat keterangan sebagai berikut;
فَجَأَةِ الْمَلَكُ الْمَوْتُ أَوْ بَعْضُ أَعْوَانِهِ (الفتاوى الحديثية ص 20)
"maka malaikat maut atau sebagian bala tentaranya telah datang".
7) Qunut Nazilah
Qunut Nazilah adalah qunut yang dibaca pada I`tidal rokaat akhir sholat fardhu yang lima waktu. Qunut nazilah ini banyak dilakukan oleh para ulama salaf karena berkenaan dengan sebab-sebab tertentu, seperti karena adanya wabah penyakit, dsb. Keterangan mengenai qunut nazilah ini banyak terdapat dalam kitab-kitab salaf, diantaranya adalah;
(ثُمَّ) بَعْدَ ذَلِكَ سُنَّ (قُنُوْتٌ فِى اعْتِدَالِ آخِرَةِ صُبْحٍ مُطْلَقًا وَ) آخِرَةِ (سَائِرِ الْمَكْتُوْبَاتِ لِنَازِلَةٍ) كَوَبَاءٍ وَقَحْطٍ وَعَدُوٍّ (فتح الوهاب فى الجزء الأول ص 43)
"Kemudian setelah itu (setelah I’tidal) disunnahkan qunut disaat I’tidal pada akhir sholat subuh, dan akhir seluruh sholat fardu dikarenakan ada cobaan yang turun (menimpa/Nazilah), seperti penyakit wabah, kemarau, dan musuh."
8) Imam menghadap makmum
Ketika berdzikir selesai salam dari shalat, maka dianjurkan bagi imam untuk memutar tubuhnya sehingga menghadap makmum. Hal ini dimaksudkan mendidik makmum untuk berdzikir dengan melakukan pengawasan yang penuh. Mengenai posisi imam setelah salam dari sholat yaitu menghadap makmum, tersebut dalam beberapa kitab salaf diantaranya adalah;
بَابُ يَسْتَقْبِلُ اْلإِمَامُ النَّاسَ إِذَا سَلَّمَ حَدَّثَنَا عَنْ سَمُرَةَ بْن جُنْدَبٍ قَالَ كَانَ النَّبِي ص م. إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ (صحيح البخارى فى الجزء الأول ص 205)
"(Bab tentang menghadapnya imam kepada makmum setelah salam) diceritakan kepadaku dari samuroh bin Jundab ia berkata: Rasulullah saw. apabila selesai sholat, maka beliau menghadap kami dengan wajahnya"
أَمَّا اْلإِمَامُ فَيُسْتَقْبَلُ الْمَأْمُوْمِيْنَ بِوَجْهِهِ فِى الدُّعَاءِ وَلِكُلِّ جُلُوْسٍ ذَاكِرًا اللهَ تَعَالَى بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ (إرشاد العباد ص 20)
"adapun bagi imam, maka hendaknya menghadap makmum dengan wajahnya didalam berdoa, dan bagi setiap duduk berdzikir kepada Allahsetelah sholat subuh sampai matahari terbit."
9) Wanita sholat jama`ah dan jum`at dimasjid
Mengenai hukum atau kedudukan tentang sholat jamaahnya kaum wanita dimasjid bukan merupakan hal yang aneh, karena hal ini telah dicontohkan oleh kaum muslimin dari sejak lama, hal inipun tertulis dasar hukumnya dalam kitab-kitab salaf, diantaranya;
بَابُ اسْتِئْذَانِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا بِالْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسْجِدِ حَدَّثَنَا عَنِ النَّبِيِّ ص م. قَالَ إِذَا اسْتَأْذَنَتْ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَمْنَعْهَا (صحيح البخارى فى الجزء الأول ص 211)
"Bab tentang meminta izinnya wanita kepada suaminya untuk pergi kemasjid. telah diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda; Apabila istrimu meminta izin (untuk pergi kemasjid), maka janganlah dilarang."
قَالَ ابْنُ عُمَرَ قَالَ رَسُوْلُ الله ص م. لاَتَمْنَعُوْا النِّسَاءَ مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِاللَّيْلِ (صحيح مسلم فى الجزء الأول ص 187)
"Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu melarang perempuan keluar untuk pergi kemasjid pada waktu malam hari."
Adapun kebiasaan wanita sholat jum`at dimasjid merupakan hal yang aneh dinusantara ini, padahal belum diketemukan dalil tentang haramnya wanita sholat jum`at.
Dalam beberapa kitab salaf terdapat dalil tentang sahnya kaum wanita sholat jum`at dan tidak mengulang sholat dhuhurnya karena dhuhur itu sah dan sebagai pengganti dhuhur.
(وَمَنْ صَحَّتْ ظُهْرُهُ) مِمَّنْ لاَتَلْزَمُهُ اْلجُمْعَةُ كَالصَّبِيِّ وَاْلعَبْدِ وَالْمَرْأَةِ وَالْمُسَافِرِ بِخِلاَفِ الْمَجْنُوْنِ (صَحَّتْ جُمْعَتُهُ) ِلأَنَّهَا تَصِحُّ لِمَنْ تَلْزَمَهُ فَلِمَنْ لاَتَلْزَمَهُ أَوْلَى وَتُجْزِئُهُ عَنِ الظُّهْرِ (المحلى فى الجزء الأول ص 269)
"(Dan orang yang sah shalat dzuhurnya) diantara orang-orang yang tidak diwajibkan shalat jumat seperti anak kecil, hamba sahaya, perempuan, dan musafir dengan -dalam keadaan- tidak gila. (Maka sah shalat jumatnya) karena shalat jumat itu sah bagi orang yang tidak diwajibkan, dan shalat jumat itu cukup baginya sebagai pengganti shalat dzuhur."
وَمَنْ لاَجُمْعَةَ عَلَيْهِ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْجُمْعَةِ فَإِنْ صَلَّى الْجُمْعَةَ أَجْزَأَهُ عَنِ الظُّهْرِ (المهذب فى الجزء الأول ص 109)
"Dan barang siapa yang tidak kewajiban jumat diperintahkan untuk memilih diantara dzuhur dan jumat, maka jika ia telah bersembahyang jumat memadailah apa yang dilakukannya itu daripada dzuhur."
10) Sholat jum`at kurang dari 40 orang
Dasar hukum dari sholat jum`at adalah ayat Al-qur`an surat Al-Jumu`ah ayat 9 yang berisi tentang perintah melaksanakan sholat jum`at, bahkan ditekankan untuk meninggalkan jual beli. Hal ini mengisyaratkan sangat wajibnya sholat jumat dalam keadaan sesibuk apapun.
Dengan demikian, bahwa sholat jum`at sangatlah penting. Dan apabila disyaratkan dalam melaksanakan sholat jum`at itu dengan tidak boleh kurang dari 40 orang, maka apabila ada suatu desa yang masanya kurang dari 40 orang dia tidak akan pernah melakukan perintah Allah yang satu ini, dan ini berarti bahwa Aturan Allah tidaklah fleksibel dan universal.
Dalam beberapa kitab fiqh terdapat kutipan pandangan para ulama mengenai jumlah jamaah shalat jum`at, yang didalamnya terdapat banyak pendapat. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak adanya aturan baku dari Rasul mengenai jumlah shalat jumat ini, karena apabila Rasul mensabdakan wajibnya jumat dengan 40 orang maka seluruh ulama pun pasti akan sependapat mengenai jumlah tersebut.

وَاشْتِرَاطُ وُقُوْعِهَا ِبهَذَا اْلعَدَدِ قَوْلٌ مِنْ أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَوْلاً فِى الْعَدَدِ الَّذِى تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمْعَةُ ثَانِيْهَا أَنَّهَا تَصِحُّ مِنَ الْوَاحِدِ رَوَاهُ ابْنُ حَزْمٍ ثَالِثُهَا إِثْنَانِ كَالْجَمَاعَةِ وَهُوَ قَوْلُ النَّخَعِىِّ وَأَهْلِ الظَّاهِرِ رَابِعُهَا ثَلاَثَةٌ مَعَ اْلإِمَامِ عِنْدَ أَبِى حَنِيْفَةَ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِىُّ رَضِيَ الله عَنْهُمَا...الخ (إعانة الطالبين فى الجزء الثانى ص 57)
"Dan syarat didirikannya shalat jumat dengan bilangan ini (dengan 40 orang) merupakan satu qaul dari 14 qaul tentang bilangan jamaah yang menjadi sahnya jumat. Qaul yang kedua bahwa jumat sah didirikan oleh satu orang, qaul ini diriwayatkan oleh Ibn Hazm. Qaul yang ketiga (sah jumat) yang didirikan oleh dua orang seperti shalat berjamaah (selain hari jumat), dan itu merupakan qaul An-Nakhawi dan Ulama Ahli Dzahir. Qaul yang keempat bahwa sah (jumat) yang didirikan oleh tiga orang berikut imam, hal ini menurut Abu Hanifah dan Sufyan Saury."
11) Sholat sunnah berjamaah
Kebolehan melaksanakan shalat sunnah secara berjamaah merupakan suatu hal yang sudah tidak aneh lagi, hal semacam ini sudah maklum dinegara kita ini seperti pelaksanaan shalat witir, taraweh, dll.
(مَسْئَلَةُ ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِى نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ فَلاَ كَرَاهَةَ فِى ذَلِكَ (بغية المسترشدين ص 67)
"Diperbolehkan berjamaah dalam shalat witir dan shalat tasbih, demikian itu tidak dihukumi makruh."
Begitupun diterangkan pula tentang kebolehan melaksanakan sholat sunnah empat rokaat dalam satu salam.
وَقَالَ فِى صَلاَةِ اللَّيْلِ إِنْ شَاءَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا أَوْ سِتًّا اَوْ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَبِالنَّهَارِ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ أَرْبَعٍ (رحمة الأمة فى الجزء الأول ص 55)
"Dan ia berkata mengenai shalat malam, jika ia mau maka ia shalat dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, atau delapan rakaat dengan satu kali salam. Sedangkan diwaktu siang, ia salam dari setiap empat rakaat."
12) Jumlah dalam berdzikir
Mengenai jumlah dalam beberapa bacaan yang dibaca Syekhuna, jelas memiliki sir (rahasia). Semisal dengan bacaan tasbih, hamdalah, dan takbir yang dibaca ba`da maghrib dan shubuh hanya dibaca tiga kali sedangkan pada umumnya dibaca 33 kali. hal ini hanya syekhuna yang mengetahui maksud dan tujuannya. Mengenai pengurangan jumlah bacaan dzikir tersebut, terdapat kutipan kalimat dari sebuah kitab salaf sebagai berikut;
(تَنْبِيْه) اَنَّهُ وَرَدَ فِى رِوَايَاتٍ النَّقْصُ عَنْ ذَلِكَ اْلعَدَدِ وَالزِّيَادَةِ عَلَيْهِ كَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ وَاِحْدَى عَشَرَةَ وَثَلاَثٍ وَمَرَّةٍ وَسَبْعِيْنَ وَمِائَةٍ فِى التَّسْبِيْحِ (التحفة فى الجزء الأول ص 277)
"(peringatan) Sesungguhnya ada riwayat tentang pengurangan dan penambahan jumlah tersebut, seperti 5, 20, 11, 3, 1, 70, dan 100 kali dalam membaca tasbih."

Sumber http://daleev.blogspot.com/2010/05/buku-aswaja-bab-3.html

· download juga di http://www.bamah.net/wp-content/files/jamaah_asysyahadatain.pdf

Dikirim pada 24 September 2013 di asysyahadatain


Tuntunan Syekhuna merupakan implementasi dari ajaran tasawwuf salaf yang memiliki arah dan tujuan Ma`rifat billah (eling Allah) dan menuju pada hakikat Insan Kamil yang diawali dengan proses pembelajaran syahadat secara istiqomah, baik secara lisan maupun secara keyakinan dan pelaksanaan, sebagai proses awal pembersihan hati dalam mencapai Ma`rifat billah.
Proses pembelajaran syahadat ini, ditekankan pula oleh Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam kitabnya yang berbunyi sebagai berikut:
(اِعْلَمْ) أَنَّ أَوَّلَ مَايَلْزَمُ الْمُكَلَّفَ تَعَلُّمُ الشَّهَادَتَيْنِ وَمَعْنَاهُمَا وَجَزْمُ اعْتِقَادِهِ ثُمَّ تَعَلُّمُ ظَوَاهِرِ عِلْمِ التَّوْحِيْدِ وَصِفَاتِ اللهِ تَعَالَى
"(Ketahuilah) sesungguhnya yang pertama diwajibkan bagi mukallaf adalah mempelajari dua kalimat syahadat dan ma`nanya serta mengukuhkan keyakinannya, kemudian mempelajari dhahir dari ilmu tauhid dan sifat-sifat Allah swt."
وَيَجِبُ أَيْضًا تَعَلُّمُ دَوَاءِ أَمْرَاضِ اْلقَلْبِ كَالْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ وَاْلعُجْبِ وَاْلكِبْرِ وَاعْتِقَادُ مَاوَرَدَ بِهِ اْلكِتَابُ وَالسُّنَّةُ
"Dan diwajibkan pula mengetahui obat dari penyakit-penyakit hati seperti dengki, riya, ujub, dan takabbur. Dan wajib pula meyakini apa yang datang dari Al-quran dan sunnah."
Proses dan ritual yang diterapkan dalam Tuntunan Syekhuna adalah sebagai berikut;
1. Pengamalan jalan para salik dalam Tuntunan Syekhuna
Tujuan pokok dari Tuntunan Syekhuna adalah Ma`rifat billah (eling Allah), dan menjadikan manusia menuju pada hakikat Insan Kamil, sehingga mendapatkan kebahagiaan didunia dan diakhirat (slamet dunia akherat dunia akherat slamet). Sebagai pelaksaannya yaitu melalui beberapa pengamalan sebagai berikut;
a. Pengamalan ritual syahadat
Syahadat merupakan pokok iman, sehingga untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan harus benar-benar menjalankan rukun islam yang pertama ini.
Dalam kaitannya terhadap ajaran tasawwuf, dalam Tuntunan Syekhuna diterapkan beberapa fase/tingkatan suluk sebagai pengamalan Syahadat untuk mencapai pada ke-istiqomah-an mengingat Allah (dzikrun fil qolbi) dan pengharapan pengakuan menjadi murid Syekhuna, yaitu melalui 5 ritual sebagai berikut;
1) Stempel/Bai`at Syahadat
Stempel adalah ritual pertama yang harus dilewati sebagai pengakuan dan janji setia kepada Allah, Rasulullah, dan Syekhuna. Istilah stempel ini dinisbatkan pada praktek dan tujuannya, yaitu menetapkan syahadat kedalam hati dan pikiran. Karena pada prakteknya, stempel adalah pembacaan dua kalimat syahadat didepan seorang saksi muslim dengan meletakkan tangan kanan dijidat dan tangan kiri didada. Dalam kajian keilmuan stempel itu disebut Bai`at, pembahasan tentang bai`at ini terdapat pula tentang ditetapkannya bai’at / stempel dari guru dan mursyid kamil
إِعْلَمْ أَنَّ نَفْسَ الْبَيْعَةِ ثَبَتَ بِاْلقُرْآنِ وَأَحَادِيْثِ حَبِيْبِ الرَّحْمَنِ صلى الله عليه وسلم قَالَ الله تَعَالَى إِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ الله. الآية. وَأَمَّا اْلأَحَادِيْثُ النَّبَوِيَّةَ فَكَقَوْلِ الصَّحَابَةِ نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْا مُحَمَّدًا عَلَى الْجِهَادِ أَبْقَيْنَا أَبَدًا وَغَيْرِهَا مِنَ الأَحَادِيْثِ الْمَرْوِيَّةِ فِي هَذَا اْلبَابِ فِي الصِّحَاحِ السِّتِّ وَهُوَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ
أَحَدُهَا اْلبَيْعَةُ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَثَانِيْهَا عَلَى اْلهِجْرَةِ وَالثَّالِثُ عَلَى الْجِهَادِ وَهَذِهِ الثَّلاَثَةُ وَقَعَتْ بَيْنَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابِهِ وَالرَّابِعَةُ اْلبَيْعَةُ عَلَى اْلإِطَاعَةِ اْلأَمِيْرِ وَالسُّلْطَانِ وَهَذِهِ اْلبَيْعَةُ وَقَعَتْ بَيْنَ الصَّحَابَةِ كَبَيْعَتِهِمْ مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَبَيْنَ مَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْخَامِسَةُ اْلبَيْعَةُ الْمُتَعَارَفَةُ بَيْنَ أَهْلِ الطَّرِيْقَةِ مِنَ الشُّيُوْخِ وَهِىَ الْبَيْعَةُ عَلَى الذِّكْرِ وَاْلفِكْرِ وَالتَّوْثِيْقِ عَلَى اْلأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ الْمَنَاهِى وَهَذِهِ مِمَّا جَرَتْ عَادَةُ الصَّالِحِيْنَ مِنْ زَمَنِ السَّلَفِ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا.
"Dan dari kebiasaan masalah taqlid adalah masalah bai’at dan tarekat dari guru kamil. Ketahuilah bahwa bai’at itu telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Saw.
(dasar bai’at dari Al-Qur’an) Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepadamu maka orang itu telah berbai’at kepada Allah Swt."
(Adapun dasar bai’at dari hadits Nabi Saw, adalah) perkataan sahabat : “Saya adalah orang-orang yang berbai’at kepada Rasulullah Saw untuk jihad dan untuk tidak tinggal diam selama-lamanya."
Dan masalah bai’at ini ditetapkan pula dalam hadits-hadits yang terdapat dalam Kutub As-Sittah/dan yang lainnya.
Bai’at terbagi lima bagian: Bai’at Islam, Bai’at Hijrah, Bai’at Jihad, Bai’at untuk taat kepada pemimpin (raja). Bai’at ini terjadi antara para shahabat seperti bai’atnya shahabat-shahabat pada khulafaurrasyiddin dan bai’at pada (imam-imam) pemimpin orang muslim, dan Bai’at yang sudah dikenal (Bai’at Muta’arifah), diantara guru-guru ahli tarekat. Yaitu bai’at atas dzikir dan fikir, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya dan bai’at ini merupakan kebiasaan orang-orang Salafus Shalih sampai zaman kita sekarang"
Pelaksanaan baiat tersebut merupakan pelaksanaan dari rukun syahadat yang pembahasannya akan dipaparkan pada bagian selanjutnya.
2) Latihan
Latihan disini merupakan proses kedua dalam upaya istiqomah menjalankan sunnah Rasulullah saw. berupa latihan melaksanakan sholat Dhuha dan Tahajjud selama 40 hari serta dibarengi dengan membaca Puji Dina (wirid yang dibaca pada setiap hari). Hal ini bertujuan sebagai pelatihan dan pembiasaan Shalat Duha dan Shalat Tahajjud serta bukti patuh terhadap guru.
3) Tunjina
Pada periode ketiga ini, diharuskan membaca Shalawat Tunjina selama 40 hari sebanyak yang diberikan syekhuna, serta dibarengi dengan istiqamah Sholat Dhuha dan Sholat Tahajjud. Dengan tujuan mampu beristiqamah dalam mengingat Allah sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan didunia dan diakherat.
4) Modal
Modal adalah istilah bagi sebuah ritual yang bertujuan membuat modal untuk kehidupan diakherat kelak dengan banyak berdzikir. Dzikir yang dibacanya dikhususkan dengan peraturan yang ditentukan oleh Syekhuna, namun jumlahnya disesuaikan dengan permintaan dari para saliknya, dan waktunya sampai dia selesai membacanya sesuai dengan jumlah yang dimintanya. Tujuan dari modal ini memohon kepada Allah dengan Asma-asma-Nya mendapatkan berlimpah keberkahan dan kebahagiaan didunia dan diakherat.
5) Karcis
Karcis adalah istilah untuk proses ritual yang kelima, yaitu membaca beberapa wirid khusus yang dibarengi dengan Shalat Dhuha, Shalat Tahajjud, dan Puji dina selama 40 hari. Sedangkan tujuannya adalah mendapatkan pengakuan (Karcis/tanda bukti) sebagai murid Syekhunal Mukarrom.
b. Penerapan Maqom tasawuf/ thoriqotul Auliya
Sebagai jalan menuju pada kesempurnaan yang hakiki, maka dalam Tuntunan Syekhuna diterapkan dua suluk, yaitu perkoro songo dan perkoro nenem.
 Perkoro Songo
Perkoro songo adalah sembilan sifat kewalian menurut para ahli tasawwuf. Dalam Tuntunan Syekhuna terdapat do`a yang berbunyi; "Ya Allah Ya Rasulullah pasrah awak kula lan sa ahli-ahli kula sedaya, kula niat belajar ngelampahi perkawis ingkang sanga senunggal niat belajar taubat, kaping kalih niat beljar konaah, kaping tiga niat belajar zuhud, kaping sekawan niat belajar tawakkal, kaping lima niat belajar muhafadzoh alas sunnah, kaping nenem niat belajar ta`allamul ilmi, kaping pitu niat belajar ikhlas, kaping wolu niat belajar uzlah, kaping sanga niat belajar hifdzul awkot, ngilari kanggo sangu urip senengge ibadah". Dengan doa tersebut memiliki dua arti yaitu perintah belajar untuk melaksanakan sembilan macam sifat kewalian tersebut, dan yang kedua memohon pada Allah untuk memberikan taufiq dan hidayahnya sehingga dapat menjalankannya.
Perkoro songo tersebut terdiri dari;
1) Taubat
Taubat adalah tempat awal pendakian bagi para salik dan maqom pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut bahasa adalah kembali, artinya kembali dari sesuatu yang dicela menurut syara` menuju sesuatu yang terpuji menurut syara`. Menurut Ahli Sunnah mengatakan bahwa syarat diterimanya taubat ada tiga, yaitu: menyesali atas perbuatannya yang salah, menghentikan perbuatan dosanya, dan berketetapan hati untuk tidak mengulanginya
2) Qona`ah
Qona`ah artinya ridho dengan sedikitnya pemberian dari Allah. Karena itu ada sebagian ahli tasawwuf mengatakan bahwa seorang hamba sama seperti orang merdeka apabila ia ridho atas segala pemberian, tetapi seorang merdeka sama seperti hamba apabila bersifat tamak (rakus/serba kekurangan)
3) Zuhud
Zuhud adalah tidak cinta pada dunia, sebagian ulama berpendapat bahwa zuhud adalah meminimalkan kenikmatan dunia dan memperbanyak beribadah kepada Allah. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang zuhud, dan beliau menjawab; Zuhud ialah hendaklah kamu tidak terpengaruh dan iri hati terhadap orang-orang yang serakah terhadap keduniaan, baik dari orang mukmin maupun dari orang kafir. Menurut sebagian ulama dalam kitab Risalah Al-qusyairiyah zuhud adalah tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia dan tidak akan mengeluh karena kehilangan dunia.
4) Tawakkal
Tawakkal artinya adalah berserah diri kepada Allah setelah berusaha sekuat tenaga dan fikiran dalam mencapai suatu tujuan
5) Muhafadzoh alas sunnah
Muhafadhoh alas sunnah adalah menjaga perkara sunnah dengan mengamalkan sunnah-sunnah nabi dalam kehidupannya.
6) Ta`allamul ilmi
Ta`allamul Ilmi adalah mencari ilmu, maksud ilmu yang diutamakan adalah ilmu untuk tujuan memperbaiki ibadah, membenarkan aqidah, dan meluruskan hati.
7) Ikhlas
Ikhlas adalah niat semata-mata karena Allah dan mengharapkan ridhoNya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Artinya segala bentuk hasab dan kasabnya hanya untuk mencari ridho Allah.
8) Uzlah
Uzlah adalah menyendiri atau mengasingkan diri dari keramaian hiruk pikuk keduniaan. Maksudnya adalah mengutamakan beribadah kepada Allah daripada menyibukkan diri dengan keduniaan. Sebagian ulama berpendapat bahwa uzlah yang terbaik adalah ditempat ramai, seperti berdzikir disela-sela keramaian orang.
9) Hifdzul awqot
Hifdzul awqot adalah memelihara waktu, maksudnya adalah mempergunakan waktu seluruhnya untuk melaksanakan keta`atan kepada syari`at agama Allah dan meninggalkan apa yang tiada berguna.
Dalam Tuntunan Syekhuna, kesembilan sifat kewalian tersebut diterapkan dalam pengamalan-pengamalan ibadahnya, sehingga secara otomatis kesembilan macam perkara tersebut dapat terlaksana bagi para santri syekhuna yang patuh menjalankan perintah gurunya.
 Perkoro Nenem
Perkoro Nenem adalah enam macam bentuk ibadah yang utama. Pengamalan perkara nenem ini ditujukan agar mendapat ridho Allah serta akan mendapat kebahagiaan. Perkara Nenem yang dimaksud adalah;`
1) Sholat Dhuha
Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah terbit matahari sampai waktu dhuhur. Jumlah rokaatnya maksimal 12 rokaat. Mengenai keutamaan sholat dhuha terdapat banyak hadits dalam banyak kitab, seperti yang terdapat dalam kitab Khozinatul Asror hal. 29
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ص م مَنْ حَافَظَ عَلَى شَفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ
"Dari Abu hurairah ra. Dari nabi saw. Barangsiapa menjaga shalat dluha maka diampuni dosa-dosanya walaupun sampai seperti buih dilautan."
2) Sholat Tahajjud
Sholat Tahajjud adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu tengah malam sampai waktu subuh. Jumlah rokaatnya tidak terbatas. Mengenai keutamaannya sangat banyak sekali. Dalam kitab Maroqil Ubudiyah hal. 40 terdapat hadits yang menerangkan kedudukan sholat tahajjud sebagai berikut;
كَخَبَرِ مُسْلِمٍ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ اْلفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
"Seperti yang diberitakan oleh imam muslim bahwa; sebaik-baik sholat setelah sholat fardhu adalah sholat malam (sholat tahajjud)."
3) Sidik
Sidik disini adalah benar dalam perkataan, keyakinan dan perbuatan. Artinya tuntunan Syekhuna membimbing manusia untuk berkata, bertekad, dan berbuat benar.
4) Membaca Al-qur`an
Membaca Al-qur`an merupakan kegemaran para shohabat, karena memiliki banyak manfaat dan keutamaan. Oleh sebab itu, dalam Tuntunan Syekhuna dianjurkan membaca Al-qur`an setiap hari, minimal membaca ayat sebelum dan sesudah fajar.
5) Netepi Hak buang batal
Yaitu Menjalankan yang hak dan meninggalkan yang bathal. Artinya menjalankan perintah-perintah Allah dan RasulNya baik berupa fardhu maupun sunnah, dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNya.
6) Eling Pengeran
Eling Allah (ingat Allah) adalah hidupnya hati dengan selalu dzikir/ ingat Allah. Atau belajar untuk selalu berdzikir.
Dengan pelaksanaan enam macam pengamalan ini, seorang hamba akan benar-benar mendapatkan kenikmatan hidup didunia maupun diakhirat.
c. Implementasi Uzlah dalam Tuntunan Syekhuna
Uzlah adalah menghindarkan diri dari keramaian terutama dari keramaian hawa nafsu. Artinya uzlah adalah memenjarakan diri untuk mengosongkan dari cinta dunia dan diisi dengan cinta kepada Allah.
Dalam Tuntunan Syekhuna, pelaksanaan uzlah itu melalui banyak cara, disamping uzlah syar`I yaitu dengan menyendiri/menutup diri sehari semalam, maupun uzlah hakiki, yaitu dengan menahan hawa nafsu dari keinginan dunia, seperti yang dilaksanakan pada bentuk-bentuk ibadah sebagai berikut;
1) I`tikaf Maghrib sampai Isa
I`tikaf dari waktu maghrib sampai isya merupakan perbuatannya para salafus sholih, dan ini merupakan bentuk ibadah yang berat untuk dilaksanakan dan memiliki keutamaan yang amat besar. Oleh sebab itu, dalam Tuntunan Syekhuna diterapkan wirid-wirid yang dibaca secara berjama`ah untuk diamalkan dari waktu maghrib sampai isya secara istiqomah, sehingga I`tikaf maghrib sampai isya tersebut menjadi kebiasaan dan tidak berat lagi bagi para santri Syekhuna.
Mengenai keutamaannya terdapat dalam beberapa kitab salaf, diantaranya yaitu yang dipaparkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai berikut;
قَالَ اْلغَزَالِى فِى اْلإِحْيَاءِ مَنْ عَكَفَ نَفْسَهُ فِيْمَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَاْلعِشَاءِ فِى مَسْجِدٍ جَمَاعَةً لَمْ يَتَكَلَّمْ إِلاَّ بِصَلاَةٍ أَوْ بِقُرْآنٍ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَبْنِىَ لَهُ قَصْرَيْنِ فِى الْجَنَّةِ مَسِيْرَةُ كُلِّ قَصْرٍ مِنْهُمَا مِائَةُ عَامٍ وَيَغْرِسُ لَهُ بَيْنَهُمَا غِرَاسًا لَوْ طَافَهُ أَهْلُ اْلأَرْضِ لَوَسِعَهُمْ
"Imam Ghozali berkata dalam kitab Ihya; Barangsiapa menahan dirinya (beri`tikaf) pada waktu diantara maghrib dan isya didalam masjid dengan berjamaah serta tidak berucap kecuali sholat atau membaca Al-qur`an, maka hak baginya dibangunkan oleh Allah dua istana disurga yang jarak diantara keduanya seratus tahun perjalanan. Dan Dia menumbuhkan untuknya tanaman diantara keduanya yang apabila seluruh penduduk bumi mengelilinginya maka akan memuat mereka semua."
2) I`tikaf Subuh sampai terbit matahari
Beri`tikaf dari shubuh sampai terbit matahari dan menjalankan sholat ishroq dan dhuha merupakan perbuatan para salafus sholih, karena mengandung banyak keutamaan, diantaranya yaitu:
فَقَدْ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ َلأَنْ اَقْعُدُ فِى مَجْلِسِى أَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيْهِ مِنْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ
"Nabi saw. bersabda; sungguh aku duduk dalam majelisku untuk berdzikir kepada Allah dari mulai shalat shubuh sampai terbit matahari, itu lebih aku senangi daripada aku membebaskan empat orang hamba sahaya."
وَرُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله ص م مَنْ صَلَّى اْلفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةً تَامَّةً تَامَّةً كَذَا فِى اْلأَذْكَارِ
"Barangsiapa shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah dengan sempurna."
Kalimat tammatan diucapkan tiga kali tersebut bukanlah mengisyaratkan bahwa pahala haji dan umroh tiga kali hajian, tetapi merupakan kalimat ta`kid bahwa Rasul mengisyaratkan dengan seyakinnya bahwa I`tikaf dari shubuh sampai dhuha tersebut mengandung pahala haji dan umroh.
وَقَوْلُهُ تَامَّةً كَرَّرَهَا ثَلاَثًا لِلتَّأْكِيْدِ (خزينة الأسرار)
"dan diucapkan `tammatan` diulang tiga kali adalah untuk ta`kid (meyakinkan)."
Dikatakan bahwa shalat dua rakaat tersebut adalah shalat isyraq.
Mengenai sholat Isyraq terdapat beberapa literatur, seperti berikut;
.... (فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ) إِمَّا بِنِيَّةِ صَلاَةِ اْلإِشْرَاقِ بِنَاءً عَلَى اْلقَوْلِ بِأَنَّهَا غَيْرُ صَلاَةِ الضُّحَى ...
"…..(maka solatlah dua rokaat) bisa dengan niat isyrok berdasarkan satu pendapat (qaul) bahwa shalat isyraq itu bukanlah shalat dluha."
الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْبُسْطَامِى قُدِّسَ سِرَّهُ فِى تَرْوِيْحِ اْلقُلُوْبِ يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِنِيَّةِ صَلاَةِ اْلإِشْرَاقِ.
"Syekh Abdurrohman Al-Bustomi mudah-mudahan disucikan hatinya (untuk menentramkan hati) -didalam kitab Tarwihul qulub- maka shalat empat rakaat dengan niat shalat isyraq."
3) Tawassul Fajar
Adalah Tawassul yang dilakukan pada waktu fajar (sebelum Subuh). Dengan tujuan membimbing hati untuk selalu berdzikir pada Allah. Karena waktu fajar merupakan waktu mustajab dan juga waktu yang sangat tenang, sehingga sangat cocok sebagai pelatihan khusyu`. Mengenai tawassul diwaktu fajar ini terdapat sebuah pendapat sebagai berikut:
(وَأَمَّا) مَا يُفْعَلُ لَيْلاً قَبْلَ اْلفَجْرِ مِنَ التَّسَابِيْحِ وَاْلإِسْتِغَاثَاتِ وَالتَّوَسُّلاَتِ الْمَعْرُوْفَةِ بِاْلأَبَدِ فَبِدْعَةٌ حَسَنَةٌ أَيْضًا وَلاَيَخْفَى مَافِى ذَلِكَ مِنَ الْحَثِّ عَلَى النَّشَاطِ لِلْعِبَادَةِ
"(dan adapun) sesuatu amalan yang dilaksanakan pada malam hari sebelum fajar seperti tasbih, istighosah, dan tawassul yang selama ini kita ketahui, maka itu adalah bid`ah hasanah (baik) dan tidak samar lagi tujuan dari amalan tersebut yaitu untuk mendorong giatnya beribadah."
4) Aurod Ati Salim
Aurod Ati salim adalah wirid yang dibaca setelah sholat tahajjud. Wirid ini dibaca sebelum Tawassul Fajar, hal ini dilakukan sebagai penguat hati dalam mempertahankan keimanan dari godaan syetan yang dilakukan diwaktu mustajab, sehingga dianjurkan untuk banyak berdzikir. Mengenai waktu mustajab ini dijelaskan sebagai berikut:
وَرُوِيَ أَيْضًا أَنَّ كُلَّ لَيْلَةٍ فِيْهَا سَاعَةُ إِجَابَةٍ كَذَا فِى التُّحْفَةِ
"Dan diriwayatkan juga bahwa sesungguhnya pada setiap malam terdapat didalamnya waktu mustajab (mudah terkabul). Seperti yang tertera dalam kitab tuhfah."
5) Puji Dina
Puji dina adalah wirid yang dibaca setiap hari, dengan bacaan yang berbeda pada setiap harinya. Cara membacanya tidaklah diharuskan dimasjid, tetapi dimana saja kita berada dan pada kondisi apapun. Hal ini sesuai dengan pelaksanaan uzlah, bahwa uzlah adalah menyendiri untuk berdzikir ditengah-tengah hiruk pikuk kehidupan dunia.
2. Metode Dzikir dalam Tuntunan Syekhuna
a. Tawassul
Tawassul dalam arti bahasa adalah perantara, segala sesuatu yang menggunakan perantara adalah tawassul. Sebagai contoh makan, dalam praktiknya nasi sebagai perantara dalam mengenyangkan perut, artinya manusia bertawassul kepada nasi dalam hal mengenyangkan perut. sedangkan dalam arti istilah adalah berdo’a/ memohon kepada Allah dengan perantaraan kemuliyaan para shalihin.
Dalam Al-quran surat Al-Maidah ayat 35 dikemukakan perintah untuk mencari wasilah/ jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِى سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) dijalan-Nya agar kamu beruntung."
Maksud hakiki dari tawassul adalah Allah swt. sedangkan sesuatu yang dijadikan sebagai perantara hanyalah berfungsi sebagai pengantar dan atau mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. artinya tawassul merupakan salah satu cara atau jalan berdo’a dan merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu menghadap Allah swt
Dalam memahami hakikat tawassul, terdapat beberapa pendapat yang mengharamkan tawassul dengan alasan tawassul tersebut identik dengan memohon pertolongan kepada selain Allah, dan hal ini dihukumi musyrik. Namun mereka tidak menyalahkan orang yang bertawassul dengan amal shalih. Orang yang berpuasa, sholat, membaca Al-qur’an, berarti dia bertawassul dengan puasanya, shalatnya, dan bacaan Al-qur’annya untuk mendapatkan ridho Allah. Bahkan tawassul; dimaksud lebih memberi optimisme untuk diterima dan tercapainya tujuan. Dalam hal ini tidak ada perselisihan sedikitpun. Dalilnya adalah hadits mengenai tiga orang yang terkurung dalam gua. Orang pertama bertawassul dengan baktinya kepada orangtua, orang kedua bertawassul dengan sikapnya menjauhi perilaku keji, dan orang ketiga bertawassul dengan kejujurannya dalam memelihara harta orang lain. Maka Allah swt kemudian berkenan melapangkan kesulitan yang sedang mereka alami.
Masalah yang biasa diperselisihkan adalah bertawassul dengan kemuliyaan para shalihin, seperti bertawassul dengan Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan sebagainya, maka tawassul seperti ini ada yang menyalahkan.
Perbedaan pendapat ini, hanyalah bersifat lahiriyah, artinya pada bentuknya saja, dan bukan pada substansinya. Lantaran bertawassul dengan manusia pada hakikatnya kembali kepada bertawassul dengan amalnya. Karena sesungguhnya perantara (washilah) itu memiliki kehormatan, kemuliyaan yang tinggi, dan amal yang diterima oleh Allah swt. seperti halnya para sahabat nabi bersolawat badar sebagai permohonan masuk surga. Dengan membaca shalawat tersebut, jelaslah bahwa para sahabat memohon dengan derajatnya Nabi Muhammad saw. dan bukan dengan dzatnya.
Mengenai bertawassul dengan derajatnya Nabi Muhammad saw. pun telah dilakukan oleh Nabi adam As. Seperti yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Bakar Ash-shiddiq RA. sebagai berikut;
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله ص م: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَّا غَفَرْتَ لِى فَقَالَ الله يَا آدَمُ وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ قَالَ يَارَبِّ ِلأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِى بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِى فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ اْلعَرْشِ مَكْتُوْبًا لاَاِلَهَ إِلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ الله وَعَرَفْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلاَّ أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ. فَقَالَ اللهُ صَدَقْتَ يَاآدَمُ إِنَّهُ َلأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ إِنْ سَأَلْتَنِى بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُكَ وَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَاخَلَقْتُكَ. قَالَ الْحَاكِمُ هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحُ اْلإِسْنَادِ وَذَكَرَهُ الطَّبْرَانِىُّ وَزَادَ فِيْهِ وَهُوَ آخِرُ اْلأَنْبِيَاءِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ.
“Tatkala adam berbuat kesalahan lantas beliau berdo’a: ‘Dengan berkat Muhammad ampuni aku’ Maka Allah swt berfirman kepadanya: ‘Bagaimana kau tahu tentang Muhammad sedangkan aku belum menciptakannya?’ Maka adam menjawab: ‘Ya tuhan sesungguhnya setelah Engkau menyempurnakan kejadianku dan meniupkan ruh-Mu kepadaku, aku mengangkat kepala kearah Arasy-Mu, maka aku lihat ada tulisan La ilaha illallah Muhammadur rasulullah, maka kutahu bahwa tidak akan engkau letakkan namanya disamping nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai’ Maka Allah berfirman: ‘Hai adam engkau benar, sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling aku cintai, dan apabila engkau meminta ampunan kepadaku dengan derajatnya maka aku mengampunimu, dan seandainya bukan karena dia maka aku tidak akan menciptakanmu’.”
Begitupun bertawassul dengan para sholihin telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Nabi saw. bertawassul kepada para nabi sebelum beliau dengan doa sebagai berikut:
إِغْفِرْ ِلأُمِّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَسَدٍ وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا ِبحَقِّ نَبِيِّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ اَّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِى (رواه الطبرانى وصححه ابن حبان)
“Ampunilah dosa Ummu Fatimah binti Asad dan luaskanlah tempatnya dengan bertawassul kepada nabiMu dan para nabi sebelumku."
Dan telah dikatakan pula bahwa bertawassul dengan para Shalihin adalah diperbolehkan seperti berikut;
اَلتَّوَسُّلُ بِاْلأَنْبِيَاءِ وَاْلأَوْلِيَاءِ فِى حَيَاتِهِمْ وَبَعْدَ وَفَاتِهِمْ مُبَاحٌ شَرْعًا كَمَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّحِيْحَةُ
وَعِبَارَةُ ك وَأَمَّا التَّوَسُّلُ بِاْلأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ فَهُوَ أَمْرٌ مَحْبُوْبٌ ثَابِتٌ فِى اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ وَقَدْ أَطْبَقُوْا عَلَى طَلَبِهِ بَلْ ثَبَتَ التَّوَسُّلُ بِاْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَهِيَ أَعْرَاضٌ فَبِالذَّوَاتِ أَوْلَى
"Adapun tawassul dengan para nabi dan para wali dimasa hidupnya dan sesudah wafatnya itu diperbolehkan menurut hukum syara`, seperti yang diriwayatkan dalam hadits yang shoheh."
adapun tawassul dengan para nabi dan para solihin adalah sesuatu yang dicintai syara` dan sudah ditetapkan dengan hadits yang shoheh dan para ulama telah bersepakat dengan menjalankan tawassul bahkan sudah tetap (diperbolehkan) tawassul dengan amal shaleh, padahal amal shaleh itu suatu sifat, maka lebih-lebih tawassul dengan dzat."
Ditinjau dari beberapa referensi tersebut, jelaslah bahwa tawassul merupakan sesuatu yang dikerjakan/ dilakukan oleh Rasulullah saw., sehingga tawassul merupakan sunnah Rasulullah dan bukanlah bid`ah.
Dalam kaitannya dengan Tawassul Asy-syahadatain, terdapat beberapa hal yang perlu dipaparkan, yaitu:
1) Pemakaian Nama Syekh hadi untuk Syekhuna
Gelar bagi syekhuna adalah syekh Hadi, syekh Alim, syekh Khabir, syekh Mubin, syekh Wali, syekh Hamid, syekh Qowim, dan syekh Hafidz. Penyebutan gelar ini sesuai dengan fungsinya sebagai guru, yaitu memberikan petunjuk, pengetahuan, dan penjelasan bagi para salik yang menjadi muridnya. Serta memberikan Rahmat, pengawasan dan menjaga murid-muridnya dari segala gangguan yang akan menjerumuskan mereka.
Mengenai pemakaian Asma Allah yang disandarkan kepada makhluk adalah banyak sekali contohnya didalam Al-quran, seperti yang terdapat didalam surat At-Taubah ayat 138 yang mensifatkan Rasul saw. dengan sebutan Rauf dan Rahim, sedangkan asma tersebut merupakan Asma Allah, dan masih banyak pula ayat Al-quran yang memberikan contoh seperti tersebut.
Demikian pula terdapat beberapa pendapat para ulama bahwa Allah akan memberikan asma (nama) dari asma Allah kepada hamba yang dicintai-Nya, termasuk syekhuna.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَعْطَي اْلعَبْدَ أَوْصَافًا وَأُطْلِقَتْ عَلَيْهِ كَمَا أُطْلِقَتْ عَلَيْهِ تَعَالَى تَشْرِيْفًا لِلْعَبْدِ كَالْعَالِمِ وَالْحَيِّ لَكِنَّهَا مُبَايِنَةٌ وَمُغَايِرَةٌ لِصِفَاتِ اْلبَارِى تَعَالَى فِى الْحَقِيْقَةِ
"Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada hambaNya beberapa sifat dan ditetapkan kepadanya (hamba), seperti ditetapkannya pada Allah (dengan maksud) sebagai penghormatan kepada hambaNya, seperti Alim (mengetahui) dan hidup, akan tetapi pada hakekatnya jelas berbeda dengan sifat Allah."
إِذَا أَحَبَّ الله عَبْدًا فَيُعْطِيه اللهُ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ
"Apabila Allah mencintai hambanya, maka Allah memberinya satu sifat diantara sifat-sifat-Nya."
Dengan demikian, tidaklah salah apabila nama-nama tersebut disandarkan pada syekhuna, karena syekhuna merupakan Ahli Nabi (orang yang menjalankan dan mengajarkan sunnah dan sirah nabi) yang membina ummat manusia untuk menjalankan perintah Allah dan RasulNya.
2) Berdoa dengan suara yang keras, Berdoa sambil bergoyang, dan berdoa dengan tangan keatas.
Berdo`a dengan menggunakan metode Jahr (membacanya dengan suara yang keras). Hal ini dilakukan karena dengan Jahr dapat mengalahkan hati yang lalay, ngantuk, dan semacamnya.
Mengenai berdoa dan berdzikir dengan suara keras ini diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab berdzikir dengan suara keras, sedangkan Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq berdzikir dengan suara pelan (sir), maka ketika ditanya oleh Nabi saw. Umar menjawab: berdzikir dengan suara keras itu dapat menolak bisikan-bisikan atau angan-angan yang jelek, melatih hati, membangkitkan hati yang lalai, dan menyempurnakan amal. Dan Abu Bakarpun menjawab: bahwa dzikir dengan suara pelan adalah Mujahadatun Nafsi, dan menuju jalan keikhlasan. Dan dikatakan pula bahwa berdzikir dengan suara pelan itu Littabarruk, dan berdzikir dengan suara keras itu Littarbiyyah Was Suluk.
.... وَلِذَالِكَ تَجِدُ بَعْضَهُمْ يَخْتَارُ الْجَهْرَ لِدَفْعِ اْلوَسَاوِسِ الرَّدِيْئَةِ وَاْلكَيْفِيَّاتِ النَّفْسَانِيَّةِ وَإِيْقَاظِ اْلقُلُوْبِ اْلغَافِلَةِ وَإِظْهَارِ اْلأَعْمَالِ الْكاَمِلَةِ وَبَعْضَهُمْ يَخْتَارُ اْلإِسْرَارَ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَتَعْلِيْمِهَا طُرُقَ اْلإِخْلاَصِ وَإِيْثَارِهَا الْخُمُوْلَ. وَقَدْ وَرَدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُ كَانَ يَجْهَرُ وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ كَانَ يُسِرُّ فَسَأَلَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجَابَ كُلٌّ بِنَحْوِ مَا ذَكَرْتُهُ فَأَقَرَّهُمَا. ...
"Oleh karena itu kamu menemukan sebagian ulama memilih Jahr (mengeraskan suara dalam berdzikir)-dengan tujuan- untuk menolak was-was yang merendahkan dan semua praktek yang berlandaskan hawa nafsu, untuk membangunkan hati yang lalai, dan menampakkan amalan-amalan yang sempurna. Dan (kamu menemukan) sebagian ulama (yang lain) memilih Israr (melirihkan suara dalam berdzikir) dengan (maksud) memerangi nafsu, mengajarinya jalan-jalan ikhlas, dan mengarahkannya pada berlaku samar (dari sepengetahuan orang lain). Dan diriwayatkan bahwa Umar ra. (memilih) mengeraskan suara (ketika berdzikir), sedangkan Abu Bakar ra. (memilih) melirihkan suara (ketika berdzikir), maka mereka berdua ditanya oleh Nabi saw. dan mereka menjawab seperti apa yang telah saya sebutkan. Maka Nabi saw. mengakui (alasan) mereka berdua."
Kedua cara berdoa tersebut memiliki keutamaan masing-masing sehingga Syekhuna menuntun para santrinya untuk menjalankan kedua cara berdzikir tersebut, yaitu dengan membagi dzikir kedalam dua kategori keras (jahr) seperti tawassul, marhaban, wirid shalat dll., serta dengan kategori pelan (sirr) seperti puji dina, modal, dll.
Mengenai Ayat Al-quran dalam surat Al A’rof ayat 205 tentang perintah berdzikir dengan suara pelan, terdapat penjelasan dalam kitab An-Nashihu Ad-Diniyah karya Sayid Abdullah Al-Hadad, hal 132 bahwa ayat tersebut merupakan surat makiyah, sehingga disaat itu dianjurkan untuk memelankan suara disaat berdzikir dan membaca Al-quran karena dihawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Dzikir dan wirid dengan suara yang keras adalah merupakan pelajaran pertama bagi para salik (orang yang mencari ma`rifat billah) untuk mengalahkan hati yang lalay, sehingga dianjurkan bagi para pemula untuk mengkeraskan suaranya disaat berdzikir.
وَالشَّيْخُ الْمُرْشِدُ قَدْ يَأْمُرُ الْمُبْتَدِئَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ لِيَقْلَعَ عَنْ قَلْبِهِ الْخَوَاطِرَ الرَّاسِخَةَ
"dan seorang guru mursyid (terkadang) menyuruh mubtadi` (pemula) dengan mengeraskan suaranya (ketika berdzikir) agar ia dapat menghilangkan dari hatinya kehendak-kehendak nafsu yang sudah mengakar."
Begitupun berdoa dengan bergoyang-goyang seperti pohon tertiup anginpun terdapat dasar hukumnya yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Nu`aim sebagai berikut;
وَرَوَي الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ اْلأَصْفِهَانِى بِسَنَدِهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ وَصَفَ الصَّحَابَةَ يَوْمًا فَقَالَ: كَانُوا إِذَا ذَكَرُوْا اللهَ مَادُوْا كَمَا تَمِيْدُ الشَّجَرُ فِى اْليَوْمِ الشَّدِيْدِ الرِّيْحِ وَجَرَتْ دُمُوْعُهُمْ عَلَى ثِيَابِهِمْ
"Dan meriwayatkan imam Hafidz Abu Na`im Ahmad Ibnu Adillah Al-Asfihani dengan sanadnya dari Ali bin Abi Tholib ra. Bahwa beliau pada suatu hari menerangkan keadaan para sahabat, beliau berkata: ketika mereka berdzikir pada Allah, mereka bergerak-gerak seperti gerakannya pohon yang dihembus oleh angin kencang (besar) dan air mata mereka mengalir membasahi pakaian mereka."
Begitupun yang dipaparkan oleh para ulama
(لاَالرَّقْصُ) فَلاَيَحْرُمُ وَلاَيُكْرَهُ ِلأَنَّهُ مُجَرَّدُ حَرَكَاتٍ عَلَى اسْتِقَامَةٍ أَوْ إِعْوَاجٍ إِلَى أَنْ قَالَ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ تَكْسِيْرٌ كَفِعْلِ الْمُخَنِّثِ
"(Tidak `demikian hukumnya` goyang-goyang) maka tidak diharamkan dan tidak pula dimakruhkan, sebab hal itu hanya berupa gerakan-gerakan searah atau sedikit miring (doyong). Sampai pada perkataan… kecuali apabila goyang-goyang tersebut disertai gerakan meliuk-liuk seperti yang dilakukan oleh orang banci (maka hukumnya haram)."
Dalam tuntunan Syekhuna terdapat wirid-wirid yang dibacanya dengan posisi berdiri, hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada asma nabi Muhammad saw yang dibaca. Dan tidak diketemukan sebuah dalil tentang larangan berdzikir sambil berdiri. Dengan demikian, praktek seperti itu dapat dilaksanakan. Dalam surat Annisa ayat 103 dan surat Ali Imron ayat 191 terdapat perincian/ contoh tentang berdzikir dengan posisi berdiri, duduk, dan lainnya. Hal ini mengisyaratkan tentang tidak dilarangnya berdzikir dengan posisi apapun selama tidak dengan tujuan menghinakan asma Allah dan rasul-Nya.
وَقَالَ مُجَاهِدٌ لاَيَكُونُ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الله كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ حَتَّى يَذْكُرُ اللهَ قَائِمًا وَقَاعِدًا وَمُضْطَجِعًا (الأذكار ص 7)
"Dan berkata seorang Mujahid; tidak dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang banyak mengingat Allah dari golongan laki-laki dan perempuan, sehingga ia berdzikir (mengingat Allah) dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring".
Begitu pula tentang berdo`a dengan tangan keatas terdapat beberapa dalil, seperti
وَلِقَوْلِهِ ص م. إِنَّ الله حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ كَفَّيْهِ ثُمَّ يَرُدَّهُمَا صَفْرًا أَى خَائِبَيْنِ وَلأَنَّ السَّمَاءَ قِبْلَةَ الدُّعَاءِ
"Sesungguhnya Allah swt. itu hidup dan pemurah, Allah swt. malu pada hambanya yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian kembali dengan kosong (tidak dapat apa-apa) dan karena sesungguhnya langit itu qiblatnya do`a."
(قَوْلَهُ وَرَفْعُ يَدَيْهِ) أَىْ وَسَنَّ رَفْعُ يَدَيْهِ عِنْدَ الدُّعَاءِ وَلَوْ فَقَدَتْ إِحْدَى يَدَيْهِ أَوْ كَانَ بِهَا عِلَّةُ رَفْعِ الآخَرِ (الطَّاهِرَتَيْنِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَمَسْحُ اْلوَجْهِ بِهِمَا بَعْدَهُ).
"Dan dikala berdoa, disunnahkanlah mengangkat kedua tangannya yang suci pada jurusan kedua bahunya, dan sunnah ula menyapu wajah dengan kedua tangannya sesudah berdoa."
Dijelaskan pula tentang posisi tangan ketika berdoa yaitu sampai terlihat putih-putih ketiaknya, hal ini seperti yang disampaikan oleh Imam Ghazali.
وَقَالَ الغَزَالِى حَتَّى يُرَى بَيَاضَ إِبْطِهِ
"Imam Ghazali berkata: (mengangkat tangan ketika berdoa) sehingga terlihat keputih-putihan dua ketiaknya."
وَرَوَي أَنَسٌ أَنَّهُ ص م. كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطِهِ فِى الدُّعَاءِ وَلاَيُشِيْرُ بِأَصَابِعِهِ
"Anas ra. Meriwayatkan bahwa, sesungguhnya Nabi saw. mengangkat kedua tangannya ketika berdoa sehingga terlihat putih-putih ketiaknya dan beliau tidak berisyarat dengan jari-jarinya."
Begitupun mengenai posisi berdoa terkadang menggunakan telapak tangannya dan terkadang pula menggunakan punggung telapak tangannya (telungkup tangannya), hal ini terdapat sebuah riwayat sebagai berikut:
وَقَدْ جَاءَ أَنَّهُ ص م. كَانَ عِنْدَ الرَّفْعِ يَجْعَلُ بُطُوْنَ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ وَتَارَةً يَجْعَلُ ظُهُوْرَهُمَا إِلَى السَّمَاءِ وَحَمَلُوْا اْلأَوَّلَ عَلَى الدُّعَاءِ بِحُصُوْلِ مَطْلُوْبٍ أَوْ دَفْعِ مَا قَدْ يَقَعُ بِهِ مِنَ اْلبَلاَءِ وَالثَّانِى عَلَى الدُّعَاءِ بِرَفْعِ مَاوَقَعَ بِهِ مِنَ اْلبَلاَءِ
"Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ketika berdo`a terkadang menjadikan telapak tangannya diatas, dan terkadang menjadikan telapak tangannya menelungkup. Para ulama menafsirkan perbuatan Nabi yang pertama (dengan posisi membuka) dalam berdoa adalah untuk keberhasilan sesuatu yang diharapkan atau menolak cobaan yang akan terjadi, dan perbuatan Nabi yang kedua (dengan posisi menelungkup) dalam berdoa untuk menghilangkan cobaan yang telah terjadi."
b. Marhaban
Marhaban menurut bahasa adalah ucapan selamat datang, sedangkan menurut istilah adalah pengucapan selamat datang kepada kedatangan Nabi Muhammad saw. dalam tugasnya dimuka bumi.
Sedangkan dalam konteks Asy-syahadatain adalah Hormat Nabi Muhammad saw. dengan pembacaan Al-Barzanji dan beberapa pujian kepada Baginda Nabi dan Ahlul bait sebagai implementasi cintanya kepada Beliau. Karena cinta kepada Rasulullah merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Dalam kitab Al Iman wa An Nudzur bab Kaifa Yaminun Nabiy terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Abdullah bin Hisyam dia berkata
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ص م وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ الله, َلاَنْتَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى. فَقَالَ النَّبِيِّ ص م: لاَ, وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتىَّ اَكُونَ اَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ: فَإِنَّهُ اْلآن وَالله َلأَنْتَ اَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِى. فَقَالَ النَّبِى ص م: الآن يَا عُمَرُ
"Dulu kami pernah bersama nabi, sedangkan beliau waktu itu menggandeng tangan umar bin khattab ra. Maka umar berkata kepada Nabi saw. ya Rasulullah sesungguhnya engkau lebih aku cintai dibanding lainnya, kecuali diri saya sendiri. Maka Nabi bersabda: Tidak, Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya (Kekuasaan-Nya), sehingga aku lebih kau cintai daripada dirimu sendiri. Maka umar berkata: kalau demikian sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Nabi lalu berkata: Sekarang wahai Umar (sekarang sudah sempurna imanmu wahai umar)."
عن انس ابن مالك قال: قال رسول الله ص م: لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتىَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْن. (رواه مسلم)
"Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah saw bersabda: Tidak sempurna iman seseorang, sehingga aku lebih ia cintai dibanding keluarganya, hartanya, dan manusia semua."
Allah berfirman dalam surat Ali imron ayat 31 bahwa tanda/ciri mencintai Allah adalah mengikuti nabi saw.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْم
"Katakanlah; "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu", Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
Dari bunyi ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada Rasulullah, dan tanda cinta kepada Rasul adalah dengan mengikuti Sunnah / Sirah Rasulullah. Karena kehidupan Rasulullah saw. adalah wujud hidup dari ajaran islam seperti yang diperintahkan Allah swt. untuk diterapkan dialam nyata. Sehingga ajaran islam itu bukan hanya untuk didalam masjid saja.
Salah satu cara agar cinta kepada Rasulullah saw. adalah dengan mengenal beliau dengan membaca sejarah kehidupan dan kemuliaannya, dan atau dengan membacakan puji-pujian kepadanya, serta mengikuti sunnah-sunnahnya.
Dalam Tuntunan Syekhuna, cinta kepada Rasulullah dan Ahlul Baitnya merupakan pokok utama dalam menapaki jalan menuju ridho Allah.
Marhaban dan tawassul merupakan dua peninggalan/ warisan dan wasiat Syekhunal Mukarrom untuk para santrinya, sebagai salah satu cara memohon syafaat kepada Rasulullah dan penambah cintanya kepada Rasulullah saw., sehingga salah satu syarat menjadi santrinya adalah istiqomah dalam menjalankan Marhaban dan Tawassul tersebut.
c. Rahasia amalan atau aurod tahsis syekhuna
1) Membaca Syahadat setelah salam dari sholat
Membaca wirid atau doa setelah shalat maktubah adalah merupakan amalan yang sangat baik, hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa doa setelah shalat akan lebih didengar (dikabulkan) oleh Allah.
رَوَيْنَا فِى كِتَابِ التِّرْمِيْذِى عَنْ أَبِى أُمَامَةَ رَضِيَ الله عَنْه قَالَ قِيْلَ لِرَسُوْلِ الله ص.م أَيُّ الدُّعَاء أَسْمَعُ؟ قَالَ جَوْفُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ اْلمَكْتُوْباَتِ (الأذكار النواوى ص 57)
"Diriwayatkan didalam kitab Attirmidzi dari Abi Umamah ra. Berkata: Rasulullah saw. Telah ditanya; Doa apa yang paling didengar? Maka Rasul menjawab: (Doa yang dibaca) ketika tengah malam terakhir dan (Doa yang dibaca) setelah shalat fardhu".
Dan diriwayatkan pula dalam sebuah hadits bahwa Rasul memohon ampunan kepada Allah setiap selesai melaksanakan shalat fardhu.
وَفِى الْحَدِيْثِ أَنَّهُ كَانَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى عَقِبَ كُلِّ مَكْتُوْبَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (المنح السنية ص 15)
"Dan dalam sebuah hadits sesungguhnya Rasul saw. memohon ampunan kepada Allah pada setiap selesai shalat fardhu dengan tiga kali"
Dengan demikian telah jelas bahwa dianjurkan berdzikir setelah shalat fardhu, terutama dengan memohon ampunan kepada Allah atas segala kehilafan.
Syahadat merupakan penghancur dan pelebur dosa bahkan kemusyrikan, sehingga membaca syahadat setelah sholat merupakan sunnah rasul, hal ini pun didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Anas ra. bahwa Rasul membaca syahadat ketika selesai dari shalat, hadits tersebut berbunyi;
وَرَوَيْنَا فِى كِتَابِ ابْنِ السُّنِّى , عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ الله عَنْهُ, قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله ص.م. إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى, ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ, اَللَّهُمَّ اذْهَبْ عَنِّى الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
"Artinya: Dan telah kami riwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni, dari Anas RA. Dia berkata : Bahwa Rasulallah saw memegang dahi beliau setelah selesai sholat dengan tangan kanan, dan kemudian beliau membaca : “Asyhadu ……….” (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alah swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ya Alah swt lepaskanlah dariku kesusahan dan kesedihan)."
Syahadat yang dibaca oleh Rasulallah tidak disertai dengan Syahadat Rasul, hal ini didasarkan bahwa beliaulah sendiri sebagai rasulnya, jadi sudah tentu beliau menyaksikannya. Sedangkan kita sebagai ummatnya diwajibkan membacanya sebagai kesempurnaan iman kita.
Dalam tuntunan Syaikhuna, pembacaan syahadat tersebut dilangsungkan dengan membaca shalawat (atau yang dikenal dengan nama syahadat sholawat). Hal ini merupakan penghormatan kepada asma nabi saw. yaitu dengan mengucapkan sholawat pada saat menyebutkan namanya. Hal inipun pernah dilakukan oleh orang-orang arif terdahulu, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab salaf, diantaranya adalah;
....... فَأَتَى إِلَى بَعْضِ الْمُسْلِمِيْنَ يُلَقِّنُهُ الشَّهَادَةَ وَيُكَرِّرُهَا عَلَيْهِ, ثُمَّ يَقُوْلُ بَعْدَ ذَالِكَ : صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ........
"Artinya: ….. maka ia datang pada sebagian ummat islam agar dituntun membaca syahadat dan melafalkannya berulang-ulang, kemudian ia (sebagian ummat islam) berkata (setelah membaca syahadat); bersholawatlah kepada Nabi saw. ….."
وَرَوَيْنَا تَكْرِيْرُ شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّالله ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فِى كِتَابِ ابْنِ السُّنِّى مِنْ رِوَايَةِ عُثْمَان ابْنِ عَفَّان رضي الله عنه بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ, قَالَ الشَّيْخ نصر المقدسى وَيَقُوْلُ مَعَ هَذِهِ اْلأَذْكَارِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ (الأذكار النواوى ص 24)
"Dan diceritakan tentang pengulangan syahadat dibaca tiga kali didalam kitab Ibnu Sunni dari riwayat Usman bin Affan ra. Dengan sanad dhaif, Syekh Nashr Al-Muqditsy berkata; dan dibaca bersamaan dengan dzikir ini (syahadat) kalimat `Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad` (bacaan shalawat)".
Pegucapan syahadat setelah sholat tersebut merupakan upaya memohon ampunan pada Allah atas kelalayan kita khususnya dalam mengerjakan sholat.
Setelah membaca dua kalimat syahadat dilanjutkan dengan membaca istighfar, hal ini sesuai dengan ayat Al-quran surat Muhammad ayat 9 sbb;
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَإِلَهَ إِلاَّالله وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (محمد : 9)
"Maka ketahuilah, sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu, dan bagi dosa orang-orang mu’min (laki-laki dan perempuan)."
2) Membaca wasallam dan wasallim ketika membaca syahadat sholawat
Sebagian golongan menyalahkan tentang pembacaan kalimat "wasallam" pada tuntunan syekhuna dengan dalih bahwa "wasallam" adalah fi`il madhi sedangkan kalimat sebelumnya (yaitu Sholli) adalah fi`il Amar, sehingga kalimat tersebut tidak ta`alluk (cocok), karena seharusnya fi`il amar itu ta`alluknya dengan fi`il amar yaitu kalimat "wasallim".
Mengenai hal ini dijelaskan dalam kitab Hamisy Alfiyah Ibnu aqil bab Ataf sebagai berikiut
(وَعَطْفُكَ اْلفِعْلَ عَلَى اْلفِعْلِ) إِنِ اتَّحَدَا فِى الزَّمَانِ (يَصِحْ) نَحْوُ لِنُحْيِىَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ وَلاَيَضُرُّ اخْتِلاَفَهُمَا فِى اللَّفْظِ
"(dan diathofkannya fi`il kepada fi`il adalah sah) apabila sama dalam satu zaman (yaitu sama dalam fi`il madhi, mudhori` dan amarnya), dan tidak berbahaya apabila berbeda zamannya (misalnya fi`il madhi dengan fi`il amar)."
Hal inipun dijelaskan pula sebagai berikut;
(قَوْلُهُ وَفِى اْلأَفْعَالِ) أَىْ بِشَرْطِ اِتِّحَادِهَا زَمَنًا سَوَاءٌ إِتَّحَدَ نَوْعُهَا أَمْ لاَ
"(perkataannya: dan didalam fi`il) dengan syarat cocok zamannya/waktunya begitupula macamnya ataupun tidak sama (diperbolehkan tidak satu zaman)."
Kedua kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa athaf antara fi`il dengan fi`il itu diperbolehkan, walaupun berbeda bentuk atau zamannya. Dengan demikian pembacaan "wasallam" pada syahadat sholawat tersebut diperbolehkan.
Mengenai manfa`at yang terkandung dari pembacaan syahadat tiga kali tersebut, syekhuna menadzomkan
Syahadataken sepisan sira macane
Nuhun selamet waktu naja ning dunyane
Maca syahadat sira kaping pindone
Nuhun selamet mungkar nakir jawabane
Maca syahadat ping telune aja blasar
Nuhun selamet landrat arah-arah mahsyar
(يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى اْلآخِرَةِ) وَيَكُوْنُ التَّثْبِيْتُ فِى ثَلاَثَةِ أَحْوَالٍ أَحَدُهَا فِى حَالِ مُعَايِنَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ وَالثَّانِى فِى حَالِ سُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ وَالثَّالِثُ فِى حَالِ سُؤَالِهِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (تنبيه الغافلين ص 14)
"Allah meneguhkan (menetapkan) iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimat thayyibah) dalam kehidupan didunia dan Akhirat; dan penetapan (syahadat) tersebut pada tiga keadaan, yaitu: yang pertama ketika berhadapan dengan malikat maut (Naz`ir ruh), yang kedua ketika dalam menghadapi pertanyaan malaikat mungkar dan malikat nakir, dan yang ketiga ketika dalam keadaan menghadapi hisab dihari qiyamat (min Ahwali yaumil qiyamah)."
3) Membaca yasin Syahatil wujuh
Dalam wirid maghrib terdapat bacaan surat yasin yang dipotong dengan kalimat "Syahatil wujuh" setelah membaca "La yubsirun". Hal ini terdapat contoh tentang kebolehan membaca Syahatil wujuh setelah membaca "la yubsirun", yaitu sebagai berikut;
فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَيُبْصِرُوْن. شَاهَتِ اْلوُجُوْه ثَلاَثًا
Demikianlah yang tertera dalam kitab Dalailul Khoirot. Tersebut pula dalam beberapa kitab salaf tentang kebolehan membaca doa atau tasbih ditengah-tengah surat atau ayat Al-qur`an selama tidak khawatir terhadap dugaan bahwa do`a atau tasbih tersebut termasuk ayat al-qur`an, yaitu sebagai berikut;
وَفِى أَثْنَاءِ الْقُرْآنِ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ تَسْبِيْحٍ سَبَّحَ وَكَبَّرَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ دُعَاءٍ وَاسْتِغْفَارٍ دَعَا وَاسْتَغْفَرَ وَإِنْ مَرَّ بِمَخُوْفٍ إِسْتَعَاذَ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ (إحياء علوم الدين فى الجزء الأول ص 279)
"dan ditengah-tengah (bacaan) Al-quran, apabila ia melewati (membaca) ayat yang menjelaskan tentang tasbih, maka hendaklah ia membaca tasbih dan takbir. Apabila ia melewati (membaca) ayat tentang doa dan istighfar, maka hendaklah ia berdoa dan beristighfar. Dan apabila melewati (membaca) ayat tentang suatu hal yang ditakutkan, maka hendaklah ia memohon perlindungan. Ia melakukan semua itu dengan lisan dan hatinya."
وَقَالَ الْحُلَيْمِىُّ تُكْرَهُ كِتَابَةُ اْلأَعْشَارِ وَاْلأَخْمَاسِ وَأَسْمَاءِ السُّوَرِ وَعَدَدِ اْلآياَتِ فِيْهِ لِقَوْلِهِ جَرِّدُوْا الْقُرْآنَ وَأَمَّا النُّطْقُ فَيَجُوْزُ ِلأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ صُوْرَةٌ فَيُتَوَهَّمُ ِلأَجْلِهَا مَالَيْسَ بِقُرْآنٍ قُرْآنًا وَإِنَّمَا هِيَ دِلاَلاَتٌ عَلَى هَيْئَةِ الْمَقْرُوْءِ فَلاَ يَظْهَرُ إِثْبَاتُهَا لِمَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهَا (الإتقان فى الجزء الثالث ص 171)
"Imam Al-Hulaimi berkata; dimakruhkan menulis tanda sepersepuluh, seperlima (juz), nama-nama surat dan bilangan ayat didalam Al-quran, karena sabda Beliau; kosongkanlah Al-quran. Adapun sekedar mengucapkannya maka diperbolehkan, sebab ucapan tidak mempunyai bentuk. yang dimana dengan adanya bentuk tersebut, apa-apa yang bukan termasuk Al-quran bisa disangka termasuk Al-quran. Sesungguhnya ia (bentuk/rupa tersebut) hanya sebagai petunjuk bagi ayat yang dibaca, maka tidak tampak penetapannya bagi orang yang membutuhkannya."
4) Sholawat Tunjina dengan dhomir mudzakkar
Sholawat tunjina pada umumnya adalah dengan menggunakan dhomir muannas yaitu dengan kalimat "Biha", namun dalam Tuntunan Syekhuna menggunakan dhomir mudzakkar yaitu dengan kalimat "Bihi". Hal ini disebabkan karena shalawat yang dibacanya pun berbeda, sehingga kedudukan dhamirnya pun berbeda.
Sholawat tunjina dengan dhomir mudzakkar tersebut kembali kepada Nabi, artinya memohon keselamatan dengan bertawassul kepada kemuliaan Nabi Muhammad. Sedangkan dengan dhomir muannas memiliki arti memohon keselamatan dengan bertawassul kepada sholawat Nabi.
Contoh yang menggunakan dhamir Muannas
اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بـها
Contoh yang menggunakan dhamir mudzakkar
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا ومولانا محمد الذى تنجينا بـه
5) Membaca wirid dengan Dhomir "Hu.."
Dalam tuntunan syekhuna terdapat satu metode wirid yang asing menurut umum, namun didalamnya mengandung makna yang besar. Wirid tersebut adalah pengucapan lafadz "Hu".
Lafadz “HU..” merupakan domir (kata ganti) yang kembali pada Allah. Cara membacanya: disaat membaca “HU..” nafas dikeluarkan. Kemudian menarik nafas dengan mengucapkan “ALLAH” didalam hati, dan begitulah seterusnya hingga merasa sudah lebih mendekati eling, barulah dilanjutkan dengan bacaan “HU… ALLAH” artinya kata Allah yang ada dalam hati dikeluarkan dengan keras. Dengan tujuan melatih hati untuk belajar eling.
Metode dzikir seperti inipun (dengan menggunakan lafadz "Hu") telah dilakukan oleh para salafus shalih, hal ini didasarkan pada kutipan berikut;
Dzikir itu mempunyai tiga belas (13) nama, setiap nama (asma Allah) dibaca 100.000 kali yaitu : Laa ilahaa illallah . Huu . ……”
bersambung ke 2



Dikirim pada 23 September 2013 di asysyahadatain
13 Jan


Sesuai harapan pembaca di cbox : “Never failed to give fresh & superb info for all your readers! Already LIKE your FB and bookmark your site! Waiting your further update!” daripada tak ada bahan saya ceritakan aja yang saya ingat dari perjalanan kaliwonan, sekedar informasi bahwa di mesjid Abah Umar Panguragan biasanya ada kegiatan pada malam jumat kaliwon, tanggal 8 mulud dan 20 Rajab.

Sudah lama saya tak ke Panguragan, alhamdulillah ada tumpangan (Pa Abu) yang mengajak ke sana , sebelumnya kira-kira jam 14.00 ada pengajian dulu di Desa Sukamukti, sedikit yang saya ingat sebelum semuanya lupa, 7 zaman dan pembawa syahadat, 5 diantaranya di Arab yaitu Nabi SAW, Imam Ali KW, (3 nya lupa, insy. nyusul) dan 2 di Jawa yaitu Syarif Hidayatullah Gunung Jati dan Habib Umar bin Ismail bin Yahya. Wirid syahadat pertama untuk menyelamatkan dari fitnah dunia terkhusus pada saat sakaratul maut, wirid syahadat kedua selamat di alam barzarh khususnya dalam menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, syahadat ketiga untuk selamat di alam akherat. Nadzom abah : “ sebab syahadat elmuna jadi manfaat – Nyelamataken dunia sampe akherat.”

Singkat cerita setelah pengajian itu, kami melanjutkan ke Panguragan, magrib dan Isya berjamaah dan selesai shalat witir, kami ke rumah Abah Amang berjalan sebentar dari Masjid Panguragan untuk acara Tawassul, marhabanan dan ikrar bagi 2 kerabat pa Abu, yang saya ingat dari pertemuan dengan Abah Amang, Beliau mengingatkan bahwa murid Abah Umar terbagi 3 golongan : 1. Ashhabul Yamin, Orang bodoh yang mengikuti semua apa yang di bawa oleh Abah Umar, yang bakal selamat. 2. Ashabus sima dan 3. Ashhabul mal, dua terahir ini bakal celaka karena tak menuruti Abah Umar tak peduli apakah dia itu Ustadz, kyai atau Habib. Kemudian Beliau juga mengingatkan bahwa pada pembacaan pembuka marhabanan, pada kata ya robbi – bi-nya dengan di baca panjang, itu yang dicontohkan Abah Umar. Seperti pada bacaan ya robbii sholli ‘alaa Muhammad – ya robbii sholli ‘alaihi wasallim demikian juga kalimat yang lain, terkhusus pada dua terahir yakni Ya robbii washlih kulla mushlih ya robbi wakfi kulla mu’di dan ya robbii nakhtim bil musyaffa’ di baca bii nya lebih panjang. Dan pada pembacaan Barjanzi , kalimat bismillahirrohmanirrohim- nya diawal saja.

Selesai acara marhabanan lalu makan-makan yang disediakan tuan rumah, setelah makan , saya ke teras depan mengobrol dengan yang jamaah lainnya sementara Pa Abu menyaksikan ikrar dua kerabatnya dan masih banyak juga jemaah yang mengikuti ikrar diikuti dengan wejangan dari abah Amang.

Ada beberapa yang saya ingat dari obrolan di teras depan diantaranya bahwa Asysyahadatain berencana menjadi organisasi yang besar memiliki rumah sakit , sekolah dan memakmurkan anggotanya, diantara langkahnya yaitu dengan menanam sejuta pohon Jati bongsor (jabon) yang dalam tempo 5 tahun pohon jabon itu bisa berdiameter 30 cm, teknis pelaksanaan kerja sama dengan pemilik lahan lagi di rencanakan, mudah-mudahan terlaksana, aamiin. Ada lagi yang menarik yaitu pembicaraan Pa Asep (sekjen) dan pa Agus (staf pesantren Munjul), Pa Asep bercerita bahwa diantara muridnya ada yang berprofesi sebagai mbah dukun, bahwa muridnya itu kadang bertanya yang di luar pengetahuan nya dan membuatnya repot, tapi ketika di jawab Pa Asep dengan sekenanya tapi jawaban itu justru benar n manjur. Diantara ceritanya: Muridnya berkata: guru ko setelah ke asysyahadatain khodam ku pada kabur, Pa Agus menyela kan ada khodam yang lain . Muridnya berkata guru saya lagi di suruh mencegah hujan, di kemanain? Pa Asep yang lagi berkendara menjawab di sini juga hujan coba aja pindahin ke daerah anu (menyebut nama daerah sekenanya, tapi ternyata benar bahwa daerah itu jadi hujan lebat). Pernah Pa Asep yang sedang rapat dengan seorang professor dan petinggi asysyahadatain tentang program penanaman Jabon, di telpon, kata muridnya : Guru saya disuruh menghilangkan susuk gimana caranya, dijawab bertawassul aja, tapi benar terbukti manjur! Saya tertawa mendengar cerita ini. Pa Asep meminta solusi, apa di Pesantren Munjul ada yang menerima untuk di jadikan murid, tapi ternyata di Munjul hanya menerima santri SMA ke bawah, lalu disaranin ke Pa Amir di Wanantara, Pa Asep menjawab saya ingin yang lebih banyak porsi pengetahuan asysyahadatain-nya daripada ilmu hikmahnya, sebegitu perhatiannya pada muridnya, nih pa Asep! Pembicaraan terhenti karena Pa Abu sudah selesai acara ikrarnya, terus terang saya belajar banyak akhlak dan kerendah-hatian dari para senior .

Dikirim pada 13 Januari 2013 di asysyahadatain
01 Okt


Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Ali ‘Imron : 18)

“Pada suatu hari Rosulullah saw sedang duduk dalam keadaan sedih, tiba-tiba Jibril mendatanginya dan berkata:Ya Rosulullah apa yang menjadikan engkau bersedih padahal Allahsudah memberikan lima perkara untuk ummatmu yang mana Allah tak pernah memberi kepada siapapun sebelummu.

Pertama : Allah berfirman Aku dalam persangkaan hamba-Ku, tiada akan mengingkari persangkaan hamba-Ku

Kedua : Barang siapa yang menutupi aib hamba-Ku di dunia maka Aku tidak akan menampakkan kejelekannya pada hari kiamat.

Ketiga : Pintu tobat tidak akan ditutup selama ruh umatmu belum sampai ke tenggorokan.

Keempat : Barangsiapa yang sebelum mati walaupun berdosa sepenuh bumi akan diampuni dosanya sesudah membaca dua kalimat syahadat.

Kelima : Dibebaskan siksaan atas ummatmu dengan berkah do’anya orang-orang yang masih hidup.

Dari Ibnu Abbas ra berkata Allah menciptakan ruh 4000 tahun sebelum menciptakan jasad dan Allah menciptakan rizki 4000 tahun sebelum menciptakan ruh. Maka Allah menyatakan pada diriNya sendiri, sebelum ada langit dan bumi, daratan maupun lautan. Maka Allah berfirman : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ”

“Dari Abu Bakar shiddiq ra, bahwasanya Dihyatal Kalbi dari bangsa arab. Rosulullah menyukainya masuk islam karena dia itu mempunyai 700 anggota keluarga. Dan Rosulullah memohon kepada Allah mudah-mudahan Dihyatal Kalbi memeluk agama Islam, Allah menurunkan wahyu kepada Rosulullah ketika Rosul usai sholat shubuh.”Wahai Muhammad Aku meletakkan cahaya iman dalam hati Dihyatal Kalbi dia sebentar lagi akan masuk keruanganmu.” Maka tatkala Dihyatal Kalbi masuk masjid, Rosulullah mengangkat rida(selendang)dari punggungnya dan dihamparkan ke bumi sebagai isyarat supaya Dihyatal Kalbi duduk diatas selendang tersebut, maka Dihyatal Kalbi melihat penghormatan dari Rosulullah itu lalu menangis, kemudian Dihyatal Kalbi mengambil selendang Rosulullah lalu menciumnya dan meletakan diatas kepalanya sambil berkata : “Ya Rosulullah apakah syaratnya Islam? Berilah aku pelajaran!”, maka Rosulullah saw bersabda: “Bacalah dua kalimat syahadat!” Kemudian Dihyatal Kalbi menangis. Maka Rosulullah saw bertanya: “Apakah kedatanganmu itu karena untuk memeluk agama Islam, atau perkara lainnya?” Dihyatal Kalbi menjawab: “Ya Rosulallah, aku telah berbuat dossa yang besar , tanyakanlah pada Tuhanmu apa peleburnya ya Rosulallah?” Apabila Tuhan menyuruhku agar aku dibunuh, maka aku akan membunuh diriku, dan jika Tuhan menyuruh aku mengeluarkan harta shodaqoh maka aku akan mengeluarkannya. Rosulullah bertanya: “Apa dosamu wahai Dihyah?” Dihyah menjawab: “aku ini rajanya orang arab, aku punya anak perempuan 70, supaya tidak punya suami, anakku kubunuh dengan tanganku sendiri, sebab aku malu kalau diucapkan oleh seseorang bahwa si fulan jadi menantu raja Dihyah.” Kemudian Rosulullah bingung dalam perkara itu, maka Jibril turun dan berkata: “Ya Rosulallah, katakan pada Dihyah demi kemulian-Ku, demi keagungan-Ku, sesudah kamu baca dua kalimat syahadat maka Aku maafkan kekafiranmu selama 60 tahun dan mencelamu pada-Ku 60 tahun, maka bagaimana tidak akan memaafkanmu yang membunuh anak perempuanmu.”

Berkata Abu Bakar shiddiq, maka Rosulullah menangis bersama shahabatnya dan Rosulullah berdo’a: ”Wahai Allah Tuhanku, Engkau memaafkan Dihyah yang membunuh anak-anak perempuannya sebab mengucapkan kalimat syahadat satu kali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni orang mukmin yang berdosa kecil, sedangkan mereka mengucapkan kalimat syahadat berkali-kali.”

” Dari Ali karromallahu wajhah, bahwasanya sayyidina Ali mendengar dari Rosulullah, dan Rosulullah saw mendengar dari malaikat Jibril as, berkata jibril as : ”Tidak ada kalimat yang lebih agung diturunkan ke bumi dari pada syahadat dua, dengan dua kalimat syahadat ini langit, bumi, bukit, pohon, daratan dan lautan bisa tegak. Jadi kalau tidak ada orang yang membaa dua kalimat syahadat dunia ini kiamat, karena syahadat itu kalimat ikhlash, syahadat itu kalimat islam, syahadat itu kalimat taqwa. Maka apabila kalimat syahadat dua didalam timbangan sebelah kanan dan disebelah kiri adalah bumi tujuh dengan langitnya, dua kalimat syahadat lebih unggul mengalahkan bumi langit yang tujuh."

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(QS : Thoha:14 )

Ayat ini menunjukkan bahwa wajib bagi manusia mengetahui Allah dengan yakin, kemudian setelah mengetahui Allah wajib bagi manusia menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, dan wajib menegakkan sholat untuk mengingat perintah-Nya.

Soal : Mengapa Habib Umar mengatakan sesudah salam dari sholat membaca kalimat syahadat tiga kali, apakah ada hadits nya?

Jawab: Ya ada haditsnya, sebagaimana dalam kitab Adzkar An-nawawi halaman yang artinya: Rosulullah sesudah salam dari sholat mengusap dahinya dengan tangan kanannya yang mulia kemudian membaca ASYHADU AN LAA ILAA HAILLALLAHURROHMANURROHIM ALLAHUMMA ADZHAB ‘ANNIL HAMMA WAL HUZNA.



Soal : Mengapa Rosulullah saw tidak membaca syahadat rosul sedang Habib Umar membacanya?

Jawab : Ya karena Rosulullah itu bersaksi bahwa dirinya itu menjadi rosul, adapun Habib Umar itu menjadi ummatnya, maka apabila ummat jatuh kedalam syirik, murtad, wajiblah umat itu membaca dua kalimat syahadat, apalagi pada zaman sekarang ini.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Umamah, Rosulullah saw bersabda: Akan ada fitnah diakhir zaman, seseorang pada pagi hari mukmin tapi sore harinya menjadi kafir, kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah dengan ilmu atau dengan guru, demikianlah catatan kitab Dasuki halaman 68. Maka beruntunglah bagi kita yang sangat awam dalam ilmu tauhid mau turut Habib Umar mempelajari ilmu syahadat.

Soal : Mengapa Habib Umar mengajarkan syahadat?

Jawab :Karena sesungguhnya pada zaman sekarang seringkali murtad pada perkataan , perbuatan, maupun keyakinan yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia yang sesungguhnya mereka tidak kembali kepada Islam kecuali mempelajari syahadatain.

Soal : Apa tujuan membaca dua kalimat syahadat tiga kali sesudah salam dari sholat?

Jawab: Ada tiga tujuan yaitu:

1. Agar memperoleh tetapnya iman islam pada waktu naza’ (saat akan meninggal /sekaratul maut ).

2. Agar memperoleh kemantapan syahadat saat ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir dalam qubur.

3. Agar memperoleh keselamatan dari huru-hara hari kiamat di Padang Mahsyar.

Soal : Mengapa membaca sholawat atas Nabi saw sesudah membaca dua kalimat syahadat ? Dan apa maksudnya ?

Jawab : Maksudnya yaitu mengikuti bacaan syahadat Sayyidina Jibril sesudah memperdengarkan tahiyatan nabiyallah dan tahiyyatallah kepada Rosul-Nya.

Soal : Apakah boleh fi’il amar dihubungkan pada fi’il madly ?

Jawab : Ya boleh , sebagaimana dalam kitab Al fiyah pada bab athaf yang artinya fi’il apa saja boleh di athofkan pada fi’il lagi.

Soal : Apakah boleh baca syahadat dua sebelum membaca istigfar ?

Jawab : Boleh, sebagaimana firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19, Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.

Soal : Apakah Rosulullah membaca syahadat sebelum baca istigfar sesudah salam dari sholat ?

Jawab : Ya, sebagaimana dalam keterangan Kitab Adzkar Nawawi halaman 69 yang artinya : Dari shahabat Anas ra , adalah Rosulullah saw setelah salam mengusap dahinya dengan tangan kanan,kemudian membaca :ASYHADU AN LAA ILAA HAILLALLAHURROHMANIRROHIM ALLAHUMMA ADZHAB ‘ANNIL HAMMA WAL HAZAN. Artinya : “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang maha murah dan maha kasih, ya Allah hilangkanlah kesedihanku yang ada didalam maupun diluar.”

Soal: Adakah dalam quran ayat yang menerangkan keutamaan syahadat ?

Jawab : Ya ada dalam surat as sajdah/ fushilat ayat 30-32 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Menurut pendapat sebagian Ahlil Haqq bahwa istiqomah itu ada tiga macam yaitu :

Istiqomah dengan lidah yaitu membiasakan diri membaca syahadat.
Istiqomah dengan hati yaitu membiasakan diri menjaga benarnya tujuan/kehendak.
Istiqomah dengan badan yaitu membiasakan diri menjalankan ibadah dan taat kepada Allah.
Orang yang mati memperoleh kegembiraan dari Allah lima macam yaitu :

Pada umumnya matinya orang-orang yang beriman dikabarkan pada mereka , agar jangan takut pada kekalnya siksaan, kalian tidak selamanya dalam siksaan, para Nabi dan orang-orang sholeh akan memberi pertolongan untuk kalian, janganlah bersedih karena lambatnya pahala, bergembiralah kalian karena kembali mu ke surga.
Bagi orang-orang yang ikhlash,dikatakan kepada nya agar jangan takut ditolak amalan kalian, sesungguhnya amal kalian akan diterima Allah dan jangan sedih dengan lambatnya pahala karena pahala kalian akan dilipat gandakan.
Bagi orang-orang yang taubat , dikatakan kepadanya tak usah takut kalian berdosa , dosa kalian diampuni-Nya. Janganlah bersedih hati dengan lambatnya pahala , Allah menggantikan kejelekanmu dengan kebajikan.
Bagi orang –orang yang zuhud , dikatakan jangan kalian takut di padang mahsyar dan dihisab. Jangan kalian sedih atas kurangnya pahala maka bergembiralah kalian masuk surga tanpa dihisab dan tidak juga disiksa.
Bagi Ulama yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan beramal dengan ilmu, dikatakan kepada mereka, janganlah takut akan keadaan nanti di hari kiamat, karena Allah akan memberi balasan kepada kalian, bergembiralah dengan surga untuk kalian dan untuk yang mengikuti kalian. Maka berbahagialah orang-orang yang diberi kegembiraan oleh Allah pada ahir umurnya.
Orang yang diberi kegembiraan pada umumnya yaitu orang-orang mu’min yang baik amalannya. Maka para malaikat turun kepada mereka yang istiqomah membaca syahadatnya, mereka bertanya kepada malaikat siapakah kalian ? Aku belum pernah lihat wajah yang paling bagus dan mencium bau yang paling wangi dari kalian. Malaikat menjawab : “Aku pembina amal kalian di dunia.”

وَفِىْ قِرَأَتِهَا فَضِيْلَةٌ اَيْضَا

كَمَاوَرَدَ اَنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُجَاءُ بِمَنْ كَانَ يَحْفَظُهَا فَيَقُوْلُ اللهُ لَهُ اِنَّ لِعَبْدِىْ هَذَا عِنْدِىْ عَهْدًا فَاَوْفِيْهِ اِيَّاهُ اَدْخِلُوْا عَبْدِىْ اَلْجَنَّةَ فَيُدْخِلُوْنَهُ مِنْ غَيْرِسَابِقَةِ عَذَابٍ ، وَمِنْ فَضْلِهَا اَنَّهَا تَقْلُعُ عِرْقَ الشِّرْكِ مِنَ الْقَلْبِ وَتَنْقَعُ مِنَ الْوَسْوَاسِ وَلِذَا اِخْتَارَهَا الْعَارِفُوْنَ فِى خَتْمِ صَلاَتِهِمْ فَيَقْرَؤُوْنَهَا -

Artinya : Keutamaan syahadat nanti pada hari kiamat , akan didatangkan orang yang membina (arti dari yahfadzuha) membaca syahadat . Allah berfirman kepadanya inilah hamba –Ku, Aku punya janji kepadanya, masukanlah hamba-Ku ke surga, maka malaikat memasukkannya dengan tidak disiksa terlebih dahulu. Dan keutamaan syahadat lainnya bahwa syahadat itu dapat menghilangkan urat syirik dari hati, dan juga dapat menghilangkan ragu-ragu dalam hati, maka dari itu orang ma’rifat memilih sesudah sholat membaca syahadat.(Tafsir Showi, Surat Al-maidah:135,)

Keutamaan syahadat adalah Allah akan menetapkan kepada orang yang beriman dengan perkataan yang tetap(syahadat) di dunia maupun diakherat. Didunianya tidak putus-putus baca syahadat pada waktu dicoba agamanya seperti nabi Zakaria as, Nabi Yahya as, Jirjis juga Syamson dan mereka orang yang terbunuh (Ashhabul uhdud).

Diceritakan oleh Sahli bin ‘Imar, ia berkata aku melihat Yazid bin Harun dalam tidurku setelah wafatnya, kemudian aku menanyainya, “Apa yang Allah perbuat kepadamu?” Yazid berkata: “aku kedatangan dua malaikat yang seram, keduanya menanyakan ketuhanan, keagamaan dan kenabian , maka aku memegang jenggotku yang sudah putih, kemudian aku berkata pada dua malaikat itu, seperti inikah pertanyaanmu padaku, padahal aku telah mengajari manusia agar dapat menjawab pertanyaanmu selama 80 tahun, lalu keduanya pergi.“

Maka jelaslah orang yang membiasakan syahadat, merenungkan syahadat dalam perasaannya dan selalu bersyahadat maka akan lebih kuat dan sempurna syahadatnya.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata :”Barang siapa membiasakan syahadat pada waktu di dunia, maka Allah akan menetapkan syahadat padanya dalam kubur dan akan mengajarkannya.”

Soal : Apakah membaca sholawat atas Nabi didalamnya ada keutamaan ?

Jawab : Ya ada sebagaimana sabda Nabi : “Barang siapa membaca sholawat padaku, maka tidak mati sebelum digembirakan dengan surga.” Dan dalam satu riwayat barang siapa membaca sholawat kepadaku seribu kali maka orang itu diberi kabar gembira dengan surga sebelum mati.”

Soal : Bagaimana orang yang membaca sholawat kepada Nabi saw, sedang ia tidak faham artinya, apakah ia mendapat pahala ?

Jawab : Ya , ia diberi pahala walaupun tidak faham artinya, karena ada sebagian shahabat menanyakan hal itu kepada Rosulullah , sabdanya : Allah member rohmat sepuluh bagi yang membacanya sekali, apakah bagi yang faham artinya ? Rosulullah bersabda, tidak , bahkan tiap-tiap orang yang baca sholawat untukku lupa artinya, Allah memberi pahala seperti gunung dan malaikat mendoakan mereka agar diampuni. Adapun bagi orang yang membaca sholawat artinya faham, maka tidak ada mengetahui pahalanya kecuali Allah.

Soal : Apakah memasuki agama Islam membutuhkan saksi ?

Jawab : Ya, seperti dalam firman Allah dalam surat Al Fath ayat 8, artinya :”Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan(bagi ummat yang tidak mau menjalankan perintah Kami).”

Soal : Berapa rukun syahadat ?

Jawab : Ada enam, yaitu

Niat
Orang yang menjadi saksi adalah para Nabi, para Wali dan orang muslim.
Yang disaksikan adalah Allah dan Rosul.
Orang yang disaksikan yaitu orang yang musyrik pada Allah dan mengingkari kepada Rosul-Nya.
Perkara yang disaksikan yaitu tetapnya sifat ketuhanan dan keesaan Allah.
Bentuk ucapannya yaitu dengan lapadz asyhadu atau terjemahnya, tidak di bolehkan dengan kata lainnya.
Soal : Berapa yang membatalkan syahadat tauhid ?

Jawab : Hal-hal yang membatalkan syahadat tauhid ada enam yaitu

Ragu-ragu adanya Allah swt.
Ragu-ragu tehadap keesaan Allah.
Ragu-ragu terhadap ciptaan Allah.
Ragu-ragu terhadap kitab Allah.
Ragu-ragu terhadap adanya hari akhir.
Ragu-ragu terhadap takdir Allah.
Soal : Berapa hal yang membatalkan syahadat rasul ?

Jawab : Ada empat hal yaitu :

Ragu-ragu tehadap risalah Rosulullah.
Ragu-ragu terhadap sabda Rosulullah.
Ragu-ragu tehadap perintah Rosulullah.
Ragu-ragu terhadap kebenaran Rosulullah.
Soal : Berapakah sempurnanya Iman/ syahadat ?

Jawab : Tiga hal kesempurnaan Iman yaitu :

Mengucapkan dengan lisan.
Membenarkan dalam hati.
Melaksanakan dengan badannya, seperti mengerjakan sholat lima waktu dan semacamnya juga mengikuti sunnah Nabi.
Barangsiapa yang tidak mau mengucapkan syahadat dua, maka orang itu masih dalam ketetapan hukumnya kafir. Dan barangsiapa tidak membenarkan adanya Allah satu dan tidak membenarkan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah maka orang itu munafik. Allah akan mengekalkan dalam neraka selama-lamanya. Barangsiapa yang tidak melaksanakan perintah, maka orang itu disebut orang fasik. Barang siapa yang tidak mau mengikuti sunnatun nabi maka orang itu disebut ahli bid’ah, orang yang sesat wajib baginya bertobat. Adapun sunnah itu ialah mengikuti Nabi dan Ahli Baitnya.

Maka wajiblah bagi orang yang batal akan syahadatnya (keislamannya) segera mengulang kembali dua kalimat syahadat.

Rosulullah saw bersabda : barang siapa mengucapkan kalimat tauhid maka keluarlah dari mulutnya burung hijau yang mempunyai dua sayap berwarna putih dengan hiasan intan dan yaqut, burung itu naik ke langit dengan suara yang mendengung dibawah arsy laksana suara tawon/lebah. Burung itu disuruh diam tetapi tidak mau diam,burung itu berkata aku tidak mau diam ya Allah, sebelum Engkau mengampuni dosa sahabatku. Kemudian Allah mengampuni dosa orang yang membaca kalimat tauhid itu. Sesudah Allah mengampuni dosanya , Allah menjadikan burung menjadi 70 lisan yang semuanya meminta ampunan kepada Allah untuk orang yang membaca kalimat tauhid sampai hari kiamat. Setelah tiba hari kiamat burung itu mendatangi orang yang mengucapkan kalimat tauhid kemudian burung itu menuntun dan menunjukannya ke surga. (Tanqihul Qaul hal.19)

Berkata sebagian dari para ulama, bahwa kalimat tauhid itu ada dua belas hurup , maka tidak boleh tidak padanya dua belas fardlu yaitu: enam didalam dan enam diluar. Yang diluar yaitu: bersuci/ thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, jihad(berperang dijalan Allah). Adapun yang enam didalam yaitu : tawakal, pasrah, sabar, ridho, zuhud, dan taubat.

Adapun yang dimaksud jihad adalah berperang atau memerangi orang yang mencegah agama Islam, disebut jihad kecil dan memerangi hawa nafsu disebut jihad akbar.

Tawakkal adalah tenangnya hati kepada Allah, terhadap perkara yang tidak mampu dikerjakannya.

Pasrah adalah menyerahkan seluruh perkara kepada Allah swt, dan itu lebih tinggi tingkatannya dari tawakkal.

Sedangkan zuhud adalah tidak mengandalkan apa yang ada pada manusia, tetapi lebih mengandalkan apa yang dikehendaki Allah swt. Bukanlah zuhud apabila meninggalkan halal demi menundukan harta.

Fadlilah membaca istigfar.

Dari Ibnu Abbas ra : Barang siapa membaca istigfar maka Allah menjadikan setiap kesedihan menjadi kegembiraan dan setiap kesulitan mendapatkan jalan keluar, dan Allah memberi rizki tanpa sangkaan lagi (HR. Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, Hakim)

Nabi saw bersabda : Setiap penyakit ada obatnya, adapun dosa obatnya istighfar (Tanqihul Qoul hal.32)

Keutamaan membaca surat yasin

Nabi saw bersabda : Setiap perkara mempunyai hati, hatinya qur’an adalah surat yaasin, barang siapa membaca surat yaasin sekali maka Allah menuliskannya sepuluh kali.

Nabi saw bersabda : “Dimana ada orang muslim dan muslimat dibacakan keduanya surat yasin , sedangkan mereka dalam keadaan sekaratul maut, maka Allah menurunkan atasnya, tiap-tiap satu hurup sepuluh malaikat,malaikat tersebut berdiri dimukanya dengan berbaris, memohon rahmat dan ampunan Allah kepadanya , dan menghadiri dimandikannya serta melayat jenazah orang tersebut sampai ke kuburan.”

Keutamaan surat waqi’ah

Ibnu Mas’ud berkata: sesungguhnya aku mendengar Nabi saw bersabda : barang siapa yang membaca surat waqiah setiap malam, maka orang tersebut tidak pernah terkena fakir selamanya(Tafsir Sowi, juz 4 no 152)

(Draft tulisan pa Bukhori th 2003 dari masayih)

Dikirim pada 01 Oktober 2012 di asysyahadatain


Kemaksuman dan Wahyu bagi Guru Mursyid

Kemaksuman adalah kualitas bathin akibat pengendalian diri yang memancar dari sumber keyakinan, ketakwaan dan wawasan yang luas. Sifat bathin yang sangat kuat ini begitu efektif sehingga mampu menghalangi manusia untuk melakukan semua jenis dosa atau pemberontakan, baik besar maupun kecil, baik tersembunyi maupun terbuka.

Maka dapat kita katakan bahwa faktor-faktor yang mengarahkan kepada pengingkaran dan dosa tidak memiliki efek pada orang seperti itu, sehingga maksum disini lebih menekankan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih dan berbuat, tapi ia dicegah untuk mendekati wilayah dosa oleh kesadaran dari sifat agungnya dan hadirnya Allah secara terus-menerus.

Umumnya melakukan dosa adalah akibat dari tidak mengetahui buruknya perbuatan tersebut dan konsekuensinya atau orang sadar akan buruknya , dan keyakinannya memperingatkan dan menasehati akan bahayanya perbuatan itu, namun ia terus ditopang oleh keinginannya (nafsu/angan)sampai kehilangan semua diri, sehingga jatuh dalam perbuatan dosa. Sehingga diperlukannya perhatian terhadap konsekuensi dari perbuatan seseorang, meningkatkan ketakwaan, dan pemahaman secara sempurna tentang kepatuhan terhadap hukum Allah, maka akan menciptakan kemaksuman tertentu dalam diri manusia ,setelah itu tidak lagi dibutuhkan sarana pengendalian dan kontrol diri.

Orang-orang akan tunduk secara total terhadap tuntunan-tuntunan guru mursyid mereka dan sepakat menerima perintahnya ketika mereka menganggap semua perintah itu sebagai perintah dari Allah, tanpa ada ragu sedikitpun dalam persoalan ini. Jika seseorang tidak benar-benar terjaga dari dosa, apakah kata-katanya dapat ditaati dengan penuh dedikasi ?

Dampak kemaksuman adalah seperti itu, sehingga ia melindungi manusia dari tipuan dunia ini dan memungkinkan dia untuk tabah menghadapi semua bentuk gangguan.

Kemaksuman ini tidak bisa hanya dibatasi pada periode yang didalamnya sudah benar-benar jadi mursyid, namun dalam hidupnya , termasuk periode sebelum menjabat mursyid, hatinya harus bebas dari semua kegelapan dan kepribadiannya terbebas dari dosa. Disamping kenyataannya perbuatan dosa menyebabkan hilangnya martabat manusia , orang-orang selalu menganggap berlanjutnya dosa dan penyelewengan yang telah mereka ketahui dia lakukan dimasa silam, sekalipun hanya yang kecil-kecil saja. Tuduhan ini pada gilirannya akan merampas kemursyidan seseorang , karena ia tak lagi dianggap tauladan ketakwaan dan kesucian. Karena kenangan pahit tentang kehidupan yang sebagiaanya dihabiskan dalam dosa tidak akan pernah bisa dihapus.

Sehingga syarat pertama pertama dan utama untuk jabatan mursyid adalah kesucian bathin, ketakwaan yang mendalam, dijaga oleh Allah dari melakukan dosa (maksum/mahfudz) dan memiliki hati yang sangat baik sebelum dan sesudah terpilih untuk menjabat sebagai mursyid, serta ia merupakan keturunan Nabi saw.

Karena sesungguhnya Allah telah menguraikan ayat kesucian dan karakter khas mereka sebagai berikut:

“Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu{1216} dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(al Ahzab;33)

Kebenaran dan kemaksuman mursyid termanifestasi dalam ucapan, perbuatan, dan pemikiran karena pengetahuan mereka sebagai akibat dari wahyu atau ilham.

Wahyu/ilham ini tidak akan berhenti hanya dalam fase kenabian saja, namun tetap berlanjut kedalam fase setelahnya (fase kemursyidan).

“dan berita tentang tidak ada wahyu setelahku(setelah nabi Muhammad) adalah salah, dan berita yang masyhur bahwa sesungguhnya Jibril tidak turun ke bumi setelah wafatnya Nabi saw, adalah tidak ada dasar hukumnya”(Fatawil hadisiyah;129)

Dari kutipan kitab tersebut menjelaskan akan adanya wahyu setelah kenabian Muhammad saw. Karena pada dasarnya wahyu adalah ilham atau petunjuk Allah kepada hambaNya yang istimewa. Seperti halnya wahyu atau ilham yang disampaikan Allah sebagai berikut:

“dan wahyu menurut arti bahasa adalah mendapatkan ilham yang lembut bagi manusia seperti halnya wahyu kepada ibunya Nabi Musa( dan aku wahyukan kepada ummi Musa; susuilah dia/musa-alQosos;7)”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa wahyu/ilham bukan hanya terbatas pada para nabi saja melainkan kepada orang-orang yang diistimewakan oleh Allah bisa terjadi khususnya kepada Guru Mursyid, karena ia ditugaskan oleh Allah untuk membimbing ummat dengan berdasarkan petunjuk al-quran. Dari keterangan tersebut kita juga dapat memetakan bahwa term wahyu dikhususkan untuk para Nabi, sedangkan term ilham dikonotasikan untuk para wali Allah.

Penafsiran makna batin dari al-Quran adalah pengetahuan yang berasal dari dunia tak nampak; dengan kata lain ia bukan pengetahuan yang bisa diperoleh melalui cara-cara konvensional. Penasiran sesungguhnyahanya bisa diperoleh dari karunia Allah swt, Al Quran menyatakan:

Dialah yang menurunkan Al-kitab(Al Quran) kepada kamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat –ayat mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal .

Penutup

Allah sajalah yang berhak memilih seseorang sebagai guru umat manusia dan pembimbing ummat., untuk menjelaskan hukum-hukum-Nya, untuk menginterpretasikan masalah-masalah kompleks dalam AlQuran, dan untuk mempertahankan kebenaran dan mengembangkan kepribadian ummat. Allah mempercayakan jabatan ini kepada orang istimewa dan memiliki sifat maksum/mahfudz yang benar-benar unik dalam kualitas spiritualnya, atribut lahir batinnya serta komunikasi dengan dunia yang tersembunyi. Orang seperti ini memahami kebenaran batin dari sesuatu dengan mata batinnya, ia selalu menghadap pada kebenaran dengan cara yang sedemikian rupa, keyakinannya tidak pernah menyeleweng dan perbuatannya tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran, karena segala sesuatunya atas kehendak Allah swt. Sehingga guru Mursyid adalah orang yang termulya dimasanya , yang paling unggul dari sahabat seangkatannya.

LAMPIRAN

“Semoga rahmat Allah ditetapkan bagi para khalifahku. Beliau ditanya : siapakah para khalifahmu tuan? Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah” (Raudhatul Muhadditsin , hadits ke 4928)

“Nur Rosulullah yang terpilih pimpinan manusia, berpindah ke punggung nabi Adam. Nur itu lebih terang dari pada rembulan. ”(madarijus su’ud hal 4)

“Dan ketahuilah bahwa Muhammad saw, memberikan kepada semua nabi dan rosul kedudukan-kedudukan atau derajat-derajat mereka dialam arwah sampai ia diutus dengan rupa jasadnya(dialam dunia ) dan kita mengikutinya. Dan secara hukum dapat dipertemukan dengan beliau diantara para nabi,orang-orang yang menyaksikan Beliau, atau turun sesudah beliau. ”(Khazinatul Asror 194)

Mudrik menadzomkan sebagai berikut:

Sapa wonge nemu guru sifat papat – Gandulana poma-poma ingkang kuat

Ingkang dingin sifat ipun mu’ayyidin—Nguwataken ing agama kalawan yakin

Ingkang kapindo sifat ipun zahidin – Ora jejaluk ing manusa sarta jin

Ingkang kaping telu sifat ipun musyfikin—Kang makani ewon-ewon akir miskin

Kang kaping pat ru’afa lil mu’minin – Kang muruki wong bodo sahingga yakin

Mungguh kula iku abah umar—Ingkang muruki sahadat ora samar

Dikirim pada 20 Agustus 2012 di asysyahadatain


Guru Mursyid Sebagai Pemimpin Umat 1 (seminar di kudus)

Pendahuluan

Guru Mursyid / Imam adalah pemimpin dan teladan masa yang membentuk ummah (masyarakat). Guru disini adalah orang yang terjaga dari dosa (Mahfudz) yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai penerusnya atas perintah Allah.

Imamah (Khalifah) dan ummat menurut pendekatan sosiologi adalah istilah yang tidak terpisahkan, karena ketiadaan imamah menjadi sumber munculnya problem-problem ummat, dengan demikian imam/guru adalah mursyid, insan kamil, dan syahid (saksi) karena tanpa adanya mursyidmaka umat manusia akan mengalami disorientasi (kehilangan arah) dan alienasi (keterasingan).

Dalam pandangan ilmu tasawuf guru Mursyid mempunyai peranan besar dalam membentuk manusia ketingkat realisasi tertinggi dalam menempuh perjalanan spiritual, karena dimensi al-Quran telah tertanan dalam dirinya. Hanya saja persoalan ini jarang dikupas dan diteliti karena guru mursyid hanya dimengerti oleh hati yang terbuka dan jiwa yang telah disucikan.

Guru Mursyid sebagai Keharusan Rasional

Ia adalah seorang guru yang mendapatkan nur Ilahi sehingga ia dapat dikatakan sebagai guru mursyid , dan kata mursyid tersebut dapat diartikan sebagai nur ilahi.

Cahaya diatas cahaya. Tuhan akan menuntun cahaya Nya , siapa yang dikehendaki-Nya(Qs. An-nur;35)

Jadi hakekatnya mursyid itu tidak berwujud, akan tetapi setelah masuk kedalam rumah wujud barulah ia memiliki rumah wujud barulah ia memiliki wujud. Dan Mursyid itu tidaklah banyak, yang banyak adalah badan ragawi yang disinggahi, ibarat pancaran sinar matahari yang masuk ke berbagai lubang sehingga kelihatannya banyak namun pada hakikatnya satu. Dan untuk dapat bermanfaat dalam mendekatkan diri kepada Allah maka nur tersebut harus dimasukan kedalam jiwa (bukan kedalam akal dan pikiran).

Memasukan Nur Ilahi kedalam diri tentu tidaklah mudah harus ada metodologinya, dan metodologi itu ada dalam tarekatullah yang hak dan harus melalui petunjuk seorang guru yang Mursyid, (setelah itu barulah manusia dapat ber-tajalli dengan Tuhan) karena guru mursyid adalah kholifah rosul yang mampu mengajarkan segala sesuatu yang telah diwariskan oleh Rosul (Raudhatul muhadditsin hadits ke 4928) yang secara historis dan dalam konteks ilmiah mewarisi Nur Ilahi secara langsung dari Rosulullah saw.(Khazinatul asror hal.194 dan Madarijussuud hal.4)

Keutamaan Berguru

Salah satu fungsi dan sifat guru adalah menyebarluaskan bimbingan bathin kepada manusia. Ini bukanlah sekedar bimbingan lahir dalam persoalan –persoalan hukum dan syariat, ini adalah posisi (maqom) yang agung dan mulia, yang telah dilimpahkan Allah kepada orang pilihan diantara mahluk-Nya, orang pilihan ini dapat mempengaruhi pemikiran dan kehidupan bathin manusia. Mereka menerangi ummat dengan pengetahuan bathin dan membantu mereka untuk memperhalus jiwa dan perjalanan bathin nya, maka menjadi kewajiban manusia untukmengikuti dan menyatukan dirinya dengan mereka melalui bimbingan yang disediakannya, sehingga mencegah manusia agar tidak terjerumus kedalam lubang keinginan intuitif dan kecenderungan terhadap penyelewengan-penyelewengan bathin.

Mursyid adalah orang yang menduduki posisi tertinggi dalam kehidupan spiritual, dan dipercaya untuk mengemban tugas pembimbingan spiritual, ia adalah saluran kasih sayang Allah yang mengalir kepadanya berkat pancaran supra sensible(diatas jangkauan indra). Al-quran menghususkan kondisi jabatan imam dengan pernyataan:

“Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin –pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.(As-Sajdah;24).”

Kami tekah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah kami wahyukan kepada mereka , mengerjakan kebaikan , mendirikan sholat menunaikan zakat dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah(Al Anbiya;73)

(Ingatlah) suatu hari (yang dihari itu) Kami panggil tiap ummat dengan pemimpinnya dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya ditangan kanannya ,maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikitpun(Al-Isro;71)

Dan (ingatlah) ketika Ibrohim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrohim menunaikannya . Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ” Ibrohim berkata :“(dan saya mohon pula) dari keturunanku”. Allah berfirman “janji- Ku ini tidak mengenai orang yang zalim”.(Al baqoroh;124)

Kesimpulannya ayat-ayat tersebut mengidentifikasikan bahwa imamah/khalifah adalah ikatan ilahiyah yang hanya diberikan kepada oorang-orang yang dikehendaki Allah yang dalam hal ini keturuna Ibrohim as. Tidak diragukan lagi bahwa hamba Allah yang paling sempurna diantara keturunan ibrohim as adalah Nabi Muhammad saw, dan para imam yang ma’sum/mahfudz sehingga mereka dianggap sebagai imam yang diberi kepercayaan dengan tugas bimbingan bathin dan pengetahuan Ladunny.

Syeh Abu Yazid busthami memberikan pandangannya tentang kewajiban berguru

“Abu yazid Al Busthami berkata: barang siapa yang tidak memiliki guru. Maka gurunya adalah syetan. Dan berkata Abu Said Muhammmad Al Khadami: barang siapa yang tidak memiliki guru maka ia akan ditundukan oleh syetan ”(khozinatul Asror.189)

Didalam Al-Quran pun diceritakan bahwa Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir as, hal ini memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya berguru dengan patuh dan taat atas apa yang diperintahkan oleh guru, sabar adan istiqomah dalam mengikutinya.

Musa bekata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang diajarkan kepadamu?”(Al Kahfi;66)

Guru Mursyid sebagai Wasilah kepada Allah

Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya , dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan(al Maidah;35)

Ayat ini berisi perintah bahwa manusia wajib mencari dan menemukan wasilah Allah. Menurut versi sufi wasilah dalam ayat ini bermakna Nurun ‘ala Nur, karena ia membawa peranan untuk menghantar, menuntun jiwa/rohani manusia yang telah disucikan agar sampai kehadirat-Nya.

Kalau Rosulullah menggunakan Buraq sebagai washilah untuk dapat mencapai kehadirat Allah, berarti kita pun harus memakai washilah. Washilah Allah itu telah tertanam dalam diri Rosulullah saw, maka untuk mendapatkannya salah satunya adalah dengan menggabungkan rohani suci Rosulullah melalui saluran rohani seorang guru mursyid.

“dan berdasarkan riwayat dalam hadits tetaplah kamu bersama Allah dan jika tidak, maka tetaplah bersama orang yang selalu bersama Allah . Sesungguhnya ia akan menghantar kamu kepada Allah , jika kamu terus bersamanya.”

Jadi titik berat daripada ajaran tasawuf adalah mewajibkan penganutnya untuk memiliki wasilah Allah sebagai kendaraan rohani agar dapat berhubungan dengan segala hal yang berhubungan yang berkaitan dengan asfek rohaniah bukan yang bersifat jasmaniah.

Diri rohani para Nabi dan Rosul., para Wali Allah, serta rohani orang-orang mukmin sudah pasti dipenuhi oleh energi Ilahi yang mempunyai kekuatan dan getaran yang maha tinggi . kekuatan ini satu-satunya yang mampu menghadang kekuatan iblis dalam diri dan menghadang api neraka.

Manusia harus berjuang melalui jalan tarekatullah bila hendak mendapatkan energi ilahi tersebut , disamping itu harus memahami hakekat dari dimensi jasmani dan rohani,. Sebab tertibnya rukun dan syarat berkaitan dengan jasmani belum bisa dikatakan cukup untuk mendapatkan energi ilahi tersebut , akan tetapi masih memerlukan sisi lain yang berhubungan dengan rohani , rahasia ini ada dalam diri guru mursyid.

Kriteria Guru Mursyid

Tidak mudah untuk menyandang predikat guru mursyid kalau bukan Allah sendiri yang menunjuknya . Secara khusus para ulama memberikan kriteria atau ciri-ciri guru mursyid sebagai berikut:

“Syarat-syarat guru yang patut menjadi pengganti Rosulullah adalah:

Mengikuti seorang guru yang dapat melihat (dengan hati ) yang menyambung sanadnya sampai kepada Rosulullah , sang pemimpin dua mahluk (jin dan manusia )”
Harus ‘alim(menguasai ilmu dzahir dan bathin) , sebab orang yang bodoh tidak bisa menjadi penunjuk kebenaran .
Selalu berpaling dengan kecintaan kepada dunia dan kedudukan.
Selalu dapat melatih jiwanya.”(Khozinatul Asror hal.194, lihat pula kitab Tanwirul Qulub hal.525)
“Dan Ulama memilih untuk berguru kepada imam-imam Muayyidin (yang menguatkan)agama Allah dengan nur pengawasannya , yang zuhud (zahidin) terhadap dunia /harta, yang mengasihi (Musyfiqin) orang-orang miskin, yang lembut dan kasih sayang (ru’afa) kepada orang mukmin yang lemah . Maka barang siapa yang menemukan seseorang yang bersifat seperti sifat ini pada zaman yang sangat sedikit kebaikannya ini, maka berpegang kuatlah dan belajarlah kepadanya , karena sesungguhnya ia itu tiada duanya ”.(4)

“Maka barang siapa (guru) yang tidak menyambung silsilahnya sampai kepada Rosulullah, maka sesungguhnya ia terputus dari limpahan (barakah/rahmat) dan ia bukan pewaris Rosulullah saw , dan kita tidak boleh mengambil bai’at dan ijazah darinya dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani dari Abdullah bin Bishr ra. Bahwa sesungguhnya ia berkata Rosulullah saw ,bersabda: Alangkah bahagianya orang yang melihatku dan beriman kepadaku, betapa bahagianya orang yang melihat orang-orang yang melihatku, dan alangkah bahagianya orang yang melihat orang-orang yang melihat pada orang yang melihatku dan beriman kepadaku, alangkah bahagianya mereka,dan bagi mereka tempat kembali yang baik. Maka dari itu berlaku pengaruh-pengaruh para guru terhadap murid-murid mereka dan hal ini berjalan terus sampai akhir zaman. Sebab sanad dalam hal sama dengan sanad dalam hukum ” (Khozinatul asror hal 188-189)

Dikirim pada 20 Agustus 2012 di asysyahadatain


Ketika kesabaran berada pada titik terendah, kadang terpikir oleh saya “Alangkah baiknya kalau saya hanya berupa tanah”, atau mungkin “Andai saja saya tak dilahirkan ke dunia ini”. Hal yang sama terekam dalam surat maryam:23, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Kalau tak salah Sayidina Abu bakar RA , juga pernah berucap, #“ Saya berharap hanya menjadi setumpuk rumput yang dimakan ternak”. Atau hal yang hampir serupa dengan ungkapan Sayidina Umar bin Khattab RA, ketika menjelang wafatnya, saat sedang wukup, beliau membuat gundukan seperti makam samba berdo’a #“ Ya Allah telah berkurang kekuatanku, sedang rakyatku sudah tersebar luas, panggillah aku dalam keadaan tidak lalai”.

Kalau saya tak salah dalam al qur’an, ungkapan cobaan disebut dengan “sedikit ” , sedangkan nikmat disebut dengan jumlah “yang tak terhingga”, mungkin ini patut saya renungkan perbandingan antara cobaan yang sedikit dengan nikmat yang tak terhingga. # Dalam Al hikam disebutkan bahwa di aherat nanti manusia berharap, di dunia diberi cobaan dengan dicincang tubuhnya, mengingat besarnya pahala sabar. Tadi malam saya lihat berita 5 Mahasiswa Maroko yang berdemo dengan membakar diri. Naudzubillah, saya sih nga mau seperti itu sih. Mungkin karena putus asa menghadapi tuntutan hidup yang berat. Inilah perlunya kecerdasan spiritual.

Ketika saya pikir lagi, sudah bekal belum cukup, shalat jarang khusyu, sedekah dan amal lain bercampur riya, yang sangat jauh diterima, atau mungkin termasuk tulisan ini. Belum lagi dosa yang menggunung yang belum tentu diampuni. Sedang Umar bin Khathab RA saja ketika menjelang ahir umurnya lalu disebutkan amal-amalnya,# Beliau berharap impas antara amal dan dosanya. Malu dong!. Belum lagi kalau ingat Hadits Nabi SAW yang kurang lebih berbunyi #“ Pada zaman ahir akan datang suatu masa, malam masih beriman siangnya sudah menjadi kafir, siangnya beriman malamnya menjadi kafir”, jangan-jangan saya masuk golongan ini!

Mungkin inilah sebagian faedah dari kalimat Syahadat dua yang diajarkan Syehuna, yang minimal diamalkan 3 kali selesai shalat fardlu. Untuk mencegah saya bolak balik dari muslim ke kafir. Ah ini sih pendapat Si Bodoh, yang cuma bisa mengekor Gurunya. Tapi kalau saya pikir, anjing ashabul kahfi ,yang tak punya pikiran saja, bisa masuk sorga cuma karena mengikuti orang yang diberi petunjuk, mungkin manusia bisa juga.

Saya berharap dengan kalimat Syahadat yang didawamkan, mudah-mudahan bisa meresap, bersama dengan yang saya cintai, selamat sampai akherat.



# tanda ungkapan seingat saya, karena sudah lama tak membaca buku itu, tidak dengan referensi yang valid, insyaAllah akan saya perbaiki. (maap kalau narsis)





Dikirim pada 21 Januari 2012 di asysyahadatain
Profile

berusaha memperbaiki diri dan berharap syafaat para pemberi syafaat More About me

Page

    Sedia DVD ROSETTA STONE/SOFTWARE BELAJAR MULTI BAHASA cuma Rp15.000/DVD hubungi 081324405889!

    Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

    Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

    Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan."(QS. Thoha:124-126)

    “Ya Allah , sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan dari azab neraka ,dari fitnah kehidupan dan setelah kematian dan dari buruknya fitnah Dajjal.(HR. Bukhori -Muslim)”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari lilitan hutang dan orang yang menindas(ku)(HR. Bukhori). ”

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 285.377 kali


connect with ABATASA